Seringnya kita menangis, bersedih bahkan berkeluh kesah itu menandakan kita bahwa kita ini begitu lemah dan membutuhkan sandaran. Kepada siapa kita bersandar? Diantara kita ada yang bersandar kepada sahabat, kerabat, bahkan kepada media sosial. Inilah kemudian yang menjadi masalah bagi kita. Alih-alih dapat solusi justru masalah baru akan datang. Ruginya kita berkeluh kesah pada sosial media. Diantara kerugiannya adalah orang lain tau aib kita, orang yang benci kita justru akan menterwakan kita dan senang melihat penderitaan kita.

Kita mengadukan kepada makhluk yang notabenya lemah sama seperti kita. Ketika berkeluh kesah, mengadulah kepada Allah. Karena Allah begitu mudahnya memberi solusi pada kita karena Allah Maha penyayang terhadap hambaNya. Ketika kita mengadukan masalah terhadap makhlukNya, itu sama saja kita mengadu terhadap yang tidak memiliki kasih sayang. Berkeluh kesah dan mengadu kepada Allah telah dicontohkan oleh para Nabi terdahulu. Diantaranya Nabi Ayyub AS, Nabi Yunus AS dan Nabi Muhammad SAW.

1. Nabi Ayyub AS
Allah memberinya ujian yang begitu berat berupa penyakit kulit. Penyakit ini tidak berlangsung seminggu, sebulan bahkan setahun. Tapi berlangsung selama belasan tahun, yakni 17 tahun. Tidak hanya itu, anak anak Nabi Ayyub meninggal dunia sehingga menyisakan istrinya untuk merawatnya. Semua ternak dan hartanya perlahan menghilang. Karena penyakit ini pula Nabi Ayyub diasingkan dan dijauhi.

Tidak seperti kita ketika ditimpa musibah. Banyak dari kita menjauh dari Allah, kecewa bahkan marah terhadapNya. Nabi Ayyub justru semakin dekat dan mengadukan permasalahannya ini terhadap Allah. Dalam al-qur’an, Nabi Ayyub berdo’a,

ربي اني مسني الضر وانت ارحم الراحمين

“Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku terkena penyakit dan engkaulah yang Maha Pengasih diantara Maha Pengasih ”

Seletika itu Allah menyuruhnya untuk menghenttakkan kakinya ke tanah lalu kemudian muncullah air dari bawah tanah itu. Nabi Ayyub mandi dan minum dari air tersebut dan hilanglah penyakitnya.

2. Nabi Yunus AS

Nabi Yunus diutus kepada suatu kaum. Namun kaum itu menolak dakwahnya. Mereka terus berbuat maksiat sampai sampai Allah hendak mengadzabnya. Kemudian Nabi Yunus memberitahu mereka bahwa akan ada adzab dari Allah. Namun lagi lagi mereka tidak mendengarkan ucapan Nabi Yunus. Akhirnya, Nabi Yunus marah dan pergi. Beliau menaiki suatu perahu untuk berlayar. Ditengah perjalanan, perahu tersebut hilang keseimbangan karena terlalu banyak muatan. Hingga salah seorang dari penumpang perahu tersebut harus turun. Setelah mengadakan pengundian, muncullah nama Yunus sebanyak 3 kali. Lalu kemduian Nabi Yunus dilemparkan ke laut dan ditelah oleh ikan paus. Allak tidak menyuruh paus itu untuk menghancurkan tulang Nabi Yunus.

Dalam perut paus ini Nabi Yunus bertahan selama 40 hari 40 malam. Dan terus bermunajat kepada Allah SWT hingga lahirlah kalimat indah yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Nabi Yunus berdo’a,

لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين

“Tiada ilah selain Engkau! Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang orang dzalim.”
Mentauhidkan Allah, memujiNya dan mengakui bahwa masalah datang sebab kedzaliman dan dosa dari kita adalah kunci untuk mendapatkan solusi dari setiap permasalahan kita.

3. Nabi Muhammad SAW

Saat dakwah Nabi ditolak oleh kaum Quraisy, Nabi SAW besama Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif dengan berjalan kaki. Sebab jika menggunakan unta, beliau takut kepergiannya dicurigai oleh kaum Quraisy.
Alih alih Nabi disambut oleh orang-orang Thaif justru Nabi SAW dilempari batu hingga berdarah. Disaat itu Nabi berkeluh kesah kepada Allah dan lahirlah kalimat yang begitu indah dari lisannya. “Ya Rabb! Aku mengadu kepadamu akan kelemahan kekuatanku. Dan aku menerima ujian ini asalkan engkau tidak marah kepadaku.”
Nabi punya kekuatan. Namun Nabi sadar kekuatannya begitu lemah sekali. Tak masalah aku mendapat ujian ini asalkan ini bukan bentuk kemarahanMu padaku. Karena kemarahan Allah begitu dahsyat.

Mereka itulah contoh kita, teladan kita yang patut kita ikuti. Saat mendapat masalah hidup, adukanlah kepada yang Maha Pengasih, yaitu Allah SWT. Ketika mengadukan masalah kepada selain-Nya, maka sama halnya kita mengadu kepada yang bukan Maha Penyayang dan sama-sama lemah seperti kita.

Wallahu a’lam.

Helmy Zulnazar’s author of article.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me