Konsep Kebahagiaan Menurut Imam Al-Ghazali - Fakhroyy

Siapa sih yang tidak kenal Imam Al-Ghazali? Beliau hujjatul Islam dan mempunyai ilmu yang lengkap, baik keilmuan tentang Al-Quran, fiqh, filsafat walaupun akhirnya mengkritik filsafat dalam bukunya Tahafut al-Falasifah dan berakhir di tasawuf. Beliau ialah tokoh intelektual Muslim yang multidisipliner.

Kitab-kitabnya ratusan walaupun banyak juga yang hilang. Tulisannya juga menyesuaikan pembacanya, beliau memahami audiencenya sehingga ilmu yang beliau sampaikan dalam tulisannya dapat dipahami pembaca karena sederhana dan salah satu kitabnya tentang kebahagiaan adalah Mizanul Amal dan Kimyatus Sa’adah.

Dalam Mizanul Amal, kita sudah diberikan kenikmatan dunia dan akhirat. Pertama, nikmat di akhirat, yakni kebahagiaan yang kekal. Dan nikmat ini dapat dicapai jika kita memanfaatkan nikmat jiwa. Nikmat jiwa ini dapat dicapai dengan memuaskan akal kita dengan ilmu-ilmu, memelihara diri dengan menjauhi yang haram, syubhat dan maksiat, lalu hidup dengan serius, penuh mimpi, mempunyai target, dan berani menggapainya serta proposional.

Namun nikmat jiwa ini tidak dapat tercapai jika kita tidak menjaga nikmat badaniah. Yakni menjaga kesehatan dengan makan teratur dan olahraga, menjaga penampilan dan panjang umur. Nikmat ini juga membutuhkan nikmat dari luar yakni kemuliaan, harta dan keluarga. Selanjutnya nikmat taufikiyah, yakni hidayah dari Allah.

Jadi nikmat pertama yang harus dipenuhi agar kita mendapatkan kenikmatan yang lain yaitu, yakinlah bahwa Allah ridha dengan kita. Setiap yang kita lakukan niatkanlah karena Allah. Jadikanlah Allah inspirasi dalam setiap langkah. Tanamkanlah dalam diri kita bahwa tanpa Allah tidak ada artinya apapun yang kita lakukan.

Selanjutnya dalam kitab Kimyatus Saadah, kenalilah diri kita agar kita dapat bahagia. Cara paling gampang untuk bahagia adalah membaca diri sendiri, introspeksi diri. tanyakan pada diri sendiri, siapa aku? Dari mana aku? Kemana aku akan pergi?

Sebenarnya kebahagian kita sangatlah sederhana. Tetapi sering tertutup untuk menemuinya karena ego dan nafsu yang tidak dikendalikan. Semakin nafsu menyelimuti kita maka cermin dihadapan kita semakin gelap, tetapi jika kita dapat mengendalikannya diri kita akan nampak jelas dalam cermin. Untuk membersihkan itu, mari kita isi dengan kebenaran dalam semua aspek kehidupan.

Wallahu a’lam

Created by Gusti Rahma Sari


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *