Menatap dinding langit yang membentang biru dan ditemani berbagai suara alam membuatku tersadar akan sesuatu. Ya, sesuatu yang sempat lenyap atau bahkan belum kuketahui, lewat seuntai kata tak bermakna, apalagi tulisan hitam legam di meja sana.

Ah sudahlah, tak payah aku berpuitis kata yang membuat geli dan gelisah si pembaca, walau hanya untuk ekspresi semata. Bisa jadi renungan pula tuk sadarkan diri dan mereka.

Hmm.. mari mulaikan saja.

Aku kira itu bertahun-tahun silam namun nyatanya baru setahun yang lalu tepatnya pada bulan Januari 2016, di sebuah ruang pengap yang disesaki orang-orang beradab, kuhadiri acara keislaman yang tidak aku tunggu-tunggu itu. Entah apa yang ada di benakku. Mungkin.. hanya tawa, canda, dan gurauan hidup sahaja. Tak ada iman, apalagi ihsan (Maksudku bukan nama lelaki, tapi keyakinan diri). Keduanya tak aku kenali sama sekali, bukan dalam otak ataupun catatan pelajaran sekolah, melainkan dalam hati. Saking tebalnya debu yang berkerak ini, aku kira tak mampu melepasnya. Kian hari kuabaikan, kian tebal dan sukar tuk terlepaskan. Tak ada detergen, obat, ataupun orang pintar yang mampu membersihkannya. Bahkan diriku pun tak upayakan sesuatu tuk berbuat apa.

Hingga suatu waktu, sesuatu yang lain tiba-tiba terbesit dipikiranku. Ketika sosok yang menatapku diantara keramaian disana, melontarkan kata yang cukup menarik perhatianku dan belum pernah kurasakan hal seperti itu. Hal yang membuatku lupa pada semua yang ada disekelilingku. Sosok itu adalah seorang ustadz yang sedang mengisi kajian Motivasi Islam saat itu.

Hatiku sempat tersentak saat mendengar kata-katanya, “Kita hidup ini bukan untuk bersenang-senang saja, melainkan untuk beribadah dan mengumpulkan bekal menuju Surga.”

Coba sesekali, letakkan satu jarimu di atas api. Apa yang kau rasakan? Panas? Ya. Tapi ketahuilah, panasnya neraka 70x lebih panas dari itu.

Lalu, coba irislah jarimu menggunakan sebuah silet kecil. Apa yang kau rasakan? Sakit? Perih? Ya. Tapi ketahuilah, sakitnya tubuh kita, lidah kita, diiris dengan pisau dan gergaji naraka sangatlah jauh lebih menyakitkan dari itu.”

Kemudian, di akhir-akhir materi, beliau kembali menyampaikan, “Mau sampai kapan kita seperti ini? Suka berleha-leha, keluyuran kesana-kemari, bersenang-senang menghabiskan waktu dan uang. Belum lagi, cara berpakaian kita yang jauh dari syariat, memperlihatkan aurat tanpa rasa malu, bergaul dengan lawan jenis sesuka hati.”

Pikirkan! Renungkan! APAKAH ITU SEMUA ADALAH PERILAKU PENDUDUK SURGA?

Jllebbb!!!! Tersinggung sekali rasanya saat mendengar semua itu. Aku pun bergumam pada diriku, “Ah, sungguh hina diriku dihadapanNya.” Langsung kutundukkan kepalaku ke lantai dan merenung sejenak. Rasanya, inginku menghilang dari tengah keramaian itu, berlari ke suatu tempat yang hanya ada aku sendiri sahaja disana. Malu… Hina… dan Kecewa… yang terasa menusuk ke dalam dada, tak terungkapkan lagi oleh lisanku yang mulai terbata.

Sepulang acara itu…….

Entah apa yang tiba-tiba merasuk kedalam hati dan pikiranku. Setiba di rumah, aku berlari menuju kamar dan langsung membuka lemari. Aku keluarkan semua celana jeans kesayangan yang selama ini menemani hari-hariku ke pantai, tempat karaoke, café, dan tempat-tempat lain yang sering kukunjungi bersama teman sepermainan.

Setelah kukumpulkan semuanya, aku tersenyum dan berkata, “Selamat tinggal jeans ketat!^_^”. Lalu aku langsung membawanya ke gudang dan kusimpan di tempat pakaian bekas.

Malamnya, aku membuka laptop. Kulihat ada puluhan film barat dan horor yang sangat kusukai. Kemudian, kuberalih pada lagu-lagu kesukaanku yang ternyata baru kutahui, jumlahnya sudah 1000 lebih (0.0) entah lagu apa saja itu dan aku pun tak tahu darimana asalnya. Kupandangi lama kedua folder itu hingga ku berkata,”Bismillah…” dengan satu klik sahaja, semua film dan lagu itu lenyap seketika.

