1. Definisi Makanan Halal

Makanan adalah suatu kebutuhan pokok manusia dan siapapun manusia yang hidup tentu membutuhkan makanan. Sedangkan bagi umat islam tidak semua makanan itu bisa dikonsumsi. Makanan halal adalah makanan yang boleh dikonsumsi oleh umat islam. Adapun yang berhak menghalalkan makanan itu hanyalah Allah dan Rasul-Nya. Adapun halal itu sendiri terbagi menjadi dua :

  • Halal Secara Zat

Halal zatnya berarti makanan itu telah dihalalkan oleh Allah itu sendiri dan makanan itu telah terbukti baik untuk dikonsumsi oleh manusia. Karena zat yang terdapat makanan itu memang dibutuhkan oleh tubuh manusia.

  • Halal Secara Cara Memperolehnya

Makanan yang sudah dinyatakan halal secara zat tidak bisa langsung dikonsumsi oleh umat muslim. Karena, makanan itu harus halal secara cara memperolehnya juga. Makanan yang halal secara zatnya tapi jika diperoleh dengan cara yang tidak halal maka makanan itupun tidak boleh dikonsumsi oleh manusia.

  1. Definisi Makanan Haram

Allah telah memerintahkan kepada seluruh umatnya untuk memakan makanan yang halal dan melarang seluruh umatnya untuk memakan makanan yang haram. Makanan haram adalah makanan yang dilarang dikonsumsi menurut syari’at islam. Alasan Allah melarang umatnya untuk tidak mengkonsumsi makanan haram karena Allah maha mengetahui apa yang baik untuk dikonsumsi oleh manusia dan apa yang tidak baik untuk dikonsumsi manusia.

  1. Contoh Makanan-Makanan Haram

Islam telah menjelaskan secara detail tentang makanan-makanan yang diharamkan syari’at islam. Semua itu merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits, sebagaimana Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang berbunyi :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْدَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْأَزْلَامِ ذَالِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِسْمِ فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝3 (المائدة : 3)

Artinya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah :3)

Berdasarkan ayat di atas dapat kita dapatkan beberapa contoh makanan yang diharamkan oleh Allah SWT, sebagaimana berikut :

  • Bangkai

Pada hakikatnya semua binatang yang mati Karena dipotong oleh manusia adalah bangkai, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :

مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيْمَةِ فَهِيَ مَيْتَةٌ (رواه أبو دود والترمذى وابن ماجه)

Artinya : “apa yang dipotong dari binatang dalam keadaan hidup, maka sesuatu tersebut adalah bangkai”(HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hewan yang mati itu bisa menjadi halal ataupun haram tergantung kepada proses penyembelihannya apabila hewan itu disembelih secara syari’at islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka hewan itu akan halal untuk dimakan. Akan tetapi, apabila proses penyembelihan hewan tersebut tidak sesuai dengan syari’at islam maka hewan itu akan haram untuk dimakan. Adapun hewan mati yang tidak sesuai dengan syari’at islam adalah sebagai berikut :

  1. Hewan yang mati dalam keadaan tercekik.
  2. Hewan yang mati karena dipukul dengan menggunakan suatu benda.
  3. Hewan yang mati karena terjatuh dari ketinggian.
  4. Hewan yang mati karena tertanduk oleh hewan lainnya.
  5. Hewan yang mati karena diterkam oleh binatang buas.

Akan tetapi semua itu tidak berlaku terhadap dua hewan yaitu ikan dan belalang, karena dua hewan itu halal untuk dimakan walaupun sudah menjadi bangkai. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda :

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَدُ وَأَمَّاالدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ (رواه ابن مجاه)

Artinya : “kami halalkan dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tesebut adalah hati dan limpa (HR. Ibnu Majah)

Disamping bangkai itu dilarang oleh agama, jika kita lihat menurut ilmu medis hewan yang mati bukan karena disembelih maka darahnya akan mengendap, dan apabila dikonsumsi oleh manusia akan membahayakan bagi tubuh.

  • Darah Yang Mengalir

Mengkonsumsi darah sebagai makanan atau minuman adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah dahulu, dimana darah dari hewan yang terkumpul ketika mereka sembelih seperti unta maupun hewan lainnya nantinya akan mereka olah menjadi makanan atau minuman. Agar mencegah umat islam melakukan perbuatan tersebut sebagaimanana yang telah diperbuat oleh arab jahiliah. Maka,  Allah melarangnya lewat  firman-Nya yang berbunyi:

قُلْ لَا أَجِدُ فِى مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوْحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝145(الأنعام : 145)

Artinya : “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang-orang yang hendak memakannya, kecuali makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. Karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sesunggunya Tuhanmu maha pengampun lagi maha penyayang (QS. Al-An’am :145)

Berdasarkan ayat diatas darah yang mengalir juga merupakan makanan yang diharamkan untuk dimakan. Tapi apabila darah itu tidaklah mengalir maka tidaklah diharamkan untuk dimakan seperti darah-darah sisa yang masih menempel pada daging maupun tulang hewan yang disembelih tidaklah juga diharamkan.

Berdasarkan ayat di atas bisa kita lihat bahwa makanan-makanan haram itu diperolehkan untuk dimakan apabila dalam keadaan darurat atau terpaksa untuk memakannya dengan syarat tidak berlebihan dan tidak melampaui batas. Sebagaimana bisa kita temukan pada zaman sekarang banyak yang menjadikannya sebagai obat, itu semua diperbolehkan kalau memang tidak ada obat lagi untuk menyembuhkannya.

  • Babi

Semua makanan yang mengandung unsur babi maka makanan itu haram, karena babi tidak hanya diharamkan dagingnya saja melainkan seluruh bagian dari

 

tubuh babi yang diolah menjadi makanan ataupun produk lainnya juga diharamkan syari’at islam.Tidak hanya diharamkan syari’at islam, daging babi juga mempunyai sebab-sebab lain yang menjadikannya haram, diantaranya sebagai berikut :

 

  1. Babi merupakan binatang yang rakus dan tidak pernah Babi dapat memakan segala
  2. jenis makanan yang ada di depannya baik itu kotoran, sampah yang telah membusuk, tanah dan segala yang ada di depannya. Bahkan babi mengencingi kotorannya sendiri lalu memakannya. Dan jika perutnya telah penuh, maka babi akan memuntahkan makanan yang ada di perutnya untuk kemudian dimakannya lagi.
  3. Tubuh babi merupakan inang dari berbagai macam penyakit yang membahayakan seperti Flu burung, Flu babi dan yang lainnya.
  • Hewan yang Bertaring

Rasulullah saw :

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ (رواه مسلم)

Artinya : “Rasulullah saw telah melarang setiap binatang bertaring dari jenis binatang buas dan setiap jenis burung yang berkuku tajam (HR.Muslim)

Hadits di atas menjelaskan tentang diharamkannya hewan yang bertaring dan sebagaimana diketahui bahwa hewan buas pastilah bertaring. Maka dari itu, semua hewan buas diharamkan untuk dimakan. Jadi hewan yang bertaring tapi tidak buas maka hewan itu tetap diharamkan syari’at sebagaimana kita temukan di sekitar kita seperti tikus, kucing, anjing dan yang lainnya.

 

Teza Alfian’s author of article.

Kategori: Artikel

WhatsApp WhatsApp Me