Biografi Ali Al-Shabuni

Syekh Muhammad Ali Al-Shabuni begitu mendunia. Beliau merupakan seorang ulama dan ahli tafsir yang terkenal dengan keluasan dan kedalaman   ilmu serta sifat wara‐nya. Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ali Ibn Ali Ibn Jamil Al-Shabuni. Beliau lahir di kota Helb, Syiria pada tahun 1928 M. Setelah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Syiria, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Mesir, dan merampungkan program magisternya di universitas Al‐Azhar dengan mengambil tesis khusus tentang Perundang‐ Undangan Dalam Islam pada tahun 1954 M.

Beliau juga tercatat sebagai salah seorang staf pengajar tafsir dan ulumul Qur’an di fakultas Syari’ah dan Dirosat Islamiyah Universitas Malik Abdul Aziz Makkah. Beliau juga dikenal sebagai pakar ilmu Al‐Qur’an, Bahasa Arab, Fiqh, dan Sastra Arab . Di samping sibuk mengajar, Al-Shabuni juga aktif dalam organisasi Liga Muslim Dunia. Saat di Liga Muslim Dunia ia menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Alquran dan Sunnah. Ia bergabung dalam organisasi ini selama beberapa  tahun, setelah itu ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk menulis dan melakukan penelitian.

Ali Al-Shabuni, telah menyelesaikankan tafsir ini (Shafwah al‐Tafasir), secara terus menerus dikerjakannya non‐stop siang malam selama lebih kurang menghabiskan waktu kira‐kira lima tahun. Dia tidak menulis sesuatu tentang tafsir sehingga dia membaca dulu apa‐apa yang telah ditulis oleh para mufasir, terutama dalam masalah pokok‐pokok kitab tafsir, sambil memilih mana yang lebih relevan (yang lebih cocok dan lebih unggul).

Shafwah al‐Tafsir merupakan tafsir ringkas, meliputi semua ayat A‐ Qur’an sebagaimana yang terdapat dalam judul kitab : Jami’ baina al‐Ma’tsur wa al‐Ma’qul. Shafwah al‐Tafasir ini berdasarkan kepada kitab‐kitab tafsir terbesar seperti al‐Thabari, al‐Kasysyaf, al‐Alusi, Ibn Katsir, Bahr al‐Muhith dan lain‐lain dengan uslub yang mudah, hadits yang tersusun ditunjang dengan aspek bayan dan kebahasaan.

Al-Shabuni mengatakan  dalam  pendahuluan  tafsirnya,  tentang penjelasan tujuan ditulisanya kitab ini, Diantara kewajiban ulama saat ini adalah mengerahkan kesungguhannya untuk mempermudah pemahaman manusia pada Al‐Qur’an dengan uslub yang jelas, bayan yang terang, tidak terdapat banyak kalimat sisipan yang tidak perlu, tidak terlalu panjang, tidak mengikat, tidak dibuat‐buat, dan menjelaskan apa yang berbeda dalam Al‐Qur’an yaitu unsur keindahan ‘Ijaz dan Bayan bersesuaian dengan esensi pembicaraan, memenuhi kebutuhan pemuda terpelajar, yang haus untuk menambah ilmu pengetahuan Al‐Qur’an al‐Karim’.

Kata  Al-Shabuni,  ‘saya  belum  menemukan  tafsir  al‐Kitabullah ‘Azza Wajalla yang  memenuhi kebutuhan  dan permasalahannya sebagaimana  disebutkan diatas dan menarik perhatian (orang) mendalaminya, maka saya terdorong untuk melakukan pekerjaan penyusunan ini. Seraya memohon pertolongan Allah al‐Karim saya berinama kitab ini : “Shafwah al‐Tafasir” karena merupakan kumpulan materi‐materi pokok yang ada dalam tafsisr‐tafsir besar yang terpisah, disertai ikhtisar, tertib, penjelasan dan bayan’. Adapun karya yang lainnya adalah : Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir, Mukhtashar Tafsir al‐Thabari, Jammi al‐Bayan, al‐Mawarits fi al‐Syari’ah al‐ Islamiyah ‘ala Dhau al‐Kitab dan Tanwir al‐Adham min Tafsir Ruh al‐bayan.

