Ajaran kaum sufi pada abad pertama dan kedua Hijriah bercorak akhlaki, yakni pendidikan moral dan mental dalam rangka pembersihan jiwa dan raga dari pengaruh duniawi. Dengan kata lain, ajaran mereka mengajak aum muslimin untuk hidup zuhd sebagaimana yang diajarkan dan diperaktekkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya, dalam hal ini Al-Taftazani menjelaskan ajaran zuhd pada masa ini memiliki karateristi sebagai berikut:

  1. Ajaran zuhd untuk menjauhi hal-hal duniawi demi meraih pahal akhirat; dan memelihara diri dar azab neraka. Ide ini berasal dari ajaran-ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, Serta terkena damapak sebagai kondisi sosio-politik yang berkembang dalam masyarakat Islam ketika itu.
  2. Ajaran zuhd bersifat praktis; dan para pendirinya tidak menaruh perhatian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas ajarannya itu. Sedangkan sarana-sarana praktisnya adalah hidup dalam ketrenangan dan kesederhanaan, sedikit makan dan minum, banyak beribadah dan mengingat Allah, merasa sangat berdosa, tunduk secara total pada kehendak Allah, dan berserah diri kepada-Nya.  Dengan demikian ajaran zuhd ini mengarah kepada pembinaan moral.
  3. Motivasi lahirnya zuhd ini adalah rasa takut, yaitu rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh . Sedangkan pada akhir abad ke dua Hijriah, di tangan Robi’ah al-Adawiyah, muncul motivasi cinta kepada Allah, yang bebas dari rasa takut terhadap azabNya maupun rasa harap terhadap pahalaNya.
  4. Ajaran zuhd yang disampaikan oleh kaum zahid pda periode terakhir, khususnya di Khurasan, dan pada Rabi’ah al-Adawiyah, ditandai kedalaman membuat analisis yang bisa dipandang sebagai fase pendahuluan tasawuf, tidak dipandang sebagai para sufi dalam pengertiannya yang sempurna. Mereka lebih tepat dipandang sebagai cikal bakal para sufi  abad ketiga dan keempat Hijriah.[1]

Selanjutnya al-Taftazani  menjelaskan, para zahid sampai abad kedua Hijriah belum dapat dipandang mereka itu sebagai para sufi. Dsini lebih tepat dikatakan sebagi  zahid, nasik, qari’ dan sebutan lainnya.[2] Perlu diketahui zahi disini oleh Nicholson dipandang sebagai “bentuk tasawuf yang paling awal” dan terkadang  dia memberikan sifat pada para zahid itu dengan gelar “para sufi angkatan pertama”

Kalau abad pertama dan kedua para zuhud belum dapat disEBUT Sebagai sufi, maka pada abad Ketiga dan keempat ,  mereka orang-orang zahid  pada periode ini sudah dipandang sebagai  para sufi, karena ajaran mereka tidak hanya terbatas pada pembinaan moral sebagaimana yang diajarkan oleh para zahid pada abad pertama dan kedua Hijriah.

Toko-tokoh Sufi (zahid)  Abad pertama dan kedua Hijriyah :

  1. Hasan al-Basri.
    Hasan Basri nama lengkapnya al-Hasan bin Abi  al-Hasan  Abu Sa’id .Dia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijriah /642 Masehi dan meninggal di Basrah pada tahun 110 Hijriah/ 728 Masehi.  Dalam sebuah riwayat dikatakan, tatkala Ali bin Abi Thalib masuk ke dalam sebuah mesjid  di Basrah didapatinya di dalam Mesjid seorang anak muda sedang bercerita  di hadapan umum . Ali mendekatinya dan berkata : “Hai budak ! Aku hendak bertanya kepadamu mengenai dua perkara, jika kedua perkara ini dapat engkau jawab, boleh engkau meneruskan berbicara  di hadapan manusia.” Anak muda itu mendatangi Ali dengan tawadhu’, dan berkata: “Tanyakanlah ya amira al-mu’minin, apa yang dua perkara itu ? Maka berkatalah Ali r.a, : “Ceritakanlah kepadaku, apa yang dapat menyelamatkan agama dan apa yang dapat merusakkannya “  ? Hasan al-Basri menjawab : “Yang menyelamatkan agama adalah wara’  dan yang merusakkannya tama’.” Ali tampak sangat gembira dan berkata kepada Hasan  al-Basri :” Benar  engkau  dan teruskan bicaramu, orang yang semacam engkau ini layak berbicara dihadapan orang banyak.[3]

    Hasan al-Basri tumbuh menjadi seorang tokoh di antara tokoh-tokoh yang paling terkemuka pada zamannya; dab ia termasyhur karena kesalehan dan keberaniannya. . secara terus terang ia  membenci sikap kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Sementara teolog-teolog dari kalangan Muktazilah memandang Hasan sebagai pendiri mazhabnya. Amr bin Ubaid dan Wasil bin Atha adalah dua diantara murd-muridnya. Sedangkan dalam jajaran sufi, ia diakui sebagai salah satu tokoh yang paling besar pada masa awal sejarahnya. Ia juga dikenal sebagai orator piawai sehingga berbagai kata dan ungkapan yang disampaikannya banyak dikutip oleh pengrang-pengarang Arab dan tidak sedikit diantara surat-suratnya yang msih ada.

