Teringat ketika aku masih kecil dulu, aku mempunyai kakak yang sangat perhatian dan tidak merasa iri ketika orang tua selalu membela aku ketika kami bercanda dan akhirnya bertengkar. Aku mempunyai kebiasaan bersembunyi ketika aku sakit perut dan ingin buang air besar, apakah kalian tahu kemana aku bersembunyi? aku bersembunyi di kolong meja, dan ketika sudah tidak tahan lagi ingin buang air besar maka aroma tidak sedap terhirup oleh keluargaku. Lantas ibu curiga dan mencari sumber aroma tersebut, pada akhirnya Ibu menemukanku dan membawaku ke kamar mandi. Lalu aku bertanya, apakah bau kotoran ini bu ? “Ibu berkata Tidak nak, tidak sama sekali” – Kebohongan ibu yang pertama

Aku lebih suka makan ikan daripada ayam, sehingga ibu senantiasa memasak ikan untukku. Suatu ketika aku makan bersama ibu, karena lahapnya aku makan ternyata ikan yang ada di piringku sudah habis sedangkan nasi masih tersisa, lalu ibu menoleh kepadaku dan memberikan potongan ikan yang ada di piringnya. Melihat ibu seperti itu, hatiku tersentuh dan menatap ke wajahnya. Ibu berkata “Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan.” – Kebohongan ibu yang kedua

Sekarang aku sudah masuk sekolah dasar, seperti halnya siswa lain bahwa sekolah mengadakan Masa Orientasi Sekolah (MOS) agar lebih mengenal lingkungan dan sistem pembelajaran di sekolah. Kelompok MOS sudah dibagikan, dan aku mendapat bagian membuat topi terbuat dari kardus. Selepas pulang sekolah, aku segera mengabarkan kepada ibu bahwa aku mendapat tugas untuk esok hari. Ba’da Isya kami membuat topi berbahan kardus yang disesuaikan dengan ukuran kepalaku, tidak sadar ternyata mulutku menguap dan ibu segera menutup dengan tangannya, lalu berkata “Tidurlah nak, ibu tidak mengantuk.” – Kebohongan ibu yang ketiga

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menungguku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri keringat, aku segera memberikan gelasku untuk diminum ibu. Tetapi ibu berkata “Minumlah nak, ibu tidak haus.” – Kebohongan ibu yang keempat

Pesantren menjadi tempat tinggal kedua setelah rumahku, setelah lulus sekolah dasar aku masuk ke pesantren. Berbeda dengan santri baru lainnya, wajah ini tidak terbasahi oleh tangisan mata karena aku tahu keluarga menyimpan suatu harapan kepadaku dan aku harus membuktikan dan menjadi anak kebanggaan keluarga. Hari ini adalah hari aku dijenguk oleh ibu. Kemarin aku menelepon kakak, beliau bilang bahwa di rumah sedang banyak pengeluaran, sehingga aku menjadi malu untuk meminta uang kepada ibuku sekarang. Lalu aku bilang ke ibu bahwa uangku masih ada tetapi ketika ibu ingin pamit pulang, ternyata ibu memberikan uang kepadaku, lalu berkata “Ini uang untukmu nak, ibu masih ada uang.” – Kebohongan ibu yang kelima

Setelah lulus pesantren, aku diberi amanah untuk mengabdi sehingga kuliahku tertunda karena tugas yang mulia ini. Wali pengabdian diundang oleh pimpinan pesantren dalam acara “Silaturahmi Pimpinan Pesantren dengan Wali Pengabdian”, acara sakral karena terdapat penanda tanganan wali pengabdian atas merelakan anaknya untuk mengabdi di pesantren. Tak terasa satu bulan berjalannya program pengabdian yang aku lakukan, diawal bulan aku mendapatkan honor pertama kalinya dari Bidang Keuangan Pesantren. Aku pun pulang untuk menemui ibukku dan menyerahkan amplop yang berisi honor pengabdian kepada ibu, tetapi ibu berkata “Saya tidak perlu uang”. – Kebohongan ibu yang keenam

Kakakku yang sangat perhatian, kini sudah tiada disebabkan pembuluh darah yang ada di kepalanya pecah, sehingga aku menjadi anak pertama yang mempunyai satu orang adik perempuan. Setelah masa pengabdian, aku mulai mendaftar ke berbagai universitas dalam negeri maupun luar negeri. Teman-temanku banyak yang mendaftar ke Universitas Islam Madinah, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, dll. Aku sadar jika aku pergi untuk mencari ilmu ke luar negeri, maka aku meninggalkan ibuku dalam waktu yang lama. Suatu malam aku bercerita kepada ibu tentang keinginanku belajar di luar negeri, ibu berkata “Ibu masih ada adikmu nak, pergilah kau untuk belajar.” – Kebohongan ibu yang ketujuh

Pesan :
Wahai pembaca, mari kita berpikir sejenak. Sudah berapa lama kita tidak menghubungi ayah dan ibu? Kapan terakhir kita menghubungi ayah dan ibu? Mereka di rumah menunggu kabar kita yang sedang mencari ilmu di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ini, apakah di tengah kesibukan ini kita tidak begitu sempat menghubungi mereka?
Kita selalu mencari alasan agar tidak pulang ke rumah dan lebih sibuk memilih bersama pasangan kita, bahkan lupa keberadaan ayah dan ibu kita yang berada di rumah sangat mempedulikan kita. Apakah kita pernah risau akan kabar orang tua kita? Apakah kita pernah risau akan orang tua perihal sudah makan atau belum? Sangat berbeda jika dibandingkan dengan pasangan kita, pasti kita lebih peduli dengannya. Kita risau jika pasangan kita tidak memberi kabar, kita risau jika pasangan kita belum makan.
Penulis berharap dengan kisah ini dapat menjadikan kita sadar bahwa pentingnya menghormati orang tua kita jika masih hidup, dengan cara memberi kabar kepada mereka itu pun sudah cukup karena memberi ketenangan hatinya dalam memikirkan keadaan kita yang jauh dari orang tua.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me