Pengenalan Tokoh

Patih Muza

Gadis pedalaman yang cerdas, terlihat dari pandangan mata yang tajam dan kening sedikit menonjol. Rambut disanggul keatas mirip pagoda, dandanan menor dengan bedak tepung terigu. Bibirnya merah menyala, pulasan getah daun jati yang bercampur air susur. Dari mulutnya yang sedikit seksi, meleleh cairan susur berwarna merah darah, membasahi dagunya sampai ke pangkal leher. Tangan kirinya selalu memegang pantat karena menahan kentut.

Ning Novie

Tokoh ini muncul dari daerah tandus yang banyak ditumbuhi kaktus. Opie Similikiti. Gadis ayu yang tampak culun dan lugu. Rambutnya panjang sepinggang, dikepang dua dengan hiasan pita klaras (kulit jagung) yang direndam perasan kunyit lalu dikeringkan. Mengikat pita, seutas tali dari irisan gedebong pisang kering. Di ujung tali, terikat bunga pinus kering, termasuk juga pada ujung rambut kepang. Wajahnya yang sebenarnya ayu, dilumuri tepung beras ketan dengan campuran serbuk kunyit. Bibirnya yang tipis dipulas getah daun jati membentuk hati (tepat di tengah bibir). Ketika berbicara atau melongo melihat pemuda tampan, gambar hati tampak retak di tengah, menunjukkan debar jantung yang berdetak tak beraturan. Di tengah kening, menempel potongan kentang berbentuk bintang. Yang lebih somplak, setiap kali terpukau, langsung ngemut lima jari tangannya ke mulut sambil mata merem sebelah, melek sebelah.

Rin Muna

Berjuluk Siluman Sableng Pemburu Cinta. Berwajah oval, alis bulan sabit dengan ujung memanjang sampai ke pipi. Bulu mata lentik disulam ijuk, hidung pesek, bibir tipis dicat atas hitam bawahnya merah. Rambut dikuncir tanduk (kepang dua ke atas), di kepalanya melingkar ikat kepala pink dengan tulisan ‘Pemburu Cinta’. Baju silat hitam, celana kuning kedodoran diikat selendang oranye. Di pinggang kiri terselip pena besar dengan ujung pena membentuk simbol hati, di pinggang kanan terselip pedang panjang dengan gagang kayu jati berukir wajah pemuda manyun.

Jun Ishaq

Jun Jun, pemuda kurus kering, rambut nggimbal ikal panjang sebahu. Ikat kepala khas Tanah Aceh dengan hiasan hati yang retak-retak berwarna merah marun. Wajahnya cekung, mata sipit, kelihatan sayu. Rahangnya kuat, menampakkan ketampanan yang tersembunyi. Berpakaian putih, dadanya terbuka dengan tato hati terpanah bertuliskan angka ’86’ tepat di tengah hati. Di pinggang kiri terselip peudeung bergagang gading gajah putih dengan ujung gagang ukiran perempuan menangis, di pinggang kanan terselip sebilah rencong dengan gagang emas. Mulutnya tak bisa mengatup sempurna, sehingga liurnya mengalir tiada henti.

Mbak Daya

Mbok Rondo Daya, adalah perempuan Jawa sederhana. Berambut perak, wajah tirus, hidung mancung agak miring ke kiri, pandangan mata tajam bisa dipakai buat nebang pohon. Yang unik, Mbok Rondo suka sekali memakai pakaian serba ungu. Panjang sebelah sisi, kain jarik ungu dengan lukisan ikan tinggal duri. Tangan kanan selalu memegang tasbih besar dari kayu ‘kauka’ mirip Rodraks Siwa. Sementara tangan kiri memegang sekuntum mawar merah yang sebentar-sebentar didekatkan ke hidung.

Pangeran Textra

Pemuda tampan ini bercambang lebat. Konon, cambang itu tumbuh empat sentimeter per detik, apalagi bila Pangeran Textra ngiler potongan singkong. Rambutnya panjang sebahu, alisnya tebal dan bertaut di kening. Kelopak mata dicat dengan serbuk arang. Di kedua telinga, bergelantungan anting emas dengan bandol hexagonal besar dengan hiasan hati di tengah bandol (sebagai simbol Don Juan, alias Pangeran Penakluk Wanita). Pakaian bangsawan yang dikenakan sangat mewah, didominasi warna pink dengan hiasan kodok nungging. Beskap terbuat dari sutra Cina dengan ikat pinggang besar berhiasan kepala naga. di kedua mata naga tertulis ‘Tik’ dan ‘Tok’.

Duyung Sun Sun

Manusia setengah ikan koi, hidup di muara Sungai Brangkas. Berwajah ayu laksana peri bangun tidur. Kedua matanya yangbening selalu dipenuhi belek sehingga selalu berkedip-kedip setiap detik. Rambut lurus panjang sepinggang berwarna biru laut, dengan warna putih membelah tepat di tengah kepala, darikening sampai ujung rambut. Dandanan tak kalah menor dengan Patih Muza, berkebaya jawa (baju atasan) warna pink bergariskuning, dari perut ke bawah tubuh ikan koi yang didominasi warna emas belang-belang putih hitam. Duyung Sun Sun adalah
tipikal siluman fesyonabel kebablasan. Memakai anting hidung hulahup yang terbuat dari rotan hutan Kalimantan. Di kedua telinganya bergelantungan giwang dari tutup panci besar.

Penghulu Gendeng

Lelaki tua kurus keriput. Wajahnya cekung, dengan kumis jarang putih memanjang sampai ke bawah dagu. Di dagunya tumbuh beberapa helai jenggot putih merumbai sampai dada. Giginya tinggal satu di bagian atas, bila tersenyum memendar cahaya keemasan—konon mempunyai daya magis pikat sukma. Kepalanya yang setengah botak dengan rambut putih yang hanya tumbuh di belakang, ditutupi blangkon ala Keraton Solo. Pakaiannya kain selembang bermotif daun waru warna pink, menutupi dadanya yang mirip tengkorak. Ujung selempangnya tampak kumal dan basah karena sebentar-sebentar dipakai buat ngelap iler. Apalagi bila melihat gadis cantik. Bulu keteknya memanjang sampai perut dengan warna abu- abu. Kebiasaannya suka mendongak ke langit sambil mulut komat-kamit layaknya orang membaca mantra.

 

Bagaimana setelah membaca sekilas mengenai tokoh yang berperan di buku novel Asmara di Negeri Somplak? Penasaran? Langsung aja yuk pesan bukunya!

Preorder Buku Novel Asmara di Negeri Somplak

Format pemesanan dikirim ke nomor 081264309119 (Via Whatsapp) atau klik disini untuk langsung memesannya!

Nama Pemesan :
Nama Buku :
Jumlah Pemesanan :
Alamat Pengiriman :

Harga khusus preorder adalah Rp. 90.000, yuk buruan pesan sekarang!

 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me