Biografi Ahmad bin Hanbal

Nama lengkap Imam Ahmad adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’labah bin Ukabah bin Sha’b bin Ali bin Bakar bin Wa’il, Imam Abu Abdillah al-Syaibani. Beliau dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriah (750 M).

Ayahnya bernama Muhammad, dan ibunya bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibai. Dengan kata lain, beliau keturunan Arab dari suku Bani Syaiban, sehingga diberi lakab al-Syaibani. Ketika Ahmad masih kecil, ayahnya berpulang ke rahmatullah dengan hanya meninggalkan harta pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Dan semenjak ayahnya meninggal, sang ibu tidak menikah lagi, meskipun ia masih muda dan banyak lelaki yang melamarnya. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar ia bisa memfokuskan perhatian kepada Ahmad sehingga bisa tumbuh sebagaimana yang ia harabkan.

Imam Ahmad hidup sebagai seorang yang rendah dan miskin, karena bapaknya tidak meninggalkan warisan padanya selain dari sebuah rumah yang kecil yang didiaminya, dan sedikit tanah yang sangat kecil penghasilannya. Oleh karena itu beliau menempuh kehidupan yang susah beberapa lama sehingga beliau terpaksa bekerja untuk mencari kebutuhan hidup.

Pada usia menjelang dewasa, ia menyaksikan keanehan di dunia sekitarnya. Pada masa itu, bidah menenggelamkan sunah, orang berilmu dipersukar hidupnya oleh orang-orang yang bodoh, banyak orang menimbun emas dan perak tetapi tidak mengerti bagaimana menginfakkannya. Bersamaan dengan itu, banyak pria dan wanita terbenam di dalam lumpur kenistaan hanya karena ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik atau hanya ingin mendapatkan makanan yang cukup. Semua itu mewarnai kehidupan yang penuh kemunafikan dan dosa.

Demikianlah dunia yang disaksikan oleh seorang pemuda, Ahmad ibn Hanbal, pemuda yang sejak kecil sudah dapat menghafal Alquran, sudah biasa mempelajari dan memikirkan ketentuan-ketentuan hukum yang terdapat di dalamnya. Bahkan sejak kecil, ia pun sudah belajar dan mempelajari ilmu hadis. Menyaksikan kenyataan-kenyataan seperti di atas, ia tidak dapat bersikap lain kecuali menyatakan kecaman dan celaan secara terang-terangan. Semua kenyataan buruk yang disaksikannya itu disebutnya sebagai bidah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berjuang menentangnya demi tercapainya tujuan menegakkan kembali Sunah Rasulullah saw. di dalam kehidupan umat.

Imam Ahmad adalah salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah Islam yang menguasai ilmu hadis sekaligus hukum. Semangat pembelaannya terhadap Islam sangat tinggi. Karena menentang dan otoritas religiusnya, ia dipenjarakan lama dan diperlakukan dengan buruk oleh penguasa, tapi ia tak pernah menyerah mempertahankan keyakinannya.

Imam Ahmad berpulang ke rahmatullah pada hari Jumat 241 H (855 M) di usia 77 tahun. Beliau meninggal di Baghdad dan dikebumikan di Marwaz. Sebagian ulama menerangkan bahwa disaat meninggalnya, jenazah Imam Ahmad diantar oleh sekitar 800.000 orang laki-laki dan 60.000 orang perempuan dan suatu kejadian yang menakjubkan saat itu pula 20.000 orang dari kaum Nasrani, Yahudi dan Majusi masuk agama Islam. Dan beliau meninggalkan dua orang putera yang terkenal dalam bidang hadis yaitu Shalih dan Abdullah.

Sistematika Pembahasan Kitab Musnad Ahmad

Musnad adalah kitab hadis yang urutan penyebutannya berdasarkan nama sahabat, yang lebih dahulu masuk Islam atau berdasarkan nasab. Kitab Musnad Ahmad merupakan salah satu karya monumentalnya Imam Ahmad di bidang hadis yang masih menjadi rujukan dalam berbagai persoalan umat hingga saat ini. Kitab ini ditulis pada permulaan abad III H, sebagaimana disebutkan dalam sejarah, bahwa awal abad III H memang sudah dimulai adanya usaha untuk membersihkan hadis-hadis dan fatwa-fatwa ulama yang tidak termasuk hadis.

Menurut sebagian ulama, derajat kitab ini berada di bawah kitab sunan. Adapun peringkat pertama ditempati oleh Sahih al-Bukhari karya Imam Bukhari, Sahih Muslim karya Imam Muslim, dan al-Muwatta’ karya Imam Malik. Musnad Ahmad termasuk kitab termashur dan terbesar yang disusun pada periode kelima perkembangan hadis (abad III H). Kitab ini melengkapi dan menghimpun kitab-kitab hadis yang ada sebelumnya dan merupakan satu kitab yang dapat memenuhi kebutuhan muslim dalam hal agama dan dunia, pada masanya. Seperti halnya ulama-ulama abad ketiga semasanya, Ahmad menyusun hadis dalam kitabnya secara musnad. Hadis-hadis yang terdapat dalamMusnad tersebut tidak semua riwayat Ahmad, sebagian merupakan tambahan dari putranya yang bernama Abdullah dan tambahan dari Abu Bakar al-Qat’i.

Download E-book Kitab Hadis Musnad Ahmad

WhatsApp chat WhatsApp Me