Selepas itu, aku pun tertidur dan terbangun kembali di jam 02.16 pagi. Aku tak tahu, aku sama sekali tak berniat bangun di jam itu. Namun aku sangat bersyukur dan langsung menyadari, mungkin ini adalah saatnya, mungkin sudah masanya aku untuk BERTAUBAT.

Aku pun berwudhu dan hendak melaksanakan sholat tahajjud. Tapi, aku sempat ragu saat berdiri di atas sajadah. Aku baru sadar, “Aku tak tahu tata cara dan aturan dalam sholat tahajjud.” Aku belum pernah melakukannya. Namun, aku teringat pelajaran sekolah dulu. Aku ingat bahwa sholat tahajjud itu 8 rokaat beserta witirnya. Pertanyaan baru pun muncul lagi. “Sholat witir itu sebenarnya bagaimana yah?” gumamku.

Aku pun tersadar, betapa Miskinnya ilmu dan pengetahuanku tentang Islam. Umurku sudah hampir 17 tahun, namun, lihatlah! Sholat tahajjud saja aku tak paham caranya. Bukan hanya tahajjud saja, bahkan sholat fardhu pun aku jarang sekali melaksanakannya. Kadang, aku sholat hanya karena tak ingin dimarahi orang tuaku. Astaghfirullah…

Aku tak mampu jika harus mengatakan bahwa diriku adalah seorang muslim.

Aku pun memberanikan diri untuk sholat tahajjud. Seusai sholat, aku langsung menangis. Rasanya, air mataku mengalir begitu saja. Aku pun mulai berdoa, meminta ampun pada Allah atas semua dosa dan maksiat yang selama ini kulakukan. Aku menangis hingga terisak seraya mengingat hari-hariku yang sangat jauh dari Allah SWT.

Aku teringat, slogan hidupku “Tiada hari tanpa musik”. Bangun tidur hingga tidur malamnya, musik tak pernah terlupakan. Bahkan, sering kali aku tertidur dalam keadaan Hp masih memutar musik disampingku hingga aku terbangun paginya.

Aku teringat, perkataanku “Hidup ini tak adil! Aku benci rumah! Aku ingin bunuh diri!” sehingga aku seringkali pergi bersama teman dan jarang sekali berada di rumah. Bahkan, tak jarang aku pulang larut malam atau keesokan paginya.

Dan yang paling membuatku menyesal adalah karena jauhnya diriku dengan al-Quran. Selama masa jahil itu, jarang sekali aku membaca al-Quran. Jangankan membaca dan memahami maknanya, menyentuhnya saja jarang. Padahal, aku tahu, itu adalah pedoman hidup seorang muslim. Aku tahu, membaca al-Quran bisa membuat hati menjadi tenang. Tapi, setiap kali kumengalami masalah, music selalu jadi pilihanku untuk menenangkan diri. Kala itu, aku menganggap “Bagaimana bisa aku membaca al-Quran sedangkan hati dan pikiranku sedang kacau?” pertanyaan yang konyol sekali, kan?

Hampir 2 jam aku bercerita pada Allah, menyesali semuanya, dan berharap agar Ia mengampuniku. Alhamdulillah, setelah itu, hatiku terasa jauh lebih tenang, nyaman, tak terungkapkan. Bersyukur sekali rasanya masih bisa disadarkan dengan cara seperti itu. Sungguh, Allah Maha Baik, Maha Penyayang.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk HIJRAH.

Keesokannya, kucoba memakai jilbab syar’i ke sekolah. Berhubung semua jilbabku tipis dan menerawang, akupun memakai 3 lapis jilbab sekaligus. Pakaian sehari-hari pun kucoba untuk memakai rok atau celana longgar. Selain itu, ibadahku mulai diperbaiki dan kebiasaan baru mulai kurangkai kembali. Music yang tlah menjadi sahabat burukku itu kucoba ganti dengan murottal. Film-film barat tak berfaedah mulai kuganti dengan video kajian islam.

Alhamdulillah, hidup yang kujalani terasa lebih terarah. Rumah yang dulunya sangat kubenci akhirnya menjadi sangat kusukai. Masalah yang dulunya datang silih berganti yang menjadi beban pikiran dan hati, kini kuhadapi dengan tenang dan berani sebab aku punya Allah yang kan senantiasa menemani.

Kebahagiaan yang ingin kudapatkan kini bukanlah kebahagiaan sementara melainkan kebahagian sebenarnya. Ketenangan yang ingin kurasa pun bukan lagi ketenangan dalam maksiat, melainkan ketenangan dalam taat.

Sahabat yang ingin kumiliki pun bukan lagi sahabat yang hanya bisa membantuku di dunia, melainkan sahabat yang juga bisa membantuku meraih surga.

Semoga bisa diambil hikmah dan pesan tersirat di dalamnya. Semoga diriku dan dirimu yang membaca kisah pilu ini senantiasa diberi hidayah dan bisa istiqomah dalam ketaatan pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Aamiin. ^_^

 

Hilma Khoerunnisa’s author of article.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me