“Tidak ada perintah dari negara perintah undang-undang secara khusus untuk urusan mengaji. Tapi sebagai pemimpin muslim, saya ingin, saya dan warga saya selamat di dunia dan di akherat kelak,” tutur Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam acara Launching Program Maghrib Mengaji di Masjid Agung Kota Sukabumi, Kamis (13/12/18).

Mengetahui kabar ini, pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Gubernur Jawa Barat beserta jajaran direksinya dalam pencanangan program ini, saya harap program ini menjadi salah satu sarana terwujudnya harapan “JABAR JUARA LAHIR BATIN” seperti yang sering Bapak Gubernur utarakan dalam setiap pidato maupun tulisannya.

Selain itu, saya dapat menyimpulkan bahwa program ini merupakan salah satu pengimplementasian salah satu dari Sembilan Prioritas Pembangunan Jawa Barat pada tahun 2020 yaitu “Pendidikan agama dan tempat ibadah juara”.

Terlepas dari pembangunan infrastruktur yang menunjang terlaksananya program tersebut, pengembangan sumber daya manusia-nya pun tidak kalah penting, seperti dengan pemberian insentif pada guru mengaji setiap bulan, pengembangan pesantren-pesantren di Jawa Barat baik dari segi infrastruktur maupun tenaga pengajar, pengadaan ajang kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) atau Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) yang bertujuan selain untuk mencari kafilah terbaik yang akan mewakili Jawa Barat di tingkat nasional, juga untuk meningkatkan kualitas dari para pesertanya dengan pembekalan secara moril maupun materil, hingga pemberian beasiswa/tunjangan pada para Hafizh/ah Al-Qur’an.

Saya selaku mahasiswi yang juga menghafalkan Al-Qur’an sangat terpacu untuk lebih semangat, meningat banyaknya fasilitas yang diberikan Pemprov Jabar tanpa sedikitpun mengurangi kemurnian niat untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Salah satunya dengan adanya Program Beasiswa Jabar Future Leaders yang memberikan peluang para pemilik prestasi akademik dan non akademik untuk mendapatkan beasiswa berupa biaya pendidikan penuh khusus jenjang S1 dan percepatan pendidikan untuk warga Jawa Barat yang sedang melakukan pendidikan jenjang S2 dan S3.

Dalam peluang ini, saya mencoba untuk mengikuti seleksi beasiswa percepatan pendidikan jenjang S1 dengan jalur non akademis bidang keagamaan. Karena saya sendiri masih sering terkendala masalah finansial dalam pendidikan, dengan latarbelakang keluarga sederhana saya yang tidak memiliki penghasilan tetap setiap bulannya, membuat saya harus lebih pandai dalam mencari dan memanfaatkan peluang.

Program Beasiswa Jabar Future Leaders ini menjadi salah satu harapan saya agar saya dapat melangsungkan pendidikan strata satu saya dengan baik, tanpa terkendala dengan masalah finansial seperti yang sering saya alami di jenjang sebelumnya yakni jenjang Madrasah Aliyah.

Selain itu, masalah finansial yang sering keluarga saya alami menjadi sebuah alibi orangtua saya yang meminta saya mencari kerja untuk membantu perekonomian keluarga, bukan melanjutkan kuliah. Padahal saya meyakini bahwa belajar itu perintah dari Allah dan sebagai muslim yang selalu berusaha untuk taat, tentunya saya ingin melaksakan perintah Allah tersebut, dan seperti yang guru pesantren saya tuturkan bahwa Allah akan selalu memberikan jalan kemudahan untuk para pencari ilmu, terlebih jika ia seorang penghafal Al-Qur’an. Akan tetapi, sebagai seorang anak saya tidak mau menjadi durhaka karena menentang kemauan orangtua saya, karena saya yakin sebenarnya orangtua saya tidak bermaksud melarang saya untuk berkuliah, orangtua mana yang tidak senang melihat anaknya semangat mencari ilmu untuk bekal dunia dan akhirat, tapi karena alasan ekonomi yang memaksa keduanya untuk menggunakan alibi tersebut.

Keraguan orangtua saya untuk menyekolahkan saya hingga ke jenjang kuliah hanya dapat saya buktikan dengan capaian prestasi, bukan dengan kata-kata karena itu hanya akan membuat saya menjadi anak yang membangkang pada orangtua. Keinginan saya untuk berkuliah sudah ada sejak saya baru masuk ke jejang SMP, dan dengan izin Allah saya selama menduduki bangku SMP selalu menjuarai perlombaan tahfidz Al-Qur’an dalam gelaran FLS2N maupun gelaran lainnya, dengan beberapa prestasi yang saya miliki, saya kira sudah cukup untuk mendaftar di SMA favorit melalui jalur prestasi, namun saya lebih memilih masuk ke Madrasah Aliyah Negeri untuk memperluas pengetahuan saya dibidang keagamaan juga untuk mempermudah akses saya untuk mencapai target saya berkuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, karena antara MAN 2 Kota bandung dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki naungan yang sama yakni dibawah Kementrian Agama. Semasa duduk dibangku Madrasah Aliyah saya sangat menekuni program studi yang saya pilih yakni Ilmu-ilmu Keagamaan, dan atas izin Allah juga di MAN 2 Kota Bandung ini saya dapat menjuarai Musabaqah Hifzhil Qur’an tingkat Provinsi Jawa barat pada tahun 2017 yang mengantrakan saya untuk mendapatkan beasiswa berupa bantuan pembayaran SPP selama 6 bulan dari pihak madrasah. Selain itu, selama menjadi siswi aliyah saya tidak pernah absen dari peringkat 5 besar dikelas dan saat lulus saya mendapatkan penghargaan sebagai siswa terbaik MAN 2 Kota Bandung bidang non akademik dengan jumlah hafalan terbanyak ketika. Dengan beberapa pencapaian yang saya dapatkan membuka jalan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, dan yang menjadi target saya saat itu adalah saya dapat masuk ke Universitas yang saya impikan lewat jalur undangan, selain tanpa tes juga karena untuk menghemat biaya pendaftaran. Atas izin Allah juga doa orangtua saya, saya bisa masuk ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Fakultas Ushuluddin Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir persis sekali dengan impian saya. Saya kira semua pencapaian saya sudah cukup untuk menjawab keraguan orangtua saya untuk menyekolahkan saya hingga ke bangku kuliah, dan dengan memanfaatkan peluang beasiswa ini juga menjadi salah satu usaha saya untuk meyakinkan kembali orangtua saya, semoga ikhtiar ini Allah berikan kemudahan dan keridhaan dalam rezekinya.

Dan bagi saya meskipun saya seorang perempuan yang akan menjadi ibu rumah tangga, hal itu tidak akan menjadi penghalang dalam belajar dan berkarir, terlebih suatu lembaga bernama Medical Research Council Social dan Public Health Science Unit membuktikan bahwasannya kromosom ibu mewariskan kecerdasan pada bayi yang tengah dikandungnya. Hasil riset ini semakin memacu saya untuk terus berdikari dalam pengembangan karakter dan pendidikan, saya juga ingin anak anak yang terlahir dari rahim saya menjadi kontributor terbaik untuk islam umumnya dan untuk Indonesia terkhusus Jawa Barat.

Seperti halnya dengan hukum alam, Allah telah memberikan pelbagai fasilitas yang sangat mumpuni untuk menunjang kehidupan umat manusia, dan tugas manusia sendiri adalah beribadah kepada Allah, mengabdikan seluruh hidupnya pada Allah, menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam beasiswa ini, saya yang telah menerima fasilitas pendidikan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tentunya akan berkontribusi baik pada almamater tercinta UIN Sunan Gunung Djati Bandung maupun untuk Jawa Barat.

Adapun suatu bentuk kontribusi yang akan saya lakukan untuk kampus saya UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah berupaya untuk menjadi salah satu mahasiswa berprestasi dalam keilmuan dan teladan dalam kemuliaan akhlak. Saya akan memperluas relasi dengan kampus lain baik didalam maupun luar negeri dengan bangga mengenalkan suatu karya yang akan saya buat dibidang Tafsir Al-Qur’an dengan memboyong nama kampus tercinta, saya akan berusaha untuk meningkatkan kualitas potensi diri saya khususnya dalam bidang Tafsir dan Tahfizhul Qur’an dalam ajang kompetisi mulai nasional hingga ke kancah internasional.

Setelah sukses mewujudkan mimpi sekaligus kontribusi saya terhadap universitas, saya akan berkontribusi dengan mencoba masuk ke ranah pendidikan dan sosial masyarakat Jawa Barat, menjadi volunteer SDM yang unggul dan membumikan Al-Qur’an dihati warga Jawa Barat dan melangitkan akhlak dengan akhlak mulia yang didapat melalui pembinaan-pembinaan secara berkala dan menyeluruh hingga ke pelosok daerah yang masih belum terjamah oleh pembinaan pendidikan dan karakter akhlak mulia, menjadi teladan yang baik dari segi akhlak maupun keilmuan, memberantas kasus buta huruf yang sampai sekarang masih menjadi problematika dikalangan masyarakat awam, menjadi utusan kejuaraan berbagai kompetisi dan selalu berusaha menjadi yang terbaik hingga menjadi salah satu dari pendukung terwujudnya “JABAR JUARA LAHIR BATIN”.

Bukan hanya berkontribusi secara pribadi, namun saya akan berkontribusi dengan mencetak kader-kader baru yang unggul dalam pendidikan, keagamaan dan berkarakter. Kader-kade tersebut akan dibentuk untuk disebar ke seluruh pelosok Jawa Barat.

Adapun kontribusi dalam bidang pemerintahan. Saya akan mencoba masuk kedalam ranah pemerintahan dengan membawa ajaran ajaran yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah tanpa mengganggu atau merusak ideologi negara yakni Pancasila. Membuat peraturan baru yang mendukung warga Jawa Barat dalam peningkatan keimanan dan ketakwaan, dan juga mengingatkan aparatur pemerintahan jika membuat aturan yang tidak sesuai dengan syari’at islam dan kerukunan antar umat beragama.

Jika ditanya mengapa saya ingin menerapkan ajaran yang termuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah dalam pemerintahan Jawa Barat jawabannya adalah karena saya ingin Jawa Barat menjadi kiblat peradaban Indonesia dari segi pendidikan maupun karakter. Seperti masa pemerintahan Rasulullah hingga masa Khulafaur Rasyidin menerapkan ajaran islam tanpa mengubah ideologi yang dianut sebelumnya selama tidak menentang syari’at.

Itulah pentingnya hafizh/ah Al-Qur’an dalam pengembangan peradaban daerah, saya harap tulisan yang saya buat ini kelak akan tercatat menjadi sebuah takdir yang diridhai Allah, dan Jawa Barat bisa menjadi kiblat peradaban keilmuan dan akhlak mulia 10 sampai 15 tahun yang akan datang, Insyaa Allah.

 

Author Laila Dwina Apriani


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp WhatsApp Me