Bagaimana jika kau adalah sebuah gelas di cafe pegunungan yang sedang jatuh cinta pada seorang pelanggannya, hanya seorang, dan dia adalah seorang perempuan paling menarik yang pernah kau lihat?

Kau diam-diam akan selalu menukar posisi di rak, ketika pelayan datang dengan gerak lesu bekerja meracik pesanan kopi. Kau mulai hari setelah pandangan dan sentuhan pertama, menunjukan sikap hati-hati. Kau tidak ingin digunakan, kecuali oleh perempuan pujaanmu. Kau benar-benar tak rela bekas bibirnya yang sempurna pada lekung bibirmu digantikan oleh sentuhan bibir yang lain.

Aroma napasnya, belaian jemari lembutnya yang sensual mengusapmu mesrah dari sisi ke sisi, dari bagian ke bagian tubuhmu, serta tatapan matanya yang sendu seakan mengunci semua waktu dan telah membuatmu menjadi gila. Kau bahkan tak pernah ikut tidur ketika kafe tutup dan waktunya bagi bangsa gelas untuk istirahat. Sekadar memejamkan mata. Mengendurkan serat-serat yang tegang, setelah seharian menampung aneka jenis minuman dari yang panas hingga yang paling dingin. Dari yang jernih sampai yang paling berwarna.

Disana terdapat temanmu yang tampak paling tua dengan garis-garis bekas goresan dan sisa warna minuman yang menebaldi otot-otot tubuhnya. Pelayan-pelayan itu tidak membedakan mana gelas untuk minuman panas, dan mana untuk minuman dingin. Semua seolah sama saja! Juga soal usia. Tua dan muda dikenai kerja yang sama.

Kau menampilkan senyum kecil, pikiranmu sedang tidak ingin sibuk selain soal kangen kepada perempuan itu. Satu per satu lampu dipadamkan. Gemas doa mengalun dalam syair-syair bangsa gelas. Kalian tengah berkabung karena hari ini, satu dan dua teman meninggal dunia.

Dalam setahun dapat dipastikan terdapat enam ratus gelas di Kafe itu pecah. Penyebabnya bervariasi, meski masih didominasi oleh persoalan ketahanan fisik dan mental. Kau sendiri merasakannya, baru beberapa menit menahan air mendidih seratus derajat celcius langsung dari panci, diaduk-aduk dengan keras, lalu berganti dengan menahan es pada nol derajat, dan kembali diaduk-aduk agar jus buah naga itu merata bersama dingin dalam tubuhmu yang pusing bukan kepalang. Setelah itu, semalam penuh dadamu sesak, tak dapat tidur. Tapi, itu dulu, sebelum kau jatuh cinta.

Acara doa berakhir, para gelas mengatur napas. Aroma sabun menggantikan suasana, teman-temanmu yang baru saja dicuci, digosok dan dicelup-celup, terlelap lelah sembagi mengeringkan diri.

Kau masih ingat,  pertama kali perempuan itu datang dengan syal abu-abu yang digunakan pada lehernya. Dia tidak seperti perempuan lain yang datang ke Kafe ini, dia tidak bersama pasangannya. Dia hanya membawa buku catatan. Pertemuan kalian pun, sebagaimana kebanyakan pertemuan cinta, tidak disengaja.  Kau baru saja ditarik dari meja sebelahnya. Gila, kau benar-benar masih ingat, mejamu saat itu nomor tiga dan dia duduk di nomor empat. Kalian sebenarnya berjarak satu setengah meter.

 

“ Tapi perasaan tidak mengenal jarak, perasaan hanya mengenal kesempatan,” kau tersenyum.

 

Ketika kesempatan pertamamu datang, kau pun berada di depannya, tepat di sisi lengan kanan. Kesan pertama untukna adalah dia adalah perempuan yang menjengkelkan, dingin, dan sombong. Dia membiarkanmu  begitu saja dalam waktu yang pantas untuk disebut lama. Dia sibuk memandangi hujan di luar jendela dan tersenyum entah untuk apa.

Sebagai gelas, kau pun memiliki perasaan. Perasaan yang lebih dari pengabdian sebagai alat, meski manusia tidak peduli tentang ini. Kau geram, ingin rasanya kau memiringkan dirimu sendiri agar kopi dalam tubuhmu tumpah membanjiri meja dan mengingatkan perempuan angkuh itu. Apa sih menariknya hujan yang jernih, tanpa rasa, dan tanpa warna dibandingkan dengan aku yang membawa kopi hangat dengan pahit yang tepat.

“Astaghfirullah, aku sampai lupa.” Dia seakan tersadar, ketika sedang menuliskan sesuatu ternyata tangannya menyentuh hangat tubuhku. Sentuhan yang mesti biasa saja, namun entah rasanya membuatku gemetar begitu.

“Maafkan aku,” dia berkata-kata dengan lirih, lembut dan menatapmu penuh seluruh, seakan tahu persis isi hatimu, “bukan maksudku mengabaikanmu.” Ia memohon.

Kau tersentak, kalau ia tahu isi hatimu itu artinya segala ucapan kasarmu juga ia dengar ?

Ia tersenyum, kemudian terpejam mendekatkan wajahnya ke wajahmu, kau tersipu malu.

Dihirupnya aroma kopi dalam tubuhmu, perlahan dan seakan teramat mengasyikan. Kau gelisah, badanmu baru saja digunakan buat menampung kopi hangat yang sudah diminum oleh perempuan itu.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me