SINOPSIS

Namanya bukanlah panggilan untuk sebenarnya. Bukan juga gelar yang membanggakan. Hanya Salikah kata yang menunjuk pada isim muannats. Perempuan baya dengan rasa kasih sayang pengharapan kepada Rabbnya. Ada pikir yang tak lepas dari zikir. Ada amal yang terasa hambar. Hati bertabrak logika menghentak. Tiada mudah mencancang gelombang hawa nafsu pada syariat. Karena Salikah manusia biasa-biasa saja. Sehingga doanya mengartikan kehambaan asa pada yang Maha Esa.

Cacian gila hujatan gendeng tiada membuatnya keder. Ramahnya bermuara rahmatan lil ‘alamin. Karmanya berlantun santun tanpa rasa benci. Adalah tiada daya rumeksa dari dosa dan tiada kekuatan untuk sesembahan hanya kecuali karena-Nya. Meski Salikah paham akan urusan taat. Namun semua itu bukanlah derajat. Melainkan iman menjadi imam dalam langkah kaki. Syahadat pertama pengakuan dan saksi bahwa tiada tuhan dalam hati Salikah kecuali Allah.

Pengkuan bukan untuk Salikah tapi untuk-Nya. Aku bukan lagi siapa-siapa, bukan juga apa-apa. Salikah hanya makhluk yang dianggap gila karena rasa cinta kepada-Nya, saat orang-orang asik menghina, Salikah hanya tertawa. Waktu tetangga menghujat Salikah tetap tersenyum saja. Sudah tidak ada space benci di dalam hati. Tidak juga iri apalagi dengki. Hanya cinta yang tulus penuh rindu menuju sujud. Khusyuk menyelami diri mengingat dosa bersambut ampun.

Biasa selayaknya manusia ikhtiar mengejar dunia tetap ada. Bukan untuk kaya hanya sekadar memenuhi hajat syariat. Salikah bukanlah malaikat yang tanpa hasrat. Dia insan berbaju ihsan, perempuan kenamaan bukan dengan ketamakan. Halal yang ia cari dari keringat jual beli. Bermodal izin suami yang entah sudah mendahului. Malam berkawan tuhan dalam kesendirian, sajadah tempat tangis dan keluh kesah. Kiblat arah menuju-Nya seolah-olah dia melihat meskipun tiada dapat.

Candu hati untuk bertamu temu walbu salim. Mustaka hikmah memanggil lewat pikir batin. Hitam tampak abu-abu, mawas dengan napas ikhlas. Goda datang tak pernah pilih kasih. Salimni ya Rabbi, Asyrifni ya sayyidi. Salikah tempatnya salah namun bersamanya terucap astaghfirullah. Menyulami setiap hari ini untuk lebih baik. Bukan untuk hitung-hitungan namun menuju taqwa pada Sang Khalik. Salikah itukah kamu? Terkucil dari ingar bingar keramaian, Salikah itukah kalian? Balut cantik tanpa kerohanian, Salikah menyadarkan tapi dipanggil edan. Sabar ya Salikah, selama kau cukupkan kalbu bertali kasih dengan AKU yang NYA dan DIA serta Mu. Cintamu tak akan pernah salah.

 

Bagaimana setelah membaca sinopsis Novel Salikah Tentang Cinta dan Ruang Sunyi? Penasaran? Langsung aja yuk pesan bukunya!

Preorder Novel Salikah Tentang Cinta dan Ruang Sunyi

Format pemesanan dikirim ke nomor 081264309119 (Via Whatsapp) atau klik disini untuk langsung memesannya!

Nama Pemesan :
Nama Buku :
Jumlah Pemesanan :
Alamat Pengiriman :

Harga khusus preorder adalah Rp. 80.000, yuk buruan pesan sekarang!


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp WhatsApp Me