Ogah, satu kata yang sudah sering terdengar barangkali untuk warga Indonesia khususnya. Ogah sendiri berasal dari bahasa Betawi yang berarti “enggan untuk melakukan sesuatu”, “ogah pulang” berarti enggan untuk pulang, “ ogah makan “ berarti enggan untuk makan.

Ogah pun terkenal dan bahkan sangat dikenal, karena kata ini disandangkan kepada satu sosok dalam serial televisi anak yaitu Si Unyil karya Suyadi. Unyil merupakan karakter boneka yang dimainkan oleh seseorang, digambarkan ia adalah sosok anak cerdas, berpenampilan ala adat Betawi, dengan songkok hitam melingkar di kepalanya dan menyelendangkan sarung di dadanya, salah satu karakter fenomenal dalam serial ini ialah sosok Pak Ogah, sebagaimana disebutkan di atas. Sosok jenaka, usia paruh baya, dan yang membuat sosok ini menjadi tokoh tak kalah penting dalam serial ini ialah sifatnya yang selalu meminta jatah uang recehan pada siapapun jika dimintai tolong.

Tak akan berpanjang lebar membahas tentang Si Unyil,  hanya saja dalam tulisan ini mungkin penulis tertarik untuk membahas tentang Pak Ogah, bukan dalam pandangan serial televisi tersebut melainkan dalam perspektif sosial bermasyrakat di Indonesia.

Pak Ogah memang sudah bukan hal yang aneh, kebanyakan masyarakat jika mendengar tentang Pak Ogah bayangan yang terbesit dalam pikirannya ialah sesosok pria yang meminta recehan belaka, agaknya kata meminta sedikit kasar mungkin lebih tepatnya ialah berharap tangan dermawan untuk memberikannya sedikit recehan yang ia punya.

Mental Pengemis

Pembangunan infrastruktur di Indonesia pada era Jokowi dilkukan secara masif dan merata di seantero negeri ini, mulai dari Sabang hingga Meurauke. Yang paling menonjol ialah pembangunan infrastruktur untuk transportasi, karena pemerintah berharap jika transportasi berjalan baik dan tanpa halangan maka laju ekonomi pun akan berjalan dengan baik dan barang tentu akan memperbaiki kualitas hidup masyarakatnya.

Ada fenomena kecil menarik dari setiap pembngunan infrastruktur yang ada. Fenomena itu ialah pembagian jatah bagi para penduduk lokal yang ketepatan desa, ataupun wilayahnya menjadi tempat proyek itu berlangsung. Jatah apa yang dimaksud? Penulis berkesempatan berbincang dengan salah seorang pemuda, ketepatan penulis tinggal di daerah Bogor, yang mana daerah ini sedang berjalan proyek pembangunan jalan bebas hambatan untuk Ciawi-Sukabumi. Dalam perbincangan itu penulis sempat menyinggung tentang proyek besar ini, tanpa basa basi si pemuda ini mengaku ia adalah penanggung jawab organisasi kepemudaan yang ada di daerah itu, ketika pembangunan berlangsung tentu akan membawa peralatan besar dan muatan yang sangat berat melawati dan berdiam di kampungnya. Maka ia para teman sejawatnya mendatangi kepala proyek untuk meminta “uang” ganti rugi dan penjagaan setiap alat-alat yang ada.

Lain kesempatan penulis pun mendapati seorang kawan yang kedapatan dipekerjakan salah seorang kepala proyek untuk menjadi gaturlantas atau pengatur lalu lintas dalam pembangunan jembatan jalan utama. Nyatanya hampir seluruh pengautur lalu lintas tersebut ialah teman-teman dekatnya yang ada di sekitaran wilayah tersebut, dan hampir semuanya memang belum sempat mempunyai kesibukan berarti, maka keseharian mereka hanya berdiam untuk mengatur lalulintas satu arah di Jembatan tersebut, bukan hanya mengatur mereka pun dengan inisiatifnya menyediakan ember kosong dan diangkatnya ember tersebut tepat dihadapan kaca seroang pengendara mobil, percis dengan sebutan Pak Ogah atau memang seperti itu mereka.

