Mamah percaya sama kamu. Kamu pasti bisa..

Hidup di sana itu sangat bermanfaat. Apalagi kamu pintar, gunakan kepintaranmu untuk mengejar akhirat nak..

Deg …

Kalimat yang diucapkan kedua orangtuaku dulu kembali mengiang di dalam mimpi ini, seperti nyata. Kulirik jam weker sekilas, sudah mendekati subuh. Aku mencoba meregangkan otot kaku sejenak kemudian membangunkan teman-teman se-kamar dan bergegas siap menuju mesjid.

Ya inilah aku, si jenius yang terjebak di dunia pesantren.

“Gua heran sama lu.. pinter, jago olahraga, jago gambar tapi lu mau-maunya masuk pesantren. Lu cocoknya di SMA inter atau ga di sekolah seni.” Kembali, tak henti-henti nya temanku Farhan mengoceh seperti itu sambil menghisap rokok.

Oh aku hampir lupa, namaku Rizik. Seperti apa yang dijelaskan temanku tadi, aku adalah si anak emas. Selalu menjadi juara kelas, kapten basket sewaktu smp, dan sering menjuarai lomba melukis. Orang-orang menyebutku si multitalent dan ehemm ganteng. Wajar saja bila di SMP aku menjadi primadona para siswi.

Tapi itu dulu, kenangan smp yang tak terlupakan. Sekarang aku hanyalah siswa Aliyah yang hidup di sebuah pondok pesantren sederhana di pinggiran kota, berbagi kamar yang kecil dengan empat orang lainnya, berbagi toilet dan makan dengan makanan sekadarnya. Orang-orang menyebut nya SANTRI. Tidak ada lagi kemewahan yang sering kudapatkan dulu. Dulu, apa yang ku mau akan cepat terlaksana dalam sekejap. Kini tak lagi seperti itu. Tak ada ruang bebas untukku mengembangkan potensi.

“Oy lu denger gue ga sih? Dari tadi gua ngomong ternyata ga didengerin sama sekali.” Sungut Farhan kesal.

“Haha sorry bro gua tadi ngelamun.” Jujur aku tak mendengarnya. Sambil menghisap rokok aku menghela nafas pelan. Muak dengan segala keadaan sekarang. Benci dengan ayah dan ibuku yang memaksa ku untuk tinggal ditempat penuh aturan,saking bencinya aku tak pernah pulang kerumah dan tak pernah mau mengirim pesan. Tak ada perubahan sama sekali setelah satu semester aku tinggal di pesantren. Yang ada malah tambah nakal, merokok diam-diam, kabur dari pondok, membuat kegaduhan di kelas, dan sebagainya. Bukan tanpa alasan, aku melakukan itu agar mereka cepat-cepat mengeluarkan ku dari pesantren. Sungguh licik memang.

“Udahlah lu pulang aja sana, ntar ustad elu marah-marah lagi kek dulu..” titah Farhan.

“yaudah deh gua balik dulu ya, thanks bro rokoknya haha..” jawabku sambil melangkah keluar rumah Farhan.  Aku sedari pagi kabur dari pondok dan sekarang sudah menjelang isya. Masalah hukuman yang didapat itu masalah nanti. Sudah biasa juga.

Sampai di pondok, pelan-pelan aku berjalan dengan harapan tak ada ustadz atau pengurus pondok yang melihatku. Sampai ke mesjid, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang sedang berbicara lantang hingga terdengar keluar mesjid.

“Hakikat santri adalah seseorang yang mampu membangun dan mengembangkan peradaban islam yang sesuai dengan syariat islam. Tapi di masyarakat luas sekarang santri selalu diartikan sempit, yang hanya mengerti ilmu-ilmu islam saja, tidak bisa diharapkan masa depannya, hanya akan menjadi kyai saja. Apakah seperti itu? TIDAKKK..”

