“Gunakan lebih banyak waktu anda untuk bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang positif agar semangat dan antusias mereka dapat menular ke dalam diri anda.”

Coba kamu perhatikan, kepada siapa biasanya orang mengeluh ketika sedang kecewa, frustasi, atau mengalami kegagalan? Sebagian besar orang mengeluh kepada orang yang salah. Bahkan, yang lebih parah lagi, mereka mencari orang-orang yang senasib untuk membicarakan masalah mereka. Tentu saja, hal ini bukanlah solusi atau upaya yang tepat untuk meringankan beban. Justru sebaliknya, masalah yang dihadapi justru akan semakin membesar karena orang-orang yang senasib itu akan mendapatkan seribu satu alasan sebagai pembenaran atas nasib buruk yang menimpa hidup mereka. Dan konyolnya, semua alasan atau penyebab kegagalan itu mereka tumpahkan kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri.

Sekadar contoh, suatu hari saya menimati makan siang di kantin kampus tercinta yaitu UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di samping saya tampak sekelompok mahasiswa dari jurusan lain yang membicarakan masalah perkuliahannya.

Salah satu dari mereka berkata, “Dosen gue bener-bener ngga manusiawi, ngasih tugas banyak banget. Padahal tugas dari mata kuliah yang lain aja belum gue kerjain.” keluh seorang mahasiswa kepada kawan-kawannya.

“Bukan dosen lu aja yang ngga manusiawi, dosen gue juga sama. Beliau ngasih tugas observasi ke luar kota, ngga mikir apa ya yang kaya gtu kan ngga sedikit uang yang keluarnya. Kayak buat ongkos, makan atau mungkin biaya perizinan observasi, uang dari mana coba.” Timpal seorang mahasiswa lain dari keluh kesahnya.

“Kalau gue bukan hanya pusing dengan dosen yang ngga manusiawi, tapi dengan teman kelas pun sama. Kelompok gue nih pelit untuk ngasih info tugas bahkan kalau ada tugas kelompok ngga dikabarin dan akhirnya nama gue ngga dicantumin di kelompoknya.” Celetuk mahasiswa lain yang disambut dengan keluhan-keluhan senada dari para mahasiswa yang merasa senasib itu.

Dari obrolan mereka, saya dapat menarik kesimpulan bahwa,

Jangan sampai menceritakan keluh kesahmu kepada orang yang senasib denganmu. Ya, seperti itulah jadinya, orang salah bertemu dengan orang yang salah, ditambah orang frustasi, dikomporin sama orang yang sakit hati, maka muncullah faktor-faktor kambing hitam, seperti dosen yang tidak manusiawi, ekonomi mahasiswa yang sedang tidak baik, sampai teman sekelas yang pelit. Sepertinya tak lama lagi tuhan pun mereka salahkan karena dianggap pilih kasih dan tidak adil.

Pada siang itu, saya bukan hanya kenyang dengan menu makan siang yang saya santap, melainkan juga mendapatkan learning point dari perbincangan para mahasiswa tersebut. Jangan sekali-kali mengeluh kepada orang yang salah, tetapi temuilah orang-orang yang positif yang dapat membangkitkan kembali semangat dan memberi motivasi.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp WhatsApp Me