Latar Belakang Kitab Shafwah Al-Tafasir

Sebuah karya, apapun jenisnya termasuk kitab tafsir dalam masa pembuatannya, pasti tidak dapat dimungkiri dari aspek kultur‐sosial yang mengelilinginya. Pada tahun 1930 lahir sebuah karya tafsir dari tangan seorang ilmuwan kelahiran Syiria yang menambah deretan khazanah ke‐ilmu‐an ke‐ Islam‐an, yaitu “Shafwah Al Tafasir” yang disusun selama kurang lebih lima tahun sekaligus memberi kesan tersendiri bagi para sebagian kalangan ulama dan para pemerhati lainnya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya karya yang dilahirkan Al-Shabuni ini juga memiliki latar yang memberikan warna terhadap alur fikirannya dalam menafsirkan Al‐Quran. Dari data yang didapat mengenai latar belakang penyususnan kitab ini beliau menyebutkan.

  1. Menjunjung kalimatullah untuk memberi pemahaman terhadap kebutuhan umat dalam memahami
  2. Keberadaban Al‐Quran itu sendiri yang kekal dengan penuh keajaiban‐ keajaiban, penuh dengan mutiara‐mutiara kehidupan, senantiasa memicu akal untuk mengkajinya.
  3. Kenyataan semua ilmu akan hilang dimakan jaman, kecuali ilmu Al‐Quran
  4. Kewajiban ulama tetap mesti menjadi jembatan bagi pemahaman umat terhadap Al‐Quran dengan memberikan kemudahan dalam

Dari pemaparan beliau diatas nampaknya kita bisa melihat bagaimana sosio masyarakat yang ada ketika beliau menciptakan kitab tafsir ini. Jelas siapa yang menjadi sasaran serta bagaimana respon tafsirnya terhadap laju kultur dan kebutuhan lingkungan masyarakat dimana beliau berada.

Sumber, Metode dan corak Tafsir Shafwah al‐Tafasir karya Ali al‐Shabuni

Dalam menyusun kitab tafsirnya, Muhammad Ali Al-Shabuni menggunakan beberapa kitab tafsir lain sebagai rujukannya atau sebagai bahan perbandingannnya. Di antara kitab‐kitab tersebut adalah :

  1. Tafsir al‐Thabari, Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarīr at‐Tabarī.
  2. Tafsir al‐Kasyaf ‘an Haqãiq al‐tanzil karya Abul‐Qasim Jarul‐lah
  3. Tafsir Qurthubi.
  4. Tafsir Ruhul Ma’ani karya Al‐Alusi.
  5. Tafsir Ibnu Katsir.
  6. Tafsir Bahrul Muhith karya Abi Hayyan,
  7. Tafsir al‐Jauzy
  8. Hãsyiyatu as‐sãwī ‘ala al‐Jalalain
  9. Muhtasar Ibnu Katsir
  10. Gharībul qur’an karangan Ibnu
  11. Majaz Al‐Qur’an karangan Abu ‘Ubaidah
  12. Tafsir al‐Kabīr karya Al‐Fahru al‐Din ar‐Rãzi
  13. Asbabun Nuzul karya al‐Wãhidi

Dalam upaya menjelaskan maksud‐maksud makna ayat dalam kitab tafsirnya ini, beliau mengambil berbagai rujukan dari kitab‐kitab tafsir ulama salaf. Dalam menjelaskan sisi kebahasaan  beliau  mengambil  beberapa  rujukan, seperti: al‐Zamakhsyari, tafsir al‐Baidlawi, Mu’jam li al‐fadz Al‐Qur’an milik al‐Raghib al‐Asfahaniy, al‐Harawi, al‐Khothobi, Ibn Faris, Tsa’lab, al‐Hajjaj, al‐Asma’iy, al‐Fara’, Bahr al‐Muhith, al‐Mishbah, Kasyf al‐Ma’ani tafsir Ibn Jama’ah, al‐Kasyasyaf, Majaz al‐ Qur’an, Tahdzib al‐Lughah, al‐Shihah milik al‐Jauhari, al‐Qomus, al‐ Shawi ‘ala al‐ Jalalain, Lisan al‐‘Arab.

