Manusia adalah makhluk sosial. Dimana dia tidak bisa hidup sendiran karena dia senantiasa memerlukan bantuan dari manusia yang lain guna menopang kebutuhan hidupnya. Dia membutuhkan teman untuk bergaul.

Agama Islam adalah agama yang paling sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

Diantara kesempurnaan agama ini adalah dalam masalah pertemanan atau pergaulan pun di atur. Dimana, seorang muslim tidak boleh sembarangan menjadikan seseorang sebagai temannya.

Islam menyuruh kita untuk bergaul dengan orang-orang yang shalih. Karena, diantara manfaat bergaul dengan teman shalih adalah, tatkala kita melakukan suatu kesalahan dia akan mengingatkan kita. Akan tetapi, berteman dengan orang shalih akan menimbulkan rasa kurang nyaman dan rasa risih. Karena, setiap kali kita melakukan kesalahan, dia akan mengingatkan kita dengan lisannya.

Oleh karenanya, berteman dengan orang shalih membutuhkan kesabaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28).

As-Sa’di berkata:

“Dalam ayat ini terdapat perintah untuk bersahabat dengan orang-orang baik dan bersungguh-sungguh dalam berteman dengan mereka walaupun mereka adalah orang miskin. Karena bersahabat dengan mereka terdapat banyak faidah yang tidak terhitung.”

Nabi memberikan perumpamaan ketika seseorang berteman dengan orang shalih dan berteman dengan orang yang buruk. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari).

Al-Qadhi Iyadh mengometari hadits ini, berkata:

Dalam hadits ini terdapat perintah untuk menjauhi pertemanan dengan orang-orang yang jelek dan buruk, ahli bid’ah dan orang yang suka memfitnah. Hadits ini juga mengandung anjuran untuk bermajlis dengan orang-orang yang baik.

Nabi Muhammad Saw juga bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Oleh karenanya, ketika kita ingin melihat apakah dia ini orang yang baik, maka lihatlah dengan siapa dia bergaul. Karena biasanya orang akan mengikuti kebiasaan teman bergaulnya.

Pepatah Arab mengatakan:

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya teman itu bisa menarik (mempengaruhi).”

Teman yang shalih memiliki andil besar dalam kehidupan seseorang. Dia bisa istiqomah dalam berbuat ketaatan disebabkan karena teman yang shalih. Dan dia, bisa menjadi seorang yang menyimpang dan malas dalam beragama disebabkan karena teman bergaulnya.

Betapa banyak, orang yang tadinya terkenal shalih dan rajin beribadah menjadi berbalik arah disebabkan karena temannya. Betapa banyak orang yang dulunya tidak pernah kenal dengan rokok, kini menjadi perokok aktif disebabkan karena temannya. Betapa banyak, orang yang dulunya tidak pernah kenal dengan narkoba, kini menjadi bandar narkoba disebabkan karena temannya.

Oleh karenanya, teman itu bisa mempengaruhi seseorang. Kalau orang yang di jadikan teman itu shalih, maka dia akan memperngaruhi temannya untuk menjadi orang shalih. Dan jika yang di jadikan teman itu adalah orang yang buruk, maka dia akan mempengaruhi temannya untuk menjadi seseorang yang buruk juga.

Ulama memberikan kita nasihat agar senantiasa dekat dengan orang-orang yang shalih. Karena melihatnya saja, akan mengilapkan hati.

Fudhail bin Iyadh berkata:

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ

Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.(Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435).

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ

Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyâmul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”.

Abdullah bin al-Mubarak mengatakan:

Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.

Dan barangsiapa yang ingin menjadi pintu kebaikan, maka hendaklah dia berkawan dengan orang-orang yang baik dan bermajlis dengan orang-orang yang shalih. Dan hendaknya dia bersabar dengan orang-orang yang baik serta orang-orang yang taat kepada Allah. Dan hendaklah dia berhati-hati berkawan dengan orang-orang yang buruk. Dimana dia akan menyesal telah berteman dan berkawan dengan mereka. Namun penyesalan mereka kelak di akhirat tidak memberikan manfaat sedikitpun.

Allah jalla wa ‘ala berfirman:

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqon: 28).

Teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengajak kita menuju kebaikan. Tatakala kita berteman dengan orang seperti ini, maka kita akan senantiasa di ingatkan untuk beribadah kepada Allah. Dia mengajak kita menunaikan shalat, menuntut ilmu dan ibadah yang lainnya.

Adapun teman yang buruk, dia justru akan membuat kita semakin jauh untuk beribadah kepada kepada Allah. Tatkala kita hendak beribadah, mereka akan mengahlang-halangi kita dengan mengatakan “nanti saja shalatnya”, “kita kan masih muda, santai-santai saja dulu”, dan angan-angan lainnya.

Asy-Syeikh Abdurrrazzaq hafidzahullah menyatakan bahwa diantara kaidah pensucian jiwa adalah memilih teman yang baik.

Hendaknya bagi seorang hamba untuk berkawan dengan orang-orang yang baik yang dapat menolongnya dalam kebaikan. Karena dengan demikian adalah sebab terbesar suci dan baiknya jiwa seseorang.

Allahu a’lam

Akhukum fillah, Helmi Zulnazar

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *