Alkisah, keinginan terdalam Majnun adalah bertemu dan bersatu dengan Layla, sang pujaan hati. Padepokan Layla berada jauh di wilayah Timur, tetapi Majnun dalam perjalanannya selalu tersesat ke arah Barat, Selatan, dan Utara. Layla yang menatap dari kejauhan senantiasa berdiri mengawasi dan memanggil Majnun. Sayangnya, Majnun tidak melihat dan mendengar undangan pujaan hatinya.

Segera Layla menjemput dengan kereta kencana, sambil dicambuknya Majnun hingga tersungkur dan diseretnya secara paksa. Tak hayal lagi, nyaris sekujur tubuh Majnun penuh dengan goresan luka. Sampai di altar istana pemujaan cinta, sebuah tempat keagungan cinta memperlihatkan keindahan hakiki tanpa tirai-tirai penghalang, Majnun didudukan tepat berhadapan dengan sang juwita. “Apakah engkau benci dan akan marah kepadaku?” tanya Layla dengan lembut dan mesrah.

Perasaan terharu meremas-remas benah Majnun karena memperoleh mahkota penghormatan kemuliaan, kebesaran, dan keagungan dengan dapat menikmati keelokan wajah sang kekasih yang tak terlukiskan, hingga seketika itu juga tangis Majnun meledak seraya berkata dengan nada gemetar, “Kau adalah matahariku yang telah menerangi sisi gelap kehidupanku. Bagaimana mungkin aku bisa membenci dan kecewa kepadamu? Semesta puja-puji kuhaturkan kepadamu. Sekalipun luka-luka yang telah kau torehkan di sekujur tubuhku, ternyata di baliknya tersimpan obat yang menyembuhkan penyakit-penyakitku, menyingkap penglihatan kedua mataku, dan membawaku dapat hadir di istana keindahan cinta sejati tuk bersanding di sampingmu.

Kisah kecil tersebut sebenarnya merupakan kisah metaforis yang diwacanakan oleh orang-orang arif untuk menunjukan bahwa hubungan kita dengan Tuhan bagaikan hubungan Majnun dengan kekasihnya yaitu Layla. Kebanyakan kita sering salah arah dalam melakukan perjalanan menuju Tuhan. Ironinya, kelalaian tujuan kita justru karena kita hidup di tengah-tengah kesenangan, kemewahan, kegembiraan, dan keglamoran hidup. Kenyaman hidup yang Dia berikan kepada kita buka mengingatkan kita kepada-Nya, anehnya malah membuat kita larut dalam kesenangannya dan melupakan Sang Pemberi kenyamanan itu sendiri.

Dengan alasan inilah, karena sayangnya Sang Kekasih Sejati kepada kita, maka Dia hadirkan lara kehidupan dalam setiap hembusan napas kehidupan kita agar kita sadar mengenai tujuan hakiki hidup ini. Walaupun cambukkan prahara kehidupan yang dihadirkan-Nya itu menyakitkan kita namun kepedihan itulah yang kian mengantarkan kita bisa berjumpa dengan-Nya.

Belajar Kearifan Hidup Bersama

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me