Thibbun nabawi atau sekarang sering disebut dengan pengobatan tradisional adalah pengobatan yang dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami dan sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Hadits. Padahal perlu diketahui, bahwa tidak setiap pengobatan tradisional itu Thibbun Nabawi, tetapi sudah pasti pengobatan Thibbun Nabawi itu tradisional.

Ibnu al Qoyyim berkata:

“Pengobatan ala Nabi tidak seperti layaknya pengobatan para ahli medis.  Pengobatan ala nabi dapat diyakini dan bersifat pasti, bernuansa Ilahi, berasal dari wahyu dan misykat nubuwah serta kesempurnaan akal. Pengobatan ala Nabi Muhammad ini disebut juga ThibbunNabawi, yaitu ilmu-imu kedokteran yang

berada dalam bingkai keimanan pada Allah  sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurafat”[1].

Beliau juga mengatakan dalam kitabnya Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibaad bahwa pengobatan cara Nabi SAW memiliki perbedaan dengan pengobatan lainnya.

Pengobatan ini bersandar kuat kepada akidah Islamiyah yang menyatakan bahwa Allah SWT adalah pemilik alam semesta ini. Dan kesembuhan terletak di tangan Allah SWT. Dia yang memberikan kesembuhan kepada manusia. Seperti Firman-Nya:

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Al-Syu’aro’: 80)

Dan dari Abu Hurairah RA, Rasuluulah SAW bersabda:

اللَّهُ دَاءً اِلَّا نُزِلَ لَهُ شِفَاءً أَنْزَلَ مَا

“Bagi setiap penyakit yang diturunkan Allah ada obatnya yang juga diturunkan-Nya.” (HR. Al-Bukhari)

Pengetahuan Nabi SAW perihal kesehatan dan ilmu pengobatan adalah bersumber dari wahyu. Karena itu, beberapa ulama berpendapat apabila ada yang mengecilkan kemampuan Rasulullah SAW dalam pengetahuantentang obat sama saja dengan mengecilkan kebesaran wahyu Allah SWT.

Dalam hukum menggunakan Thibbun Nabawi ini, ada sebagian orang  menganggap bahwa Thibbun Nabawi hukumnya mubah, sebagian lain menganggap sunnah dan bahkan sebagian kecil orang yang berlebihan menganggap bahwa Thibbun Nabawi adalah keharusan yang mutlak, dan jika tidak melakukannya dan tidak menjadikannya sebagai pilihan pertama maka keimanannya dipertanyakan. Padahal banyak orang sakit yang tidak merasakan manfaat pengobatan Nabawi, karena yang bisa mendapatkan manfaat pengobatan Nabawi adalah siapa yang mau menerimanya dengan percaya dan yakin akan memperoleh kesembuhan. Ia menerimanya sepenuh hati, dengan keimanan dan kepatuhan.

Imam al-Ghazaly dalam kitab al-Ulum menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang dianggap fardhu kifayah terdiri atas setiap ilmu yang sangat diperlukan untuk kesejahteraan di dunia ini, seperti pengobatan yang dibutuhkan untuk tubuh, aritmatika untuk transaksi sehari-hari, dan perhitungan waris serta pembagiannya, juga keperluan lainnya.[2]

Obat ala nabi dan obat alami adalah solusi untuk kesehatan yang baik. Ini adalah obat yang dapat menyembuhkan semua penyakit, kecuali kematian. Serta al-Qur’an dan Hadits adalah sumber informsi yang sangat informatif dalam menemukan obat untuk berbagai penyakit.[3]

“Pengobatan thibbun nabawi ibarat pedang yang sangat tajam. Agar pedang tajam itu bermanfaat dan membawa kebaikan, ia perlu berada di tangan orang yang tepat, digunakan dengan cara yang tepat, juga pada saat yang tepat”, pungkas Dr Bahraen  .

[1] http://www.voa-islam.com/read/sehat-nabawi/2012/03/21/18298/mengenal-hakikat-thibbun-nabawi/#sthash.lHsFpvh4.dpuf

[2] Joko Rinanto, Keajaiban Resep Obat Nabi S.A.W.:Menurut Sains Klasik&Modern (Jakarta:Qisthi Press,2015), h.83.

[3] Jerry D. Gray, Rasulullah Is My Doctor (Jakarta:Sinergi,2010),h.13.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me