Indonesia, negeri kaya raya dengan luas 1.905 juta KM, beribu-ribu pulau, beribu-ribu suku, beribu-ribu bahasa. Menanam tongkat menjadi tumbuhan. Tanah surga, katanya. Dengan penduduk yang begitu banyak dan bahasa yang bermacam-macam, penduduk Indonesia memerlukan bahasa persatuan untuk berkomunikasi antar sesamanya, yang dimana sudah ditetapkan dan disepakati pada tanggal 28 Oktober 1928 atau lebih kita kenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda.

Peristiwa sumpah pemuda merupakan suatu pengakuan dari pemuda pemudi bangsa Indonesia yang meikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Bunyi sumpah pemuda antara lain :

  1. Kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra putri Indonesia menjungjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda kini memasuki tahun ke-89 sejak dideklarasikan. Artinya, peristiwa ini bukan lagi momen seumur jagung. Sumpah pemuda merupakan peristiwa penting dalam sejarah yang harus tetap dijunjung tinggi oleh rakyat Indonesia. Sudah disepakati sejak dahulu bahwa bahasa persatuan rakyat Indonesia adalah bahasa Indonesia. Ini terdapat pada sumpah pemuda no 3.

Bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sistem lambang bunyi yang abitrer (sewenang-wenang), yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman yang semakin modern. Bahasa pun mengalami perkembangan dan perubahan. Baik perkembangan dan perubahan dalam hal positif maupun negatif. Salah satu dampak dari perkembangan dan perubahan bahasa Indonesia saat ini adalah munculnya bahasa-bahasa non baku atau sering juga kita sebut dengan bahasa gaul ataupun bahasa alay di kalangan masyarakat Indonesia. Melihat perkembangan bahasa gaul di Indonesia yang semakin bermacam-macam dan semakin digemari rakyat. Mulai dari yang muda sampai lansia, dari yang berpendidikan sampai yang pengangguran, hampir semua menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi antar sesamanya. Baik secara langsung bertatap muka, maupun tidak langsung seperti koran, majalah, radio, televisi, dan media massa lainnya. Ataupun via media sosial, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, Line, WhatsApp, dan lain-lain.

Teknologi yang semakin canggih, semakin membuka peluang para pengguna media sosial dalam mengembangkan bahasa gaul. Ini memungkinkan terjadinya peluang terkikis atau ternomor duakannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bagaimana tidak, banyak kita jumpai berbagai kelompok masyarakat saat berkumpul di suatu tempat mereka menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi. Di pasar manglayang misalnya. Pernah saya berkunjung ke pasar manglayang untuk meneliti penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa gaul di pasar. Saya melihat ada seorang pemuda penjual buah-buahan yang dikerumuni banyak pembeli. Ia menjual bermacam-macam mangga dengan kualitas dan harga yang berbeda-beda. Ketika saya mendata harga tertinggi dan terendah dari mangga itu, saya dapati harga tertingginya yaitu Rp. 30.000,- perkilo.  Seorang ibu rumah tangga, berpakaian daster ungu dengan seorang anaknya berkata “Mahal beud”, dan penjual mangga itu menjawab “Biasa aja keles”. Ini membuktikan bahwa bahasa gaul sudah banyak digunakan di berbagai tempat umum oleh siapapun. Oleh anak muda, seperti pemuda penjual buah-buahan tadi, atau orang tua, seperti ibu rumah tangga pembeli buah mangga itu. Penelitian pertama menunjukkan, bahwa bahasa gaul sudah digunakan oleh siapapun, baik anak muda maupun orang tua.

Penelitian kedua saya yaitu di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dapat kita temukan, banyak sekali para mahasiswa yang berbincang-bincang menggunakan bahasa gaul di sekitar kampus. “gue”, “loe’, “yoman”, “keles”, dan masih banyak lagi bahasa-bahasa gaul lainnya yang dapat kita dengar di kalangan mereka. Ini terjadi bukan hanya di luar kelas saja yang bersifat non formal, melainkan juga mereka terkadang menggunakannya di dalam kelas yang bersifat formal. Dari penelitian kedua saya, ini membuktikan bahwa bahasa gaul sudah banyak digunakan pada acara-acara atau kegiatan-kegiatan non formal maupun formal. Juga digunakan oleh para pendidik maupun yang dididik.

Saat ini penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan nyata, baik dalam berkomunikasi secara langsung maupun via media sosial memang mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa gaul. Dapat kita lihat, tergesernya bahasa indonesia akibat penggunaan bahasa gaul terjadi karena perkembangan jaman yang kian maju, baik dari dunia pendidikan maupun teknologi. Media massa sangat berpengaruh terhadap penggunaan bahasa mayarakat. Sering kali media massa tidak mempedulikan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar, padahal media massa sangat mempengaruhi bahasa masyarakat. Hal ini mempengaruhi perkembangan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pemakaian bahasa gaul di Indonesia, sebagai berikut :

  1. Membuat undang-undang kebahasaan.
  2. Menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa.
  3. Pemerintah indonesia harus menekankan penggunaan bahasa dalam film-film produksi Indonesia, baik film layar lebar maupun film sinetron.
  4. Pemerintah harus mengawasi penggunaan bahasa yang digunakan dalam media massa ataupun media sosial.
  5. Sadar akan pentingnya berbahasa indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Jika upaya-upaya itu dilakukan dengan maksimal, maka memungkinkan dapat mengurangi penggunaan bahasa gaul di Indonesia dan meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat. Sebagai orang yang mengaku bertanah air satu, dan berbangsa satu, yaitu Indonesia, maka kita semua harus cerdas berbahasa Indonesia. Bukankah salah satu cara untuk menghargai sumpah pemuda 28 Oktober 1928 lalu adalah dengan mencintai, belajar, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Ayo, kita terapkan penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Karena saat kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka kita telah menepati sumpah kita, yaitu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

 

Silvi Alfiah’s Author Of Article

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me