Pantai Boto Rubuh, Yogyakarta, 27 Mei 2017

Birunya lautan yang terlihat jelas di siang hari, langit bersih tanpa awan membuat pemandangan saat terik matahari perlahan masuk ke dalam permukaan laut nampak menakjubkan, hamparan pasir putih serta ribuan batu karang menjulang bagaikan kristal, jauh dari pandanganku anak pertamaku Hafidz serta suamiku, mereka sedang asyik berlari-lari dipinggir pantai, tampak kebahagiaan terpancar pada dirinya, seakan-akan terik matahari yang menembus kulit, ombak yang terus melambai menghampiri pesisir pantai, gulungan pasir putih yang terus menderai tak menyurutkan kebahagiaannya. Aku yang kelelahan setelah melalui perjalanan jauh dengan jalanan yang berkelok hanya mampu terkulai diatas hamparan pasir beralaskan tikar dan berpayung teduh . Di deretan batu karang tampak Nenek dan Kakek dari anakku sedang asyik berburu tangkapan, beliau sangat gemar memancing, ku biarkan mereka sibuk dengan keasyikannya, sedang aku beristirahat sembari mengumpulkan energi.

Perlahan, angin terus melambai lembut menghampiriku, membawa lamunanku mengingatkanku akan peristiwa 11 tahun yang lalu, kala bencana besar melanda kota ini, meluluh lantakkan segalanya, menelan banyak korban jiwa dan juga merenggut pahlawan terkasihku.. Ibundaku, peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 yang berkekuatan 5,9 skala Richter adalah peristiwa yang tak pernah mampu ku lupakan.

Miris rasanya mengingat kembali hal itu, ingin rasanya hati menjerit tak terima, namun apalah yang dapat ku lakukan, makhluk lemah sepertiku hanya mampu berharap dan berdo’a semoga ibunda tenang dialam sana, semoga ibunda berada disisi Tuhannya. Aku selalu berharap kelak kami sekeluarga dapat berkumpul di Syurga Allah, namun akankah hal itu akan terjadi dengan Ibu yang berbeda keyakinan dengan kami. Ya Allah..hamba mohon, sebagai anak..hamba ingin ibu diberikan balasan yang terbaik setelah cinta kasihnya, perjuangannya yang telah membesarkan dan melindungiku.

Seketika air mataku menetes, jatuh membasahi jilbab merah mudaku, menyadari ke-khilafanku, mengenang masa laluku yang jauh dari kebenaran, kesenangan yang telah membutakanku, kejahilan yang tak tahu akan kebenaran dan kebathilan. Sampai bencana itu datang hingga kehadiran ayah yang telah mampu merubahku menjadi lebih baik dan membimbingku untuk ber-“Hijrah”.

Mari ku ceritakan bagaimana aku mampu ber-“Hijrah” dan terus menjadi lebih baik.

Namaku Merlyna, jauh sebelum ini aku bukanlah seorang Muslim, bahkan aku adalah pemeluk Katholik taat yang tidak pernah meninggalkan setiap kegiatan di Gereja. Aku terlahir di Hongkong, hal ini terjadi karena keyakinan orangtuaku yang berbeda, Ayah adalah seorang Muslim bahkan anak dari seorang Kiayi Pesantren dan ibu pemeluk Katholik. Perbedaan keyakinan tak menyurutkan keinginan mereka untuk menuju mahligai rumah tangga. Kedua pihak keluarga tak ada satupun yang setuju, karena ini tentu akan mempertaruhkan keimanan. Namun saat cinta sudah singgah, maka sangatlah sulit untuk memisahkannya. Akhirnya mereka tetap bersikukuh dan memutuskan untuk menikah dan menetap di Hongkong. Sebelum pergi, Ayah berjanji pada keluarganya bahwa ia  akan berhasil mengajak dan membina istrinya untuk menjadi seorang Muslimah.

Tepatnya saat aku berusia lima tahun ayah pulang ke Jakarta, kakek dari ayahku mengalami stroke berat, selama beberapa bulan ayah menemaninya hingga akhirnya kakek dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mas Irwan, adik ayah menyampaikan keinginan kakek agar ayah menetap kembali di Jakarta untuk turut membantu membina para santri di Pesantren yang telah sejak lama dibesarkan oleh orang tuanya.

Setelah menyadari pentingnya wasiat itu, akhirnya Ayah memutuskan untuk mengajak kami sekeluarga tinggal di Pesantren. Suasana pesantren yang kental dengan keislaman membuat Ibu tidak betah. Akhirnya Ayah memutuskan untuk membeli rumah di tempat yang jauh dari Pesantren itu berada, namun lama kelamaan Ibu memutuskan untuk menggugat cerai ayah, karena merasa keberatan dengan yang dijalninya saat itu. Hak asuhku ada pada Ibu dan aku dibawa Ibu ke kampung halamannya di Yogyakarta. Disinilah Ibu kembali lagi pada keluarganya, setiap ada kegiatan peribadatan di gereja aku selalu diajaknya. Hingga aku memenuhi kewajibannku sebagai pemeluk Katholik.

Kejadian 27 Mei 2006, bencana besar yang tak terduga, kala itu pukul 05.55 WIB aku dan ibuku masih terlelap di tempat tidur, saat gempa itu datang Ibu kaget dan terbangun, menarikku dan membawaku keluar rumah, menyuruhku untuk segera lari ke jalan yang luas. Namun setelah itu, Ibu masuk kembali ke rumah untuk membawa nenek yang sudah kesulitan berjalan. Namun gempa itu terus mengguncang setiap bangunan, hingga mampu meruntuhkan bangunannya dan ibu serta nenekku masih berada di dalam rumah. Setelah gempa itu usai ku panggil-panggil namanya, namun tak kunjung ada jawaban. Setelah tim evakuasi datang ternyata memang benar mereka ditemukan tertimpa bangunan dan sudah tak bernyawa lagi.

Usiaku enam belas tahun saat aku menyaksikan kejadian pilu itu. Setelah kejadian itu, tinggallah akulah seorang diri, aku sudah tidak tahu keluarga dari ibuku, karena semenjak ibu menikah, keluarga ibu sudah tidak sudi lagi berjumpa dengannya. Aku hanya mampu menangis menghadapi kenyataan ini, aku dibawa ke tempat pengungsian.

Saat di pengungsian, berbagai bantuan kemanusiaan terus dipasok dari mana-mana. Hingga di hari ke-2 pengungsian, ada pihak yang membagikan mainan, dan salah satu dari relawan itu mengenalku, dia menyapaku dan mengatakan bahwa ia pernah melihatku saat di pembaktian. Dia mengajakku untuk ikut dengannya untuk tinggal di asrama asuh katholik. Saat aku akan naik mobil, tiba-tiba dari belakang ada seorang laki-laki tua memanggilku dan dia mengenaliku, perlahan aku terdiam dan tersadar bahwa itu adalah ayahku, ya, muka yang sudah tidak asing bagiku. Namun delapan tahun tak berjumpa terlihat perbedaan yang jelas pada dirinya, keningnya mulai mengkerut dan ada beberapa helai rambut putih di kepalanya. Ayah menghampiriku bersama wanita dan anak kecil dibelakangnya, seketika ayah mendekapku,melepas rindunya, tak terasa air mata kami menetes, mungkin inilah ikatan bathin antara kami dan saat itu juga ayah mengajakku untuk ikut bersamanya.

Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, akhirnya kami sampai di Jakarta, saat mobil hendak memasuki gerbang rumah, tampak beberapa orang berdiri hendak menyambut. Semua menyalamiku, memberikan senyumannya dan akupun seketika membalas. Setelah mengobrol sebentar ayah menunjukkan satu kamar padaku, kamar yang penuh dengan boneka dan juga ada figura besar, diphoto itu tampak seorang anak kecil berusia tiga tahunan yang sedang bermain pasir dan tampaknya itu memang diriku. Ternyata ayah memang sudah menyiapkan kamar itu untukku. Ayah memintaku untuk beristirahat sejenak dan bersiap-siap untuk makan malam.

Pukul delapan malam, ayah mengetuk pintu kamarku dan memanggilku untuk segera ke ruang makan. Setibanya di ruang makan, tampaknya aku masih malu-malu. Aku makan dengan porsi sedikit, semua yang berada di meja makan itu hendak menambahkan nasi untukku, namun aku menolaknya dengan dalih sudah kenyang. Aku pamit duluan untuk beristirahat karena kelelahan.

Pintu kamar ku tutup rapat. Setelah makan lebih awal dari yang lainnya. Aku lebih memilih diam di kamar, karena pasti jika aku berlama-lama dengan mereka akan banyak ribuan pertanyaan. Tak ada sedikitpun cerita yang ingin ku bagikan dengan mereka. Kesedihanku kehilangan ibu tak kunjung reda, terlebih setelah aku tahu bahwa ayah sudah berkeluarga lagi, rasanya aku tak ingin terima. Mengapa ayah tega melakukan itu pada ibu. Aku masih sering menangis, mengurung di kamar, tak ingin diganggu. Hingga akhirnya ayah menggunakan kunci ganti untuk membuka kamarku, ayah sering menyimpan makanan untukku, namun tak pernah aku makan, hingga aku benar-benar lapar.

Sampai pada satu hari, perutku sakit yang tak tertahankan, aku berteriak kesakitan, hingga ayah segera membawaku ke klinik terdekat dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa magh ku kambuh. Karena aku tak ingin siapapun merawatku, maka ayah sendirilah yang menjagaku, membacakan ayat Al-Qur’an disampingku, aku tak paham mengapa ayah selalu membacanya, apa ayah berharap ayat itu menjadi mantera untuk kesembuhanku, tak ada satupun kata yang ku paham kala ayah membacanya.

Sampai pada suatu malam, aku terbangun, terlihat ayah mengerjakan ibadah yang selalu dikerjakan umat Islam, mengangkat tangan, menyium tanah dengan bacaan-bacaan yang aku tidak paham. Seuisai shalat ayah berdo’a dengan bahasa arab yang akupun tak paham apa maknanya. Lalu ayah membaca kembali kitabnya.

Suasana malam yang sunyi, membuat suara ayah terdengar amat merdu, aku memang tak paham apa yang dibacanya. Tak seperti kitabku yang bisa ku baca dengan bahasa sehari-sehari. Perlahan ku dengar lantunan ini menembus ke dalam hatiku, ada sesuatu yang menenangkan jiwa dan entah mengapa bisa begini.

Aku terus memejamkan mata agar ayah tak sadar bahwa sedari tadi aku memperhatikannya, terdengar ayah sudah berhenti membaca kitabnya, terasa menghampiriku, berdo’a disampingku dan mencium keningku. Lalu ayah berlalu ke pintu dan menutup pintu kamar meninggalkanku.

Malam itu aku tak bisa tidur, pandanganku tertuju pada meja yang diatasnya tersimpan kitab yang selalu dibaca ayah. Akhirnya ku ambil dan ternyata kitab itu disertai terjemah yang dapat ku pahami, lembaran demi lembaran ku baca kitab itu. Hingga, tak terasa panggilan untuk ibadah shubuh dari peribadahan umat Islam memanggil.

Seketika terdengar suara pintu terbuka, sontak aku terkaget, ayah melihatku memeluk kitabnya.

“Kamu sudah selesai membacanya nak?”, Ayah tersenyum lebar.

Aku hanya menggelengkan kepala dan membalas senyumannya.

“Kamu mau ikut ayah ke masjid?”, tanya ayah.

“Tidak ayah, aku kan berbeda keyakinan dengan ayah”, balas Merlyna.

“Baiklah kalo begitu ayah shalat dulu ya, kamu istirahat saja.”, ayahpun pergi   meninggalkanku.

Aku masih terkagum-kagum dengan kisah-kisah dari kitab yang tadi ku baca. Setiap alur ceritanya begitu menarik, banyak hal yang ingin ku ketahui lagi.

Sepulang dari masjid, ayah kembali ke kamarku, mengusap kepalaku dengan do’a-do’a yang dibacanya. Lalu duduk disampingku. Ayah bertanya kepadaku tentang apa yang tadi ku baca, dan apa yang ku dapatkan darinya. Aku tertegun, terdiam dan hanya mampu tersenyum. Melihat responku yang seperti itu, ayah menceritakan beberapa hal tentang Agamanya, hal yang pertama dibahas adalah tentang ke-Agungan kitab yang tadi ku baca. Ayah menjelaskan bahwa ini adalah kitab yang paling Mulia di muka bumi, ini bukanlah kitab biasa dan bukan karangan manusia, tapi ketahuilah diatas kitab ini ada kitab yang paliang mulia yaitu kitah Lauhil Mahfudz yah terjaga disisi Allah, dll. Ayah menjelaskan panjang lebar mengenai agamanya, tentang ritual ibadah yang selalu dijalaninya dan tentang mengapa wanita muslim harus mengenakan penutup kepala. Dan yang paling menarik serta membuatku keheranan adalah saat ayah menceritakan kisah Isa, yang kami anggap sebagai Tuhan. Kisahnya sungguh berbanding terbalik dengan keyakinan kami. Diakhir penjelasannya ayah bertanya padaku apa aku tertarik untuk masuk Islam, sontak aku kaget dengan pertanyaan seperti itu. Aku hanya mampu terdiam kala ayah bertanya seperti itu. Ayah tidak memaksaku untuk menjawabnya sekarang, jawabannya bisa aku renungkan dulu.

Saat ayah menghampiri pintu, aku memanggilnya kembali dan mengatakan “Ya, aku meyakini Tuhan Ayah”, ayah tersenyum bahagia dan memelukku.

Ayah berlalu meninggalkanku, memanggil penghuni seisi rumah, lalu datang dengan membawa tutup kepala , lalu memintaku untuk mengucapkan janji kepada Allah dengan kalimah Syahadat.

“Asyhadu al laa ilaaha illa-l-Laah, wa Asyhadu anna Muhammada-r-Rasulu-l-Laah”,

Aku mengucapkannya dengan dituntun oleh ayah.

Setelah itulah aku mulai belajar tentang islam, ayah membimbingku bagaimana tata cara wudhu dan shalat, seluruh penghuni rumah selalu memberi tahuku apa saja kewajiban dan larangan bagi setiap muslim. Dan saat itu pula aku disekolahkan di sekolah agama bersistem pembelajaran Kulliyatul Mu’allimin, aku belajar banyak tentang Islam, sering menghadiri majelis ilmu dan ikut serta di harakat dakwah.

Setelah mendekati tahun ajaran baru, Ayah mendaftarkanku untuk menjadi santriah di Pesantren As-Salafi Al-Fitroh, Surabaya. Awalnya aku malu dan merasa asing berada ditengah-tengah mereka, tapi mereka sama sekali tidak memandagku berbeda dengan yang lainnya. Berebekal sedikit ilmu tentang keislaman dari rumah, aku terus memperdalam tentang Islam disini. Dengan tempat yang kental dengan budaya keislama, dan saabat-sahabatku yang selalu merangkulku membuat keislamanku semakin mantap. Aku bersyukur menjadi Santri.

Ust. Bahar Al-Mabruk, beliau adalah Ustadz sekaligus teman ayah, beliau sangat memperhatikanku dan melaporkan setiap perkembanganku kepada ayah. Tak jarang, setiap kali ayah ingin menghubungiku, selalu saja lewat ponsel Ustadz, karena wartel Pesantren selalu saja harus mengantri panjang. Setiap kali ayah menghubungiku tak hanya  sekedar menanyai kabar, Ayah selalu mengajakku berdiskusi tentang keislaman.

Selain ilmu Agama, di tempat yang suci ini pula aku belajar tentang kehidupan. Segala sesuatunya ku lakukan sendiri. Setiap hari harus bangun pagi sekali, agar terkejar shalat Tahajud, shalat selalu berjama’ah, mandi antri, makan antri, segala sesuatu harus tepat waktu. Awalnya aku merasa kesulitan dengan semua ini, tak jarang aku dapat teguran dari bagian keamanan karena keterlambatanku.Tapi setiap proses yang ku lalui menjadi pelajaran bagiku. Sehingga setiap hari selalu ada perubahan menjadi lebih baik, Alhamdulillah. Semua ini membuat ke-Islamanku semaki mantap. Semoga Allah. SWT selalu menjagaku untuk tetap Istiqomah. Aaamin.

Selesai masa pendidikanku, ayah memberi tahuku bahwa ada seorang ikhwan yang menginginkanku menjadi pelengkap ibadahnya. Aku menyerahkan semuanya pada ayah dengan syarat,

“Sosok suami yang aku inginkan adalah yang pemahaman agamanya baik sehingga kelas mampu mendidik anak-anakku dengan landasan agama yang kuat, karena bagiku di jaman yang semakin tidak terkendali pemahaman agamalah yang akan melindungi kita.”, tuturku pada ayah.

Ayah memahami keinginanku dan ayahpun pasti akan merestuiku dengan seseorang yang tepat. Tak lama dari sana, diapun meng-halalkanku dan menjadi penyempurna iman dan agamaku. Kamipun membangun keluarga yang Islami.

“Daarr!!!,, mamah melamun”, sambil tertawa lepas

Sontak aku terkaget, ternyata sedari tadi aku melamun terlalu lama. Untung saja anakku Hafidz menyadarkanku. Melihat dia tertawa kegirangan, aku langsung memeluknya.

Ya Allah…aku bersyukur memiliki mereka, aku bersyukur bersama mereka. Terima kasih atas karunia dan kenikmatan yang telah kau limpahkan. Bimbinglah kami tuk menjadi keluarga yang ta’at pada Syari’atmu, dan jagalah hamba untuk tetap Isttiqomah dalam mengabdi pada-Mu.

 

Mahad al-Jamiah Literature Competition
Adinda Suci Alawiah’s author of article

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me