Dalam menafsirkan ayat beliau mengambil beberapa rujukan, seperti pendapat/fatwa sahabat;  seperti  Ibn  ‘Abbas,  tafsir  Ibn  Katsir  dan  mukhtasharnya, Tafsir Abu Su’ud, Ashab al‐Sunan, tafsir al‐Thabari dan beberapa penafsir lain termasuk mufassir yang beliau ruju’ dalam menjelaskan sisi kebahasaan.

Dalam menjelaskan sisi munasabah, diantaranya beliau merujuk tafsir Abu Su’ud, dalam menjelaskan sisi balaghah diantaranya beliau merujuk pendapat Sahabat Sa’ad, ulama ahli bahasa, seperti al‐Raghib, mufassir, seperti Talkhish al‐ Bayan milik al‐Ridha, al‐Futuhat, al‐Tafsir al‐Kabir, Talkhis al‐Bayan, Rawai’ al‐Bayan dll.

Dalam sisi sabab al‐Nuzul, diantaranya beliau  merujuk  pendapat  sahabat  Ibn ‘Abbas, Zad al‐Maisir, Asbab al‐Nuzul milik al‐Wahidi, al‐Bukhari.

Dalam sisi fawaid, diantaranya beliau meruju’ pada  perkataan  sahabat  seperti Ibn ‘Abbas, Ibn Mas’ud; tabi’in, seperti Imam Mujahid, mufassir seperti al‐Qurthubiy, al‐Qusyairiy, Mahasin al‐Ta’wil, tafsit al‐Qasimi, al‐Tashil fi ‘Ulum al‐ Tanzil, Irsyad al‐‘Aql al‐Salim, al‐Tashil milik Ibn al‐Jizi, al‐Tahqiq al‐Mufashal, al‐Dur al‐Mantsur, Ibn al‐Mardawaih, al‐Bazar, al‐Thabrani dan lain‐lain.

Untuk memepermudah dari apa yang menjadi tujuan beliau dalam upaya memberi pencerahan dalam pemecahan permasalahan zaman maka gaya pembahasan yang beliau lakukan yaitu melalui tahapan‐tahapan metode, yaitu :

  1. Mengumpulkan dan meng‐intisari kitab‐kitab tafsir induk serta mengambil argument yang paling shahih
  2. Menyusun kategorisasi    ayat‐ayat    untuk      menjelaskan   tiap‐tiap permasalahan dalam surat dan
  3. Menafsirkan kandungan surat secara ijmali seraya menjelaskan maksud‐ maksudnya yang mendasar
  4. Membahas munasabah antar ayat sebelum dan sesudahnya
  5. Menjelaskan aspek kebahasaannya secara etimologi dan menjelaskan perbandingannya dengan pendapat ahli Bahasa Arab
  6. Menjelaskan Asbabun Nuzul
  7. Menjelaskan gaya bahasanya (balaghah)
  8. Menjelaskan faidah‐faidah dan hikmah‐hikmah surat dan ayat
  9. Memberikan

    Metode yang digunakan dalam Tafsir Shoafwah Tafasir adalah memakai metode tahlili. Dalam menfasirkan setiap surat, sistematika penulisan yang diterapkan Muhammad Ali Al-Shabuni dalam tafsirnya antara lain:

