Apakah kau lihat ke arah sana,kawan? Selasar hijau berlatar rindang dan hamparan sawah yang menguning. Setiap kali angin subuh berderu melewati jalanan sunyi pasti terdengar renyah saat menabrak dedaunan trembesi yang masih segar nan belukar. Coba kau hadapkan lagi pandanganmu ke arah rumah di depan sana. Ya! Benar sekali, tampak rumah itu sangat asri lagi sederhana. Pagar merahnya berjejer rapih membentuk barisan prajurit perang. Di pucuknya,berdiri seekor ayam jago berkokok merdu. Melengkingnya begitu sempurna. Sampai-sampai berani memecahkan keheningan subuh yang tentram. Disitu pula semerbak aroma pohon apel yang tengah ranum lalu merebak menyusuri celah-celah perkampungan. Itulah barokah bagi penghuni kampung dan masih banyak lagi yang bersembunyi di tiap sudut-sudut musholla,masjid,sekolahan, dan macam macam tempatnya.

Senyapnya fajar diikuti dengan habisnya kopi pak hansip yang sudah berhari-hari diisap laler nakal. Kampung itu terletak pada sajak-sajak para penyair roman yang bertajuk “Kampoeng Ijo” ciri-cirinya begitu sesuai dengan mozaik alammya yang begitu memukau. Sajak tersebut terpampang jelas dalam benak si pembaca.

Salah satu dari isinya mengisahkan kehidupan subuh kampoeng Ijo. Kala subuh menyapa,semilir angin berputar-putar dan tak sengaja beradu sengit dengan suara adzan. Sedangkan jalan berkerikil tajam bagai diterpa oleh kesunyian yang meratap keadaan.sepi. dan rumah itu termasuk didalamnya. Masalahnya, bukan tak ada orang yang berangkat ke masjid atau berapa dedaunan trembesi yang menyentuh gemburnya tanah. Tapi rumah itu, dibalik tetingkap kaca, ada kejadian langka yang tak dapat kau pungkiri,kawan! Ada segelintir kisah yang telah dirajutnya sekian lama dan kau tak akan tahu berapa lamanya. Lampu temaram berpijar remang menimbulkan siluet kehitam-hitaman. Sesosok pemuda tengah menggelar sajadah tuanya. Berdiri khusu’ menghadap kiblat. Mengapa dia tak beranjak pergi ke masjid? Justru di waktu inilah dia lebih memilih menyendiri bersama tuhan. Dia merasa tak nyaman jika sholat berjamaah. Mungkin terlalu ramai tuk memanjatkan doa. Jikalau si pemuda ingin memperkenalkan dirinya. Itulah diriku yang sedang bercerita.

Pertama-tama, didalam keremangan fajar yang menggigil sejuknya, aku mulai menjalankan syariat wajib. Tetesan bekas wudhu menetes perlahan seakan tak ada yang menghalanginya. Menggenangi doa-doa dalam sajadahku. Usholli fardhu ssubhi Allahu Akbar kala itu ayam berhenti berkokok.

Di tengah khusuknya sholat, ada saja sesuatu yang terbesit dalam pikiran. Terasa berat hingga susah tuk dihilangkan. Hatiku kacau balau tak dapat terkoneksi dengan tuhan. Niat khusukku hilang tergerus goresan masa lalu yang semakin mengguncangkan kepala. Maaf Ya Allah, hamba ini tak bisa melanjutkan dialog dengan-Mu sesingkat dua rakaat. Para syetan beramai-ramai menjebloskan diriku kemana masa kelam itu bermuara. Diantara masa-masa itu ada satu masa yang tak semanis anggur merah dan tak sepahit buah maja. Masa itu ialah masa cinta yang terbelenggu suka maupun duka. Walaupun banyak dukanya dan memori itu baru saja dimulai…

***

“tendang bolanya!!… ciatt “sahut sang kapten,Dasyri yang suaranya mencuat ke segala penjuru. Diriku mulai mengontrol bola. Taktik demi taktik kuusahakan untuk melewati bek-bek berbadan beton yang menjadi andalan jitu paling ditakuti sekampung Ijo. Meskipun badanku tak sebesar mereka, tapi lihat dulu skillnya,tiada duanya. Menerobos sesuka hati ke area lini tengah,samping , belakang musuh tanpa disadari kehadiranku. Jika kalian tanya soal bagaimana kelihaian menendang, Hmm.. jangan harap selamat, yang menghadang pun akan kesakitan yang berlarut-larut.

Mungkin pertandingan ini tanpa wasit. Tapi, peraturan tetap peraturan . Diriku dilanggar di kotak pinalti. Ini merupakan tanda-tanda munculnya aroma kemenangan. Semuanya grogi minta ampun kecuali diriku yang siap mengeksekusi pinalti. Tarik napas lalu hembuskan. Aku berdiri berhadapan dengan kiper. Walau ini bukanlah pertandingan resmi, gawangnya bukannya berjaring melainkan bersandal.

“Ayo..Roji!! semangat!” sorak sorai rekan tim mengerumuni sekitaran lapangan. “Tendang!! Jangan kasih ampun!!” 1..2..3… Jederrr. Apakah masuk atau tidak? Alhasil bola itu pun melambung jauh dan juga jauh dari harapan. Kiper hanya melongo tak berkutik memandangi bola melayang tak terarah. Aku yang sendiri disini mencoba memprediksi jatuhnya bola. Aww… bola itu pun tepat jatuh dan sempat mengenai bahu seorang gadis berkerudung biru. Barang belanjaannya jatuh tergeletak dan isinya semburat kemana-mana. Aku siap berlari mengambil bola yang terdampar disana. Saat tepat ku mengambilnya, Tak sengaja ku bertatapan dengan si gadis tersebut. wajahku tiba-tiba tersemsem sendiri. Merah genit muncul di tiap-tiap pipiku. Melihat wajahnya yang manis tak karuan membuat orang pangling di sekitarnya.matanya yang lentik dan senyumnya begitu aduhai membuat diriku salah tingkah.

”Sakit tidak? Maaf, aku gak sengaja”

“Iya gak apa apa.. ” senyumnya lagi tersipu malu.

Setibanya di lapangan, “Dasyri,Kenalkah kau dengan dia?!” tanyaku. “Entahlah..” jawab Dasyri. Sementara, Si gadis pun hilang dari pandangan.

Allahu Akbar… udara masih sesejuk saat takbirotul Ihrom. Sejak SD dulu, biasanya aku,Badrun, dan Dasyri menjadi komplotan tukang jahil. Tak ayal jika julukan yang tersemat karena perangai buruknya. Badrun sering mendobrak WC murid. Dasyri sering mencorat-coret tembok sekolah. Dan Aku sering mencolong jajanan kantin. Pernah ketahuan sekali tapi malah digebukin berulang kali. Hmmm… kala itu, kantin sedang ramai. Berdesakan dari ujung ke ujung. Inilah waktu yang tepat untuk melancarkan misi. Semuanya aman terkendali.

Ambil sana ambil sini tanganku semakin menjalar bebas. Kantong ini penuh barang haram. Lantas, aku berlari kencang menjauh sambil membuat jejak kecil yang tak terdengar oleh si penjual.

Di tengah pelarianku yang buru-buru, Brakk.. Benturan keras serasa sangat pedih. Diriku terhuyung jatuh berguling-guling bersama jajanan tadi. Bukan terpeleset, namun bertabrakan dengan seorang anak gadis. Gadis yang pernah ku kenal senyumnya dalam mimpi .manis sekali. Entah kapan waktu itu, aku tak sempat minta maaf. Pokoknya dia begitu familiar dengan kerudung biru. Sepertinya.

Samiallahu liman hamidah…siapakah gerangan? Siapakah gadis yang muncul tiba-tiba? Siapakah gadis yang benturan kemarin? Hmm… Hujan semakin liar menderaskan jalanan berbatu. Suara rintikan yang berbaur aroma kerinduan pada seseorang. Suatu saat sepulang sekolah, diriku terjebak oleh ganasnya hujan. Yang ganas bukanlah hujan sore ini tapi rasa keingintahuanku yang malah menggila dan tambah meruncing.

“Roji! Nekat saja! Kau itu lelaki! Hujan tak membuatmu goblok!” ujar Dasyri

“Hujan Cuma buat kamu sakit saja! Terus.. kau gak masuk sekolah. Alasannya demam. Di rumah, kau bisa colong mangga pak Tumini. Enak kan” tambah Badrun

“Maaf.. hujan menurutku bukan apa yang kalian terka… ada seseorang yang sedang menunggu redanya hujan. Mumpung aku bawa payung, aku ingin pulang bersamanya.”

Pandanganku melesat ke arah gadis disana. Sedang menyelimuti dan mungkin menggigil. Ku beranikan mendekatinya. Sambil menawarkan payung tuk pulang bersama.

Kring..kring.. tiba-tiba, sepeda ontel tua berhenti sejenak di depan gerbang. Menabrak tetes per tetes hujan tanpa ragu. Ternyata, si gadis menunggu jemputan dari seorang lelaki. Siapa lagi dia berani-beraninya merusak rencana Grrrmph.. Ohh itu bapaknya.

Allahu akbar…. kamar masih remang-remang adanya. Subuh belum beranjak pergi. Dalam diri masih bertanya-tanya. Siapakah dia? Ya Allah bantulah secuil dari rahmat-Mu untuk berkenalan dengan dirinya. Meskipun itu hanya dalam sujud dan dzikirku.

Sementara, waktu mengalir begitu deras. tanpa pamit, ia tetap tak menggubris keadaan.

Aku tidak bersekolah lagi. Dasyri bekerja menjadi buruh pabrik odol dan Badrun menjadi tukang cat keliling. Hidupku serasa bebas tanpa hambatan setelah diriku kena sanksi akibat ikut tawuran antar sekolah. Aku bersembunyi di balik jemuran rumah guru agama. Sedangkan seragamku bersimbahan darah. Beliau melihatku sekaligus curiga.

Kemana gadis berkerudung biru? Aku ingin cepat bertemu lalu berkenalan. Itu saja! Sudah bertahun-tahun tak mendengar batang hidungnya. Hmmm.. mungkin dia telah berkuliah di tempat nun jauh. Jikalau aku mengerti alamatnya, pasti secepat apapun ku akan datang.pasti!

Kemarin, Badrun seperti biasa berkeliling kampung untuk kerjaannya mengecat tembok sepanjang kampung Ijo. Dia bertemu temannya yang kerja mengaspal jalan. Berdialog sebentar. Di ujung pembicaran, topik semakin menyimpang dan membicarakan seorang wanita. Dan wanita itu sama perihalnya dengan gadis kerudung biru. Desas-desus dia pergi kuliah di Jakarta. Dzuhur itu, aku titip salam ke Badrun dan Dasyri kalau aku akan pergi ke Jakarta. Selamat tinggal!

Allahu akbar… ada yang bilang dia di Jatinegara,Kramat Jati, Pasar Senen. Mana yang benar? Pernah diriku tersesat diantara gang kumuh Jakarta. Disana kawanku hanyalah tukang sol sepatu, tukang es cendol, mas-mas tukang ojek. Tapi, mereka siap mengantarku ke seluk-beluk perkotaan yang pengap akan kebisingan politik. Cuma sekedar menemani. Tarik napas lalu hembuskan.

“Di Monas, ada festival budaya besar-besaran. Ikut gak?” tanya tukang ojek.

“Ayo sajalah..! mumpung di Jakarta” jawabku semangat.

Sesampainya disana, kerumunan orang layaknya lautan manusia berlayar di celah sinar warna-warni kemegahan festival. Aku dan tukang ojek celingukan mencari tempat nyaman. Dimana ya? Pokoknya bisa merasakan nikmatnya udara sliwar-sliwir menyentuh tubuh. Dipilihlah warung kopi. Hmm.. ramai sekali.sesekali ku memandang ke dalam warung Hah..! ada yang aneh seperti ku kenal ciri-ciri tersebut. Gadis berkemeja kotak dan bercelana lagging tengah bergandengan dengan lelaki lain. Entah kebetulan atau tidak, apakah dialah gadis berkerudung biru?

Allahu akbar… sampai detik ini aku belum tahu namanya. Seusai pusing berjelajah hutan Jakarta, aku memilih berdiam di masjid lalu sembahyang. Sekedar mengucurkan penat yang menempel di baju. Aku tertidur. Dalam mimpi, aku seakan bertemu kyai sepuh. Jenggotnya tebal memenuhi sekujur tubuh. Beliau memberikan sedikit wejangan kehidupan.

Le.. janganlah kamu mencari kesenangan duniawi semata.. mana ukhrawi-mu? Tenang saja, Allah pasti meloloskan kamu dari rumitnya masalah. Masalah cinta? Hahaha itu hal sepele. Wa kholaqnaakum azwaajaa kau takkan salah dengan wanita yang kau pilih. Seumpama dia bukan pilihanmu, bukankah Allah yang maha tahu? Jangan pacaran saja ! ingat!”

Lantas ku terbangun dari mimpi tadi. Adakah yang salah dengan diriku? Langsung ku bersimpuh dan bertaubat nasuha. Tangisku merayap tak karuan mencoba tuk melupakan kejadian yang sudah-sudah. Gadis itu? Maafkan diriku ya Allah.

Allahu Akbar… semerbak bau apel melewati sela-sela sejuknya subuh. Subuh ini masih belum bergeming dan tetap remang. Dalam sholat, aku menitikkan air mata.air mata berdosa. Ya Allah ampunilah hambamu ini. Dulu, hamba Cuma jago menyolong mangga pak Tumini. Pengangguran tak berguna jasadnya. Minggat ke Jakarta demi mengincar seorang wanita yang belum tahu namanya. Keahlian colongku tak mampu mencolong hati gadis yang tersangkut dalam pelukan lelaki. Karena cinta bukanlah hal colong mencolong. Sekali lagi, ampunilah aku ya Allah.

Assalamualaikum warohmatullah... kepalaku menoleh ke belakang. Kanan kiri. Sembari mengucap salam. Tepat di belakang, ada makmum yang khusuk daripada aku. Dia bermukena rapih dan wajah itu.. mengingatkanku kepada gadis berkerudung biru yang tak pernah ku kenal namanya. Wajahnya masih manis seperti pertama ku lihat. Kau lah makmumku. Mia!

 

Muhammad Ammar Fauzi’s (Amrojayy) author of article.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me