Kemacetan yang disebabkan pembangunan jembatan ini berdampak sangat panjang bisa mencapai 3-5 kilometer. Jika dalam panjangnya jalanan tersebut terdapat pertigaan ataupun gang maka bisa dipastikan para pemuda-pemuda ataupun orang paruh baya disini kecipratan rezekinya hanya dengan mengadahkan ember kepada setiap kendaran yang melewatinya.

Kerja Halal

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran pada tahun 2017 ini mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu turun sekitar 2 persen. Bisa dikatakan kerja keras dari pemerintah dengan slogannya yang sudah masyuhur terdengar “ Kerja, Kerja, Kerja” berjalan mulus karena mampu mendongkrak jumlah pengangguran di Indonesia.

Dalam gambran di atas jumlah pengangguran benar-benar turun berkat pembangunan infrastruktur yang jor-joran di seantero pelosok negeri tentu sudah pasti menggunakan tenaga-tenaga anak bangsanya untuk menyelesaikan pembangunan tersebut, sebagian mereka bekerja sebagai kontraktor ataupun hanya sebagai penjaga dari proyek tersebut, asalkan mendapatkan pekerjaan dan bisa survival dalam kehidupan dizaman sekarang sudah sangat menguntungkan.

Pak Ogah bukan Pekerjaan

Polda Metro Jaya berencana memperdayakan Pak Ogah guna mengatur lalu lintas Ibu kota yang terbilang semerawut serta macet yang ada dimana-mana ( Tribun:30/08/17). Tapi rencana ini belum disahkan oleh Plt Gubernur Djarot kala itu, karena pemberian gaji pak ogah ini masih perlu dikaji.

Melihat keadaan negara-negara selain Indonesia, para pengatur lalu lintas sangat jarang adanya ataupun ada melainkan yang melakukannya ialah para Polisi. Para penduduk negara maju sudah sangat sadar akan berlalu lintas. Di Indonesia lain cerita, karena persaingan mencari pekerjaan begitu sulit mka sangat mudah hanya mengatur lalu lintas dijalan raya mankala Polisi tidak mau melakukannya, mereka melakukannya tentu untuk mengumpulkan pundi-pundi recehan atau pun selembaran para pengendara yang dermawan memberikannya untuk mereka.

Berkaca pada Negara Teluk

Negara teluk yang dihuni oleh para negara besar Arab dan kekayaan alam yang melimpah ruah, menjadikan negara ini  disegani dan mampu menyulap negerinya yang berada dalam kawasan gurun menjadi primadona dengan banyaknya gedung-gedung pencakar langit dan para bos-bosnya pun banyak mencokol dalam perusahan multi-international.

Indonesia pun bisa dikatakan negara teluk, karena banyaknya teluk yang ada di negeri ini, kekayaan alam pun tak terbatas, mulai dari pertambagan serta kekayaan alamnya. Jika ini bisa dikuasai dan didominasi penguasaan modalnya oleh anak bangsa bisa diyakini para pak ogah tidak akan ada di negeri ini. Karena apabila penguasaan tambang saja diambil alih pemerintah sudah pasti seluruh rakyat akan mendapatkan jaminan untuk hidupnya sehingga, kesejahteraan bisa merata dalam kehidupan bermasyrakat di negeri ini.

Bukti Pak Ogah tadi menandakan kesejahteraan di negeri ini masih tumpang tindih, si kaya dan si miskin masih sangat terlihat jelas. Dalam undang-undang 45 sering dibacakan dan membela tentang kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan siapa yang didahulukan? apakah para penguasa atau para pemilik modal? jangan jadikan negeri ini bermental hanya sebatas Pak Ogah saja, berharap recehan untuk bisa bertahan hidup.

 

Andhika Rama&’s author of article.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me