Kitab Sunan An Nasa’i ini populer dengan nama Kitab As Sunan as Sughra ( السنن الصغرى ‎), juga dikenali sebagai Sunan al Nasa’i (سنن النسائي) atau Al Mujtaba (المجتبى).

Imam an-Nasai, nama aslinya Ahmad bin Syuaib an-Nasai. Nasa’ adalah nama kota kelahiran beliau, satu daerah di wilayah Khurasan. Beliau wafat tahun 303 H di Ramlah Palestina di usia 88 tahun.

Imam an-Nasai menulis kitab as Sunan al Kubro, mencakup hadis–hadis yang shahih, dan hadis bermasalah. Kemudian beliau ringkas dalam kitab as Sunan as Sughro, yang beliau beri nama ‘al Mujtaba’ [ المجتبى ]. Untuk kitab kedua ini, beliau hanya mengumpulkan hadis–hadis yang beliau anggap shahih. Kitab inilah yang kemudian sering dikenal dengan sunan an Nasai.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

و”المجتبى” أقل السنن حديثاً ضعيفاً، ورجلاً مجروحاً ودرجته بعد “الصحيحين”، فهو – من حيث الرجال – مقدم على “سنن أبي داود والترمذي”؛ لشدة تحري مؤلفه في الرجال، قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: كم من رجل أخرج له أبو داود والترمذي تجنب النسائي إخراج حديثه، بل تجنب إخراج حديث جماعة في “الصحيحين”. اهـ.

Kitab al-Mujtaba adalah kitab sunan yang paling sedikit jumlah hadis dhaifnya dan paling sedikit perawi yang majruh (dinilai lemah). Derajatnya di bawah shahih Bukhari dan Muslim. Sehingga sunan ini, dilihat dari perawi-perawinya, lebih unggul dibandingkan sunan Abu Daud, dan Turmudzi. Karena penulis sangat ketat dalam memilih perawi hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

‘Ada banyak perawi yang dicantumkan dalam kitab Abu Dawud dan Tirmudzi, namun dihindari oleh an asa’i dalam menyebutkan hadis. Bahkan beliau menghindari beberapa perawi yang ada di kitab shahih Bukhari dan Muslim.’ (Mustholah Hadis, hlm. 51).

Kitab ini berisi kumpulan hadis  [sekitar 5270 hadis] yang disebutkan oleh al Nasa’i,  tidak satupun hadis yang berasal dari orang yang ditolak periwayatannya oleh para ulama hadis dan tidak mempercayai periwayataanya. Hadis yang disebutkan juga merupakan ringkasan dan seleksi dari kitab al Sunan al Kubra, sehingga tidak terdapat hadis yang dhaif dan kalaupun ada itu jumlah sangat kecil dan jarang sekali.

Kitab Sunan al Nasa’i sederajat dengan Sunan Abu Dawud atau sekurang-kurangnya mendekati satu tingkatan kualitas yang sama dengan Sunan Abu Dawud, dikarenakan al Nasa’i sangat teliti dalam meriwayatkan dan menilai suatu hadis.

Hanya saja karena Abu Dawud lebih banyak perhatiannya kepada matan–matan hadis yang ada tambahannya, dan lebih terfokus pada hadis–hadis yang banyakdiperlukan oleh para fuqaha, maka Sunan Abu Dawud lebih diutamakan sedikit dari Sunan al-Nasa’i. Oleh karena itu, Sunan al-Nasa’i ditempatkan pada tingkatan kedua setelah Sunan Abu Dawud dalam deretan kitab-kitab hadis al-Sunan.

Metode Penyusunan dan Sistematika Kitab Sunan al Nasa’i

Dilihat dari namanya, maka kita akan segera tahu bahwa kitab hadis al-Nasa’i ini disusun berdasarkan metode sunan. Metode sunan adalah metode penyusunan kitab berdasarkan klasifikasi hukum Islam (abwab al-fiqhiyyah) dan hanya mencantumkan hadis–hadis yang bersumber dari Nabi saja (hadis marfu’). Bila terdapat hadis–hadis yang bersumber dari sahabat (mauquf) atau tabi’in (maqtu) maka relatif jumlahnya hanya sedikit. Metode yang digunakan menjadi sangat unik karena memadukan antara fiqih dengan kajian sanad. Hadis-hadisnya disusun berdasarkan bab fiqih dan untuk setiap babnya diberi judul yang kadang-kadang mencapai tingkat keunikan yang tinggi. Ia mengumpulkan sanad–sanad hadis pada satu tempat.

Download E-book Kitab Hadis Sunan Nasa’i

WhatsApp WhatsApp Me