    1. Menjelaskan surat Al‐Qur’an secara global, kemudian merinci maksud‐ maksud yang  terkandung  dalam  surat  tersebut  seperti  menjelaskan kandungannya yang berkaitan dengan masalah akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, permasalahan pernikahan, talak, ‘iddah dan juga tentang permasalahan hukum.
    2. Menjabarkan hubungan antar ayat sebelum dan ayat
    3. Menjelasakan tentang latar belakang penamaan
    4. Penjelasan faedah‐faedah atau keutamaan yang bisa dipetik dari suatu
    5. Kemudian menuliskan ayat‐ayat al‐Qur’an dengan memulai satu ayat hingga 4 surat atau
    6. Setelah menuliskan ayat‐ayat al‐Qur’an, beliau baru memulai pembahsan tentang tafsir ayat
    7. Dilanjutkan pembahasan tentang hal yang berhubungan dengan bahasa, seperti akar kalimat, dan bukti‐bukti kalimat yang diambil dari ungkapan orang arab
    8. Pembahasan tentang Asbab an‐Nuzul
    9. Pembahasan ayat dari segi (Ali Al‐Shabuni, 1987:20)

    Apa yang digambarkan di atas, memberi gambaran mengenai corak penafsiran dalam tafsirnya. Kehidupannya yang sarat dengan problematika sosial dari berbagai aspek kehidupan dituangkan dalam tafsirnya yang dijelaskan dengan kebahasaan dan rasional menunjukkan corak tafsir al‐adab al‐Ijtimai.   Berupaya   menyingkap   keindahan   bahasa   al‐Quran   dan  mukjizat mukjizatnya menjleaskan makna dan maksudnya. Memperlihatkan  aturan‐ aturan Al‐Qur’an tentang kemasyarakatan dan permasalahan ummat lainnya secara umum. Semua itu diuraikan dengan melihat petunjuk‐petunjuk Al‐Quran yang menuntun jalan bagi kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Corak Penafsiran

    1. Kecenderungan Teologis
      Mengingat penulis kitab shafwatu Al‐Tafasir adalah seorang ulama yang hidup pada masa dimana aliran‐aliran teolog telah ada (sementara belum muncul lagi aliran teolog yang baru), maka sudah dipastikan aliran pemahaman teologisnya akan mengikuti atau sefaham dengan para aliran teolog pendahulunya.
    2. Kecenderungan Fiqih
      Sebagaimana diketahui, fikih membicarakan banyak hal terkait perkembangan ibadah yang telah jelas nashnya di dalam Al‐Quran dan As Sunnah, namun diantaranya masih terdapat ruang untuk bisa ijtihad terhadapnya.Disini para fuqoha banyak melakukan kajian secar amendalam, sehingga diantaranya terlahirlah berbagai macam aliran seiring  perbedaan  manhaj dan thuruq yang merekalakukan, dan pada perkembangannya, upaya fuqoha ini menjadi madzhab yang berdiri diatas khazanah ilmu‐ilmu ke‐  Islaman. Sebagaimana diatas, disisnipun akan disajikan beberapa penafsiran beliau terkait ayat‐ayat yang dipandang padanya mengandung fiqih, serta kalaupun juga dimungkinkan aspek kecenderungan aliran fiqih beliau. Yaitu sebagai berikut:

    Tentang Basmalah, apakah ia termasuk bagian ayat dalam Al‐Quran?

    Dalam membahas masalah ini beliau mengemukakan tiga pendapat imam madzhab:

    • Syafi’iah beristidlal dengan dalil‐dalil naqli dan aqli yang menyatakan bahwa basmalah termasuk kedalam surat alfatihah dan semua surat dalam Al‐ Quran kecuali surat al Taubah.
    • Malikiyah: Mereka beristidlal bahwa basmalah bukan termasuk ayat dalam surat al‐Fatihah, dan bukan pula termasuk dalam surat diseluruh Al‐Quran, hanya saja penulisan basmalah tersebut berupa “tabarruk” (meminta berkah).
    • Hanafiyah: memandang bahwa pencantuman basmalah pada mushaf menunjukan bahwa ia adalah termasuk bagian Al‐Quran, akan tetapi tidak menunjukan ia merupakan bagian ayat dalam seluruh surat pada Al‐Quran.

    Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Shafwah al‐Tafasir karya Ali al‐Shabuni

      Kelebihan dari kitab tafsir ini adalah penjelasannya lengkap. Sedang kekurangannya yaitu memasukkan pendapat yang berbeda dari ideologi itu.

      Pujian Ulama terhadap Kitab Al Shafatu Al Tafasir

      1. Abdul Halim Mahmud (Rektor Universitas Al Azhar)
        Beliau mengatatkan bahwa Kitab Shafwah Al Tafsir bebas dari keberpihakan madzhab. Dalam mengambil suatu pendapat, as‐Shobuni selalu mengambil pendapat ahli tafsir paling shahih untuk menjaga  dari  pendapat  yang salah. Tafsirnya merupakan ringkasan dan memiliki  karakter  memudahkan. Apabila seseorang menggunakan dari sebagian akalnya maka sungguh ia tidak akan ragu untuk mengambil kitab ini karena penyusunnya (Al Shabuni) mencurahkan tenaga, fikiran untuk menyesuaikan pilihannya dengan mengambil dari kitab‐kitab tafsir induk yang bersumberkan kepada ilmu dan bashirah.
      2. Abdullah bin Humaid (Ketua majlis ta’lim dewan agung Masjidil Haram) mengatakan bahwa dalam shofwah tafasir berisi :
        • Penyusun mencurahkan semua ijtihad dalam penyusunan kitab ini b.Penyusun memilih pendapat mufasir yang paling sahih.
        • Memilih tafsiran yang paling rajah
        • Menggabungkan metode tafsir bil ma’tsur dan bil ma’qul
        • Pemaparannya dengan menggunakan gaya bahasa yang jelas dan lugas
        • Mengambil hadits‐hadits yang mudah difahami
        • Menyebutkan maksud asas‐asas surat dengan ringkas
        • Menjelaskan munasabah surat dan ayat
        • Menjelaskan sababun nuzul surat dan ayat
        • Menjelaskan tafsir ayat per ayat tanpa menjelaskan kandungan I’rabnya
        • Mejelaskan kaitan ayat dengan mengambil istinbath
        • Menjelaskan makna‐makna ayat dari sudut balaghahnya
        1. Syaikh Abul Hasan Ali Hasan Al Nadwi
          Kitab tafsir ini menunjukan dari berbagai keleluasaan ilmiyah; mulai dari tafsir, hadits, sirrah dan tarikh. Memudahkan para pembacanya, terutama pada masa sekarang lebih mendekati apa  yang dibutuhkan pada  pemecahan permasalahan‐permasalahan  kekinian  sehingga  orang  akan  melek terhadap beberapa  pendapat  , pandangan  dan  madzhab‐madzhab. Oleh  sebab itu,  kitab ini besar faedahnya, mulya kedudukannya lantaran tidak hanya fikiran yang penulis curahkan melainkan waktu, tenaga, harta dan lain‐lain. Karya  ini  disusun dengan upaya penilaian ilmu tafsir yang cukup lama sehingga memberikan gambaran yang mendalam dari sisi kualitas tafsirnya.
        2. Abdullah ‘Umar Nashif
          Dalam rangka memahami ayat Al‐Quran, kehadiran kitab tafsir ini memberikan kemudahan kepada umat dalam penyampaiannya,  karena  Allah  swt telah mencurahkan kepada sahibul kitab ini hidayah taufiq.

          Polemik Shofwah at‐Tafasir

          Di antara karya‐karya besar Al-Shabuni, Shofwatut‐Tafasir adalah yang paling banyak mengundang polemik. Polemik ini lahir terutama saat beliau  menafsirkan suatu ayat a la asy’ary [dengan menggunakan methode ta’wil]. Misal sebagaimana yang dijelaskan Syeikh Sholih bin Fauzan:

          [Surat Al‐baqoroh ayat:112] بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ

          Dalam menafsirkan ayat ini Al-Shabuni mengutip pendapat dari Imam al‐Rozi  dalam tafsirnya Tafsir Kabir yang menakwilkan “الوجه” dengan “النفس” , maka makna ayat ini menurut al‐Rozi: “ memasrahkan diri untuk selalu taat kepada  Allah”. Dengan mengambil justifikasi dari ayat: “ كل شئ هالك الا وجهه“. Ini hanya satu dari tafsir ayat yang disentil oleh syeikh Sholih bin  Fauzan  salah  seorang ulama Saudi yang menyebut ta’wil pada ayat ini sebagai ta’wil bathil karena ta’wil al‐wajh dengan makna ad‐zat sebagaimana manusia sama dengan meniadakan sifat Allah yang telah pasti. Untuk juz 1 saja Syeikh Sholih bin Fauzan mencatat 54 kesalahan dari berbagai macam disiplin ilmu,  termasuk Fiqh, dan lain‐lain.

          Keseluruhan kesalahan Muhammad Ali Al-Shabuni dalam Shofwah at‐Tafasir beliau rangkum dalam kitabnya “Al‐bayan li Akhtho’i ba’dhi al‐Kitab”. Masuk dalam barisan panjang ulama penolak tafsir ini di antaranya: Syeikh Muhammad Jamil Zainu salah satu staf pengajar tafsir di Universitas Darul Hadits Makkah, Syeikh Sa’ad Dzullam, Syeikh Bakr Abu Zayd, yang masing‐ masing mengungkapkan kritik dan penolakannya dengan menerbitkan kitab tafsir tersebut.

          Dalam buku besarnya “Ar‐Rudud”, syeikh Bakr Abu Zayd menyorot perilaku Al-Shabuni yang mengumpulkan penafsiran dari penafsir‐penafsir  besar dengan latar belakang ideologi berbeda dalam satu kitab tafsir, seperti Zamakhsyari yang Mu’tazili, Ibnu Katsir dan Thobari yang Salafi, Ar‐Rozy yang Falsafi, Thibrsy yang Rhofidhy, dan berbagai sumber lainnya.

          Aksi penolakan ulama‐ulama besar Saudi ini mau tidak mau memaksa pihak kementrian badan waqaf Kerajaan Saudi Arabia pada waktu itu menurunkan perintah pelarangan beredarnya kitab ini. Juga surat edaran dari direktur umum badan waqaf dan masjid di Riyadh bernomor: 945/2/ص , في 16/4/1408 H melarang penyebaran dan memperbanyak kitab tafsir ini sampai ada perbaikan permasalahan ideologi di dalamnya.

          Memang benturan ideologi dalam tafsir ini tidak bisa elakan, karena ada saat Al-Shabuni menggunakan penafsiran model Salafy yang mempraktekan metode “tafwidh ilallah” khususnya ketika beliau merujuk tafsir dari Ibnu Katsir. Dan ada saat kita akan melihat beliau mengambil penafsiran model ar‐ra’yi yang menggunakan methode “ta’wil”, khusunya ketika beliau mengambil tafsir dari Ar‐Razi. Namun untuk Mu’tazilah beliau menjelaskan tidak mengambil dari Zamakhsyari kecuali penjelasan tentang masalah bahasa saja. Kenyataan ini membuat kita sulit mengira‐ngira apa gerangan ideologi as‐Shobuni.

