Semua dari kita tentu tahu apa itu pingsan, keadaan tidak sadarkan diri ini bisa diakibatkan karena tidak adanya asupan oksigen ke dalam otak yang biasanya terjadi karena penderita mengalami trauma, shock, atau bahkan tidak memulai paginya dengan sarapan. Faktor lain yang dapat memicu seseorang mengalami pingsan seperti terlampau lelah, kehilangan orang-orang yang dikasihi, sedih berkepanjangan, dan berbagai macam hal yang mungkin tidak pernah orang lain duga. Phobia atau ketakuan yang berlebihan pada hal-hal tertentu juga dapat memicu seseorang mendapatkan keadaan pingsan.

Pada kasus-kasus yang telah lalu, pingsan memiliki dua jenis. Pertama, pingsan spontan atau dapat diartikan sebagai keadaan pingsan dimana penderita tidak merasakan tahapan-tahapan gejala sebelum pingsan. Penderita akan langsung tidak sadarkan diri ketika melihat suatu hal yang membuat dirinya kaget, inilah pingsan spontan. Kedua, pingsan bertahap atau melewati fase-fase gejala pingsan terlebih dahulu. Sebelum seseorang akan pingsan, biasanya dia akan merasakan gejala-gejala tertentu, seperti pusing, tidak sanggup berdiri, pandangan mulai kabur, dan titik yang terakhir pandangan menjadi gelap seakan dunia lari darinya.

 

Mengobati seseorang yang mengalami pingsan tidaklah sulit, cukup membaringkankannya di atas kasur dan berikan aroma-aroma seperti minyak kayu putih, minyak aroma terapi. Ketika penderita telah sadarkan diri, seseorang dapat memberinya segelas teh manis hangat untuk memulihkan kebugarannya. Namun, untuk kasus pingsan bertahap dapat dicegah sebelum penderita benar-benar terjatuh pingsan. Setelah penderita merasa pusing, lemas, pandangan mulai menghitam, dan beberapa gejala pingsan lainnya, dia dapat mengambil langkah pencegahan seperti tidak memaksakan untuk beridiri, posisikan diri untuk duduk dan segera mengambil teh manis hangat. Niscaya, pingsan dapat teratasi.

Pada beberapa kasus, seseorang yang menerima nasihat agama akan merasa lemas, sedih, bahkan jatuh pingsan ketika mendengar seruan tentang adzab dan siksa. Mishary Al ‘Afasy adalah salah satu contohnya. Siapa yang tidak kenal dengan Syaikh yang satu ini, sebagian besar masyarakat memutar suaranya yang indah tengah melantunkan ayat-ayat suci Quran. Namun, tahukah kamu bahwa seorang Mishary dahulunya adalah seorang penyanyi. Hingga suatu hari temannya berkata, “Apa yang akan kau jelaskan ketika hari perhitungan tiba dengan suara yang dititipkan padamu?”. Seketika itu Mishary jatuh tersungkur dan menangis. Sejak saat itulah ia memutar haluan hidupnya untuk agama. Menjadi seorang hafidz, imam besar, dan tetap menjadi seorang penyanyi. Lagu bergenre religi kini ia geluti.

Pemahaman terhadap Quran dan rasa takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat luluh dengan Quran. Dia bisa jatuh tersungkur seperti Syaikh Mishary, menangis tersedu-sedu, pingsan, bahkan mati. Bukan dibuat-buat, tapi memang itulah buah dari ketakwaannya.

Seperti kisah Ali bin Fudhail yang berteriak dan jatuh pingsan akibat mendengar seorang guru melantukan Quran surat An Najm ayat 31 yang artinya : “Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”

            Suatu ketika Rasulullah SAW meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka. Jibril pun menerangkannya “Pintu pertama dinamakan Hawiyah yangdiperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir. Pint kedua dinamakan Jahim yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin. Pintu ketiga dinamakan Saqor yang diperuntukkan bagi kaum shobi’in (penyembah api). Pintu keempat dinamakan Ladha diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya. Pintu kelima dinamakan Huthomah yang diperuntukkan bagi kaum yahudi. Pintu keenam dinamakan Sa’ir yang diperuntukkan bagi kaum kafir.”. Rasaulullah bertanya, : “Bagaimana dengan pintu ketujuh?” Sejenak malaikat Jibril ragu untuk menyampaikan siapa saja yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasul mendesaknya hingga malaikat Jibril mengatakan, “Pintu ketujuh diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat”. Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasul pun sontak pingsan, lalu Jibril meletakkan kepala Rasul di pangkuannya sehingga sadar kembali.

Kisah-kisah diatas hanya sebagian kecil dari banyaknya kisah haru nan menggetarkan jiwa yang pernah terjadi di atas muka bumi. Jika seorang nabi saja yang sudah dijamin surganya oleh Allah masih bisa menangis dan pingsan, bagaimana dengan kita. Jika seorang ulama besar yang hafal Quran, hafal ribuan hadits, amalnya banyak, masih bisa menangis dan bergetar dengan Quran, dimana posisi kita sekarang. Ketika seorang hamba lebih mengenal siapa dirinya, apa agamanya, apa tujuan hidupnya, tentu dia akan lebih banyak khawatir akan kehidupan setelah kehidupan. Apakah ia akan benar benar menikmati hidup atau  meratapi hidup. Mari kita periksa apakah saya termasuk orang yang mudah pingsan, mudah menangis karena Quran atau malah sebaliknya.

Dunia kini terasa sangat nyata dan akhirat masih menjadi cerita, tapi jangan sampai kau sesali ketika dunia tinggal cerita dan akhirat menjadi nyata. Semoga semua dari kita selalu mendapat petunjuk dan bimbingan dalam menjalankan kehidupan ini agar tidak banyak penyimpangan yang diperbuat.

 

Erfin Irwansyah’s author of article.

           

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me