Semester 6 merupakan semester tersulit daripada semester yang lainnya, semester yang sudah tidak muda lagi dan tak lama menuju semester tua. Di program studi yang saya ambil mata kuliah inti sangat banyak di semester 6, mau tau apa aja mata kuliahnya? Klik di sini ya!

Pada semester genap 2019/2020 ini cukup merasa berbeda dari yang sebelumnya, tidak menyangka hanya 2 minggu saja bisa merasakan semester 6 di kampus. Terhitung mulai tanggal 3 Februari 2020 hingga pada akhirnya ada edaran dari kampus tentang perkuliahan dirubah sistemnya menjadi daring karena pandemi Covid-19 yang saat itu sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Cukup unik sebenarnya dengan sistem perkuliahan daring seperti ini, pertama kalinya dosen memberikan materi via daring kepada mahasiswanya, tetapi dengan alur yang sama. Mulanya dosen memberikan materi, lalu seri tanya jawab, lalu tanggapan dan diakhiri dengan kesimpulan. Bedanya hanya tidak tatap muka saja, presensi kehadiran pun dibuat seperti layaknya memberi paraf di lembar kertas daftar kehadiran di dalam kelas, cukup seru pokoknya.

Ada kampus yang memang pembelajarannya dari jarak jauh, seperti Universitas Terbuka. Universitas satu ini merupakan Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia. Jadi, bagi mereka perkuliahan daring memang sudah biasa, bukan menjadi hal yang baru seperti di kampus tercinta, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan sistem perkuliahan daring ini, pihak kampus memfasilitasi situs e-Learning yang dinamakan e-Knows. Apa itu e-Know?

e-Knows singkatan dari “e-learning for knowledge sharing” yaitu sistem pembelajaran online yang interaktif di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dosen dapat menyediakan bahan ajar, tugas, quiz, dan forum diskusi pada mata kuliah yang terdaftar, sekaligus memberikan penilaian secara online sehingga Mahasiswa dapat melihatnya juga.

Meskipun pada praktek perkuliahan daring tetap saja menggunakan aplikasi yang familiar yaitu whatsapp untuk medianya, ada juga yang menggunakan Google Classroom dan aplikasi vidio bersama seperti Zoom dan lainnya. Tingkat kepahaman dosen yang berbeda-beda mengenai teknologi sehingga berdampak pula pada proses perkuliahan daring dengan mahasiswa yang diampunya, ya kami selaku mahasiswa akhirnya mengikuti alur perkuliahan dari setiap mata kuliah dengan teknis perkuliahan daring yang berbeda-beda.

Hal yang menarik lagi terjadi ketika kesalahpahaman perkuliahan daring yang seharusnya alur perkuliahan tetap sama hanya tidak tatap muka, berubah menjadi pemberian tugas kuliah yang tiada henti. Celotehan mahasiswa pun bersorak menyuarakan isi hatinya yang salah satunya seperti “materi perkuliahan belum selesai diberikan, tapi tugas sudah tersusun rapih hingga Ujian Akhir Semester.”

Pandemi Covid-19 semakin hari semakin membandel virusnya, semakin liar pergerakannya hingga munculnya surat edaran dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 657/03/2020 Tentang Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang isinya perkuliahan semester genap tahun akademik 2019/2020 dilakukan secara daring. Setelah surat edaran itu dipublikasikan, maka disusul dengan surat edaran dari kampus mengenai Tindak Lanjut Kebijakan Akademik dan Non-Akademik Pencegahan Penyebaran Virus Corona yang isinya ada 11 poin. Selengkapnya sila download surat edaran di bawah ini.

Surat edaran dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam, klik di sini.
Surat edaran dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, klik di sini.

Segala kegiatan akademik dan non-akademik diubah sistemnya menjadi daring. Ujian komprehensif, seminar proposal dan ujian munaqosah pun dilakukan dengan sistem jarak jauh, unik sekali. Oh iya, poin 5 pada surat edaran pihak kampus menjadi tameng mahasiswa dari tugas yang datang bertubi-tubi, berikut isinya :

Dalam pemberian tugas, dosen harus mengedepankan asas proporsional dan memperhatikan kondisi psikologis mahasiswa.

Marilah kita publikasikan bersama poin ke-5 ini, mahasiswa layak mendapatkan materi perkuliahan dan tugas yang sewajarnya disaat situasi pandemi merajalela. Menjaga kesehatan dan kestabilan tubuh adalah nomor satu, kalau sudah sakit yang susah diri sendiri dan keluarga bukan orang lain.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *