Langit senja menghamparkan sinar yang penuh manja, hembusan angin yang dikeluarkan dari kepakkan sayap burung membalas rasa manja langit menjadi malu. Sinar yang semula menyinari hingga pangkal lubang semut, kini redup lantaran menahan malunya balasan manja, wahai senja kembalilah esok hari karena aku pengagum berat kemanjaanmu.

Tetapi, redupnya sinar tergantikan dengan lantunan suara merdu, sering diri ini mendengar suara tersebut dan entah kenapa jika mendengarnya sontak kaki ini melangkahkan kepada suatu tempat yang nyaman. Suara merdu tersebut adalah adzan dan tempat yang nyaman adalah masjid, suara merdu mungkin bisa saja lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi handal tetapi adzan memiliki makna tersirat hingga pencinta suara adzan sontak melangkahkan kakinya kepada tempat yang penuh kenyamanan.

Aku tidak tahu di bumi mana aku berpijak, aku tidak tahu berapa lama lagi menghirup oksigen, aku pun tidak tahu kapan kiranya wajah ini berubah menjadi keriput. Seperti itulah pertanyaan yang keluar dikala diri ini menyendiri dari keramaian orang, seakan ingin bertemu dengan sang pencipta lalu menanyakan semua kegelisahan ini. Yaa Rabb.. temuilah aku dikala aku bersujud kepadamu, sambutlah aku dengan rahmat dan kasih sayangmu. Aku tahu sifat penyayangmu hanya diberikan kepada orang muslim serta beriman kepadamu, berbeda dengan sifat pengasih yang engkau miliki yang diberikan kepada makhluk ciptaanmu.

Indonesia memiliki beragam program pendidikan, diantaranya seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah, lebih identiknya Indonesia memiliki sistem belajar dan pengajar yang bermukim di suatu tempat. Pelajar ini yang sering kita sebut dengan julukan santri, santri adalah seorang penuntut ilmu yang rela meninggalkan tempat tinggalnya, sanak keluarganya serta sahabat yang sudah dijalin dari kecil. Tidak semua orang bisa mendapat julukan tersebut, hanya segelintir saja yang memang mendapatnya, karena jika ingin mendapat julukan tersebut banyak rintangan yang harus ia lalui hingga gelar santri dapat diraih.

Mendalami ilmu agama adalah kewajiban seorang santri, karena tempat bermukim yang familier dengan sebutan Pondok Pesantren memberikan pelajaran lebih intensif tentang ilmu agama. KH. Imam Zarkasyi seorang pakar ulama sekaligus trimurti dari Pondok Modern Darussalam Gontor berkata, “Asal kata Pesantren diambil dari kata santri lalu ditambah imbuhan awal “pe” dan akhiran “an” sehingga memiliki arti sebuah tempat bagi seorang santri.” Pondok Pesantren ada karena sosok kyai yang berada di dalamnya, sehingga penuntut ilmu berdatangan untuk belajar kepada kyai tersebut mengharapkan ridho dan keberkahan ilmunya.

Sedangkan Pondok menurut beliau diambil dari kosa kata bahasa arab yaitu “Funduq” memiliki arti ruang tidur atau wisma, sehingga diartikan sebuah tempat tinggal yang di dalamnya ada ruang tidur. Terdapat instansi pendidikan islam yang menggunakan istilah Pondok Pesantren, Pondok, dan Pesantren. Tinjauan dari penyebutan memiliki makna tersendiri, contohnya adalah :

  1. Pondok Pesantren Daar el-Qolam
  2. Pondok Modern Darussalam Gontor
  3. Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido

Selepas bermuwajahah kepada sang kholiq aku kembali ke tempat tinggal yang kini aku tempati di Bandung, tempat yang penuh harap dapat membawa pribadi yang semula kotor ini menjadi lebih baik. Tempat itu adalah Ma’had al-Jamiah, sebuah bangunan asrama yang terletak di sudut Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, entah kenapa aku berada disini, husnuzhon semua ini adalah suratan takdir ilahi.

Setibanya aku di asrama, aku mengambil sebuah mushaf yang aku bawa dari rumah, lalu aku membaca firman Allah SWT pada surah at-Taubah ayat 122, yaitu :

 وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Di dalam ayat ini menjelaskan landasan dan hakikat seorang santri, santri adalah seseorang yang berkumpul dalam satu kelompok (Pondok Pesantren) untuk memperdalam ilmu agama. Ilmu agama itu luas mencangkup semua aspek pembelajaran dan seorang santri adalah makhluk pilihan melalui tafsiran ayat tersebut, setelah seorang santri menyelesaikan pembelajaran maka ia pulang kembali ke tempat asalnya, ke tempat yang sudah ia tinggali dengan waktu yang lama untuk memberi peringatan kepada masyarakat melalui ajaran ilmu yang sudah ia dapati.

Seorang santri adalah sosok yang sangat ditunggu oleh masyarakat, karena mereka memahami, bahwa seorang santri memiliki keilmuan yang berbeda dengan yang lain, mempunyai loyalitas masyarakat yang tinggi dan memang itu sebuah tugas seorang santri. Santri diajari pergaulan dengan 3 golongan, yaitu :

  1. Golongan bawah
  2. Golongan menengah
  3. Golongan atas

Sering kita dengan kalimat Hablumminallah wa habluumminannas, seorang santri selayaknya dapat menjalin hubungan yang baik dengan sang kholik dan ciptannya. Karena seorang santri harus bisa meluruskan ajaran dan pemahaman yang menyeleweng dan membenarkan ajaran islam yang sudah banyak diketahui oleh masyarakat. Bergaul adalah tahap awal untuk memberikan dampak positif kepada objek yang kita tuju, oleh karenanya seorang santri tidak dibenarkan untuk berdiam diri di rumah setelah menyelesaikan pendidikan karena Allah telah memerintahkan dari sekelompok orang yang mendalami ilmu agama untuk memberikan peringatan kepada kaumnya tentang kebaikan dan kebenaran agama islam.

Dalam hadits marfu’, yaitu hadits yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَحْمَدَ الْحَافِظُ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورِ بْنِ أَبِي الْجَهْمِ الْمَرْوَزِيُّ ، حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ ، صَاحِبُ اللُّؤْلُؤِ ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الرَّازِيِّ ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ”   

“Barang siapa yang keluar dari tempat tinggalnya untuk mencari ilmu maka ia disebut orang yang berjalan di jalan Allah SWT, hingga ia pulang kembali ke tempat tinggalnya”.

Pemerintah sudah menetapkan bahwa tanggal 22 Oktober adalah Hari Santri Nasional, membuktikan bahwa Indonesia sangat memberi harapan kepada santri sebagai revolusioner negara Indonesia. Maka siapapun yang mempunyai jiwa seorang santri, mari bersama-sama menjaga tradisi baik yang sudah ada di Indonesia ini lalu bersama-sama kita berikan suatu tradisi baru yang lebih baik dari pengalaman dan keilmuan yang kita miliki. Sebuah kaidah yang menjadi dasar ahlussunah wal jama’ah yaitu :

المُحَافَظَةُ عَلَى قَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الأَصْلَحِ

“Menjaga tradisi yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”

Akhirnya, mata ini mulai lelah untuk menampakkan bola mata hitam kepada benda-benda ciptaan Allah, aku akhiri saja hari ini dengan istirahat malam. Semoga besok aku dipertemukan kembali dengan sinar yang sudah terlanjur malu itu, karena aku mengaguminya.

 

Mahad al-Jamiah Literature Competition 

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me