Entah kenapa aku diam ditempat tatkala mendengar kata-kata itu. Suara Ust Thoy yang sedang melantunkan khutbah dengan lantangnya membuatku terhenyak.

“Mengapa orang-orang diluar sana selalu menganggap remeh santri ? Karena tingkah lakunya! Santri jaman sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat dari santri sebelumnya. Santri saat ini malah senang dengan pelanggarannya. Bahkan enggan untuk mengakui kesalahannya. Merokok diluar pondok, berkelahi, tak sopan pada pengurus, kabur saat pembelajaran. Betulkan?”

Rasanya semua perkataan itu ditujukan kepadaku, ya bagaimanapun aku menyadari nya.

“Apakah kalian tidak memikirkan perasaan orangtua? Mereka memasukkan kalian kedalam pesantren dengan harapan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Apa jadinya jika mereka tau kalian seperti ini? ”

DEG.  Pernyataan yang tepat sasaran. Orang tuaku, yang selalu membanggakanku. Apa jadinya bila mereka tau aku seperti ini?

Nanti kau akan mengerti kenapa ayah memasukkan kau ke sana. Anakku..

Kata-kata kembali kuingat.

“sudah saatnya kita merubah paradigma masyarakat itu, santri harus mampu mengubah peradaban islam masa kini, Kita harus berevolusi, kita tunjukkan pada khalayak jika kita mampu memegang peradaban sekarang atau nanti. Karena jika kita sebagai santri tidak turun tanga untuk mengatasinya, maka tunggulah kehancuran negara ini..”

Ust Thoy menutup khutbah dengan doa. Ya, kini aku mengerti mengapa ayah memasukkan ku ke pondok ini.

“Dari mana saja kamu Rizik..” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang ku. Aku membalikkan badan, terlihat seseorang disana dengan perawakan tegap.

“Sa..ya da..ri rumah teman ustadz..” jawabku gagap. Bersiap untuk mendapat tamparan atau pukulan.

“hmm, baiklah sekarang pergilah keruang pimpinan. Ada sesuatu yang harus disampaikan..”

Tumben, biasanya jika aku kedapatan bolos akan mendapat setidaknya dua kali tamparan dari ustadz Iqro. Dan wajahnya ketika berbicara kepadaku terlihat seperti kasihan. Ada apa ini?

Aku semakin tidak enak hati ketika sudah sampai di ruang pimpinan. Syeikh Farid selaku pimpinan mendatangiku memberikan sepucuk surat.

“Ini dari orangtua mu bacalah..” Semakin heran, kenapa orangtuaku tidak menyampaikan pesan langsung saja ke handphone ku? Ini malah membuat surat. Akupun membuka surat itu dan membaca dalam hati.

“Nak ibu tau mungkin sangat berat buatmu untuk hidup dipondok. Ketahuilah kami memasukanmu bukan karena kami tak sayang dan membuangmu. Justru kami sangat sayang padamu. Rasa cinta kami padamu tetap sama seperti dulu.”

Anakku tersayang, sahabat Ali ra pernah berkata,”dunia mempunyai anak-anaknya, akhirat mempunyai anak-anaknya. Maka jadilah anak-anak akhirat, jangan jadi anak dunia.” Itulah alasan kami memasukan mu kesana. Sudah mengertikan?

Nak, ada satu rahasia yang belum pernah kamu tau selama ini dari ayahmu. Ayahmu……..-‘

Aku sudah tak mampu melanjutkan, air mataku sudah berada dipelupuk dan akhirnya aku menangis. Menangis pertama kali di pondok. Kini aku menyesali segala perbuatanku.

“belum terlambat untuk memperbaikinya..” itu suara syeikh Farid, Tangisku malah semakin menjadi.

Ya Allah, lindungi keluargaku……

 

(6 bulan kemudian)

Satu semester sudah aku selesaikan. Kini akan memasuki tingkat dua Aliyah. Tak terasa bila kita menjalaninya dengan ikhlas.