          Terlepas dari permasalahan ideologi Al-Shabuni, DR.Abdul Halim Mahmud guru besar Al‐Azhar menegaskan bahwa, “ikhtiyarul mar’i qith’atun min aqlihi” maka lanjut beliau lagi, bisa dikatakan apapun yang dipilih dan diambil Al-Shabuni dari kitab‐kitab tafsir besar merupakan persetujuan beliau terhadap penafsiran‐penafsiran itu. Di antara karya‐karya besar Al-Shabuni, Shofwatut‐Tafasir adalah yang paling banyak mengundang polemik. Polemik ini lahir terutama saat beliau menafsirkan suatu ayat(dengan menggunakan methode ta’wil). Misal sebagaimana yang dipaparkan syeikh Sholih bin Fauzan: (tidak demikian) bahkan Barangsiapa yang menyerahkandirikepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS:2:112).

          Ini hanya satu dari tafsir ayat yang disentil oleh syeikh Sholih bin Fauzan salah seorang ulama Saudi yang menyebut ta’wil pada ayat ini sebagai ta’wil bathil karena ta’wil al‐wajh dengan makna ad‐zat (sebagaimana manusia) sama dengan meniadakan sifat Allah yang telah pasti. Untuk juz 1 saja Syeikh Sholih bin Fauzan mencatat 54 kesalahan dari berbagai macam disiplin ilmu termasuk Fiqh, dll. Keseluruhan kesalahan syeikh Al-Shabuni dalam Shofwah at‐Tafasir beliau rangkum dalam kitabnya “Al‐bayan li Akhtho’iba’dhi al‐Kitab”.

          Masuk dalam barisan panjang ulama penolak tafsir ini di antaranya: Syeikh Muhammad Jamil Zainu pengajar tafsir di universitas Darul Hadits makkah, Syeikh Sa’ad Dzullam, Syeikh Bakr Abu Zayd, dll yang masing‐masing mengungkapkan kritik dan penolakannya dengan menerbitkan buku. Dalam  buku besarnya “Ar‐Rudud”, Syeikh Bakr Abu Zayd menyorot perilaku Al-Shabuni yang mengumpulkan penafsiran dari penafsir‐penafsir besar dengan latar  belakang  ideologi  berbeda  dalam  satu  kitab  tafsir,  seperti  Zamakhsyari yang Mu’tazili, Ibnu Katsir dan Thobary yang Salafi, Ar‐Rozy yang Asy’ari, dll. Aksi penolakan ulama‐ulama besar saudi ini mau tidak mau memaksa pihak kementrian badan waqaf Kerajaan Saudi Arabia pada waktu itu menurunkan perintah pelarangan beredarnya kitab ini. Juga surat edaran dari direktur umum badan waqaf dan masjid di Riyadh pada 16/4/1408 H melarang penyebaran dan memperbanyak kitab tafsir ini sampai adaperbaikan permasalahan ideologi di dalamnya.

          Memang benturan ideologi dalam tafsir ini tidak bisa elakan, karena ada saat Al-Shabuni menggunakan penafsiran ala Salafy yang mempraktekan methode “tafwidh ilallah” (khususnya ketika beliau merujuk tafsir dari Ibnu Katsir). Dan ada saat kita akan melihat beliau mengambil penafsiran a la Asy’ari yang menggunakan methode “ta’wil” (khusunya ketika beliau mengambil tafsir dari Ar‐Razi). Namun untuk Mu’tazilah beliau menjelaskan tidak mengambil dari Zamakhsyari kecuali penjelasan tentang masalah bahasa saja.Kenyataan ini membuat kitas ulit mengira‐ngira apa gerangan ideologi Al-Shabuni. Terlepas dari permasalahan ideologi Al-Shabuni, DR.Abdul Halim Mahmud menegaskan bahwa, “ikhtiyarulmar’iqith’atun min aqlihi” maka lanjut beliau lagi, bisa dikatakan apapun yang dipilih dan diambil Al-Shabuni dari kitab‐kitab  tafsir besar merupakan persetujuan beliau terhadap penafsiran‐penafsiran itu.

            Kategori: Artikel

            1 Komentar

            zrelaksowania · November 26, 2020 pada 12:58 am

            Hey very nice blog! http://upadlosc.rawa-maz.pl/

            Tinggalkan Balasan

            Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *