Surat Untuk Ayah 

Kepada ayahku tersayang ..

Izinkan aku mengucapkan rasa syukur dan terimakasihku kepadamu yang begitu dalam atas segala usaha yang telah engkau lakukan selama ini dalam mendidik dan menjagaku. Engkau telah berusaha sebaik mungkin untuk meluruskan akhlak dan budi perketiku,dan senantiasa mengajurkan aku untuk tetap berpegang teguh kepada akhlah-akhlak yang mulia dan budi pekertiyang luhur. Engkau telah benar-benar menjagakuagar aku tidak melakukan kesalahan atau tergelincir ke jalan kesesatan. Akan tetapi tidakkah engkau ketahui, wahai ayahku .. bahwa aku adalah manusia yang tidak akan luput dari kesalahan? Bukankah kita memiliki kesalahan?

Adakah orang yang seluruh perangainya disenangi?

Cukuplah seorang itu dikatakan mulia jika kesalahannya bisa dihitung jari.

Mengapa wahai ayahku, engkau jadikan tongkat sebagai alat pukul dalam memberikan peringatan? Wahai ayahku, mengapa engkau terlalu cepat mencaci, padahal engkau tahu bahwa ada satu hikmah yang mengatakan,

Sabarlah, dan jangan terlalu cepat mencaci orang lain.

Bisa jadi ia memiliki alasan, sedang engkau telah mencacinya.

Wahai ayahku, mengapa tidak ada kesempatan bagiku untuk mengungkapkan pendapat kepadamu, padahal engkau tahu bahwa ada kata bijak yang mengatakan,

Jangan menghina pendapat orang kecil.

Sebab, lebah sama dengan lalat, namun dialah serangga yang dapat menghasilkan madu.

Lalu mengapa ayahku, engkau selalu menggunakan cara terakhir di dalam mendidik, dan menganggap bahwa tidak ada solusi bagimu kecuali dengan kekerasan? Mengapa engkau melupakan segala cara selain kekerasan, kebengisan, dan amarah? Dimanakah kelemahlembutanmu? Kelemahlembutanmu yang apabila ia berada pada sesuatu, niscaya ia akan menjadikannya mulia, dan apabila ia hilang dari sesuatu niscaya ia akan menjadikannya hina. Tidakkah kelemahlembutan itu diberikan kepada keluarga, melainkan ia akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dimanakah sifat menahan amarahmu?

Ayahku tercinta ..

Sungguh diri ini berharap besar darimu. Semoga Allah membukakan harimu untuk menerima harapan itu. Aku berharap engkau dapat bersikap mudah namun tidak terlalu memudahkan, dan dapat bersikap kuat dan tegas. Sebab, barangsiapa yang suka memudahkan, lemah lembut, dan penuh kasih sayang, Allah akan mengharamkannya dari api neraka.

Satu obat tidak akan dapat menyembuhkan seluruh penyakit. Setiap penyakit memiliki obat sendiri, dan setiap kesalahan memiliki hukumannya sendiri.

Penyembuhan itu dilakukan secara bertahap. Pandanganmu saja wahai ayahku, sudah menjadi hukuman bagiku, sikap acuhmu kepadakku sudah sangat menyakitkanku, dan cercaanmu terhadapku sudah cukup untuk meluruskanku. Akan tetapi, mengapa engkau selalu memulai hukuman yang engkau berikan dengan cara yang terakhir? Mengapa engkau tidak jadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladanmu?

Sebagai penutup, aku ingin menyampaikan kepadamu wahai ayahku, bahwa aku sangat mencintaimu, dan aku berharap dapat merasakan cinta dan kasihmu. Betapa besarnya harapanku untuk menjadi anak yang taat dan menjadi anak yang dapat engkau banggakan. Tetapi tongkatmu selalu menjadi pemisah antara engkau dan aku, pertengkaran selalu saja memisahkan kesatuan hati kita, sikap acuh selalu saja memperkeruh kejernihan hari-hari kita dan kekerasan selalu menjadi batas yang selalu memisahkan kita.

Berjanjinlah wahai ayahku, bahwa engkau akan selalu bersikap lemah lembut kepadaku. Aku berjanji, jika engkau bersikap lemah lembut kepadaku, aku akan selalu menjadi anak yang berbakti kepadamu. Apabila engkau mendapatkan aku nakal, sulit diatur, dan keras kepala, maka doakan aku agar Allah memberiku hidayah dan petunjuk-Nya.

The End

Salah satu kisah dalam buku best seller karangan Abdullah Muhammad Abdul Muthi, klik di sini jika ingin melihat bukunya.

 

Wahai pembaca ..

Izinkan aku bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaan di kolom komentar.

Jika kamu adalah seorang ayah, apakah anda melihat kebahagiaan dan kerelaan di mata anak-anak anda? dan apa yang akan anda lakukan setelah membaca surat tersebut?

Jika kamu adalah seorang anak, apakah anda akan terus mengikuti kemauan ayahmu? Apakah anda berharap mendapatkan ayah selain dia?

Jika kamu adalah seorang perempuan, apakah tanggapan anda dengan isi surat tersebut?

 

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me