Ikhlas? Apa kalian berfikir aku sudah hijrah setelah kejadian surat itu?

Tidak. Aku belum berhijrah sepenuhnya, tapi sedang berproses menuju lebih baik.

Kini tak ada lagi Rizik yang pembangkang, si tukang onar, si malas yang selalu bolos ataupun hal buruk lainnya. Untuk merokok mungkin aku akan menguranginya. Tiba saatnya aku pulang kerumah ku untuk berlibur dan tak lupa ku ajak Nabil, Supri, Encep yaitu teman sekamarku untuk ikut bersamaku.

Tibalah di rumah, tiba-tiba hatiku terasa hangat. Semua keluarga menyambutku dengan riang. Ibu bersedu-sedu dan tak henti-hentinya menciumku saking rindu.

“Aku ingin ketemu ayah bu,” ucapku.

“Baiklah ayo..” jawab ibu

Sampailah aku disebuah tempat yang sepi di pegunungan dengan semak-semak liar yang mengganggu. Sedikit demi sedikit aku bersihkan semak-semak itu disekitar ayah beristirahat. Setelah itu aku dan ibu menghadap ayah.

“Ayah aku sudah pulang, aku sangat rindu pada ayah.. apakah ayah disana merindukanku juga?” tanyaku. “maaf bila aku jarang menjengukmu ayah, tapi ketahuilah aku selalu mendoakan mu disetiap sholatku. Ayah, kau tau? Sekarang aku sudah tidak nakal lagi di pondok. Sekarang aku menjadi anak yang rajin seperti dulu, aku juga sekarang bisa menyusul pelajaran dengan baik. Apa ayah tak akan memberiku hadiah karena itu? Hehe..” tiba-tiba saja air mataku kembali mengalir. Entah mengapa berbicara seperti ini membuatku sakit.

“Sudahlah nak, ayah sudah tenang disana..” jawab ibu

“Hiks ayah maafkan aku..” rintihku pelan

“Sudah sudah, ayo sekarang kita berdoa untuk ayah…” ibu mencoba mengehentikan tangis ku dan bersiap untuk berdo’a

Ya, tepat sehari sesudah ibu mengirimku surat, ayah meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. Aku tak pernah menyangkanya karena yang aku tau ayah itu sehat-sehat saja. Semakin heran setelah tau ayah mengidap kanker sudah 3 tahun. Padahal selama ku dirumah dulu tak pernah menemukan obat-obat aneh atau ayah yang sakit.

Setelah membaca surat itu, besoknya aku langsung bergegas pulang menemui ayah di rumah sakit, tapi sayang nyawanya tak dapat tertolong sebelum aku meminta maaf. Sungguh penyesalan yang tak pernah ku lupakan.

Nak, ada satu rahasia yang belum pernah kamu tau selama ini dari ayahmu. Ayahmu mengidap kanker otak sejak tiga tahun lalu, dan sekarang semakin kritis. Beliau sengaja tak memberitahumu karena beliau takut kamu khawatir dan malah kabur kerumah. Ketahuilah nak, dibalik sifat ayahmu yang tegas, beliau mempunyai hati yang rapuh dan sangat sayang kepadamu.

Setelah ayah meninggal, aku bertekad akan merubah segala tabiat ku selama di pondok menjadi lebih baik lagi, dan merubah segala persepsi tentang santri di masyarakat. Bahwa santri itu bukan hanya punya ilmu-ilmu agama tapi juga mampu berkembang disegala bidang.

Temanku Farhan pun sekarang menjadi berubah berkat aku. Walaupun tidak ikut mondok di pesantren tapi dia sekarang mau bila aku ajak ke pengajian ataupun ke kajian rutin. Alhamdulilah.

 

Kini, aku bangga menjadi santri ….

 

Mahad al-Jamiah Literature Competition
Nanda Nurulhuda’s author of article

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me