    Hasan al-Basri adalah seorang zahid yang termasyhur  dikalangan tabi’in. Perinsip ajarannya yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan sunnah Nabii bahkan beliaulah yang mula-mula memperbincangkan betrbagai masalh yang berkaitan dengan kerohanian, tentang ilmu akhlak yang erat hubungannya dengan cara mensucikan jiwa  dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela.
    Dasar pendirian Hasan al-Basri adalah hidup zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahannya, hanya semata-mata menuju kepada Allah, tawakkal, khauf dan raja’. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan itu dengan pengharapan. Takut akan murkaNya, tetapi mengharap akan rahmatNya.[4]

    Diantara ucapannya yang terkenal adalah :” Seorang fakih ialah orang yang bersikap zuhud terhadap kehidupan dunia, yang tahu terhadap dosanya dan yang selalu beribadah kepada Allah.” Tentang kehidupan zuhud, beliau berkata: “ Dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan tidak senang dan butuh kepadanya; dan dunia merasa bahagia bersamanya atau dalam menyertainya. Barang siapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya  dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarkan pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh kesabarannya.[5]

    Dalam surat yang ditujukan kepada sEorang temannya yang mulia, Hasan al-Basri berpesan:
    Waspadalah terhadap dunia ini. Ia seperti ular, lembut sentuuhannya tetapi mematikan bisanya. Berpalinglah dari pesonanya, sedikit terpesona, Anda akan akan terjerat olehnya. Bukankah Anda lihat kefanaannya dan tahu bnar bahwa Anda akan dipisahkan darinya ? Tabahlah dalam menghadapi kekerasannya, Makaa akan lapanglah jalan Anda . Kian ia mempesonamu, kian waspadalah Anda. Karena manusia di dunia ini, begitu terpesona dan sujud kepadanya, serta merta dunia akan menghempaskannya. Ingat, waspadalah terhadap dunia ini, peonanya pendusta dan di situlah Anda terancam bahaya yang yang berupa kesenangan semu, bencana mendadak, dukja cita atau nasib malang. Pesona kehidupan ini tak berdampak bagi yang bijak, tetapi berbahaya bagi yang senang; karena itu waspadalah terhadap bencana dan yakinlah akan nasib akhirat.[6]


    Demikianlah sebagian dari isi surat tersebut, yanhg menggambarkan sikap beliau terhadap dunia, sikap zuhud yang mengisi seluruh hidup dan kehidupannya.

  2. Ibrahim bin Adham
    Namanya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh dari keluarga bangsawan Arab. Dalam lagenda Sufi, ia dikatakan sebagai seorang pangeran yang meninggalkan kerajaan , lalu mengembara kea rah Barat untuk menjalani hidup sebagai seorang pertapa sambil mencari nafkah yang halal hingga meninggal di negeri Persia kira-kira 160 H/777M.

    Dibawah ini akan menjelaskan tentang kisah peralihannya menjadi seorang zahid, bahkan Ibrahim seringkali dibandingkan dengan kisah Budha Gautama. Kisahnya diriwayatkan :
    “Ayahku dari Balkh, “kata Ibrahim, demikian diceritaka. Ia adalah salah seorang amir di Khurasan. Ia amat kaya, dan mendidikku  agar aku senang berburu. Ketika aku sedang berkuda bersama anjingku, kulihat seekor kelinci. Kudera kudaku; tiba-tiba kudengar seberkas suara di belakangku:” Bukan untuk ini kau diciptakan, bukan ini kewajibanmu.” Aku berhenti, menoleh ke kanan dank e kiri, tetapi tak seorang pun kulihat, lalu aku menyumpah:”Semoga Allah melaknat si Iblis !” Kudera lagi kudaku; dan kudengar suara lebih jelas  darpada sebelumnya:” Hai Ibrahim !Bukan untuk ini kau diciptakan, bukan ini kewajibanmu.” Aku berhenti seraya berkata:” Aku telah disadarkan  ! Allah, Tuhan alam semesta, telah mengingatkanku. Sungguh, mulai hari ini aku akan patuh kepada Allah, selama Allahmemeliharaku.’ Maka aku kembali kepada pengawal-pengawalku dan kutinggalkan kudaku. Aku hampiri salah seorang pengawal ayahku, kucopot jubah dan mantelnya, kuganti dengan pakeanku, lalu aku berangkat menuju Irak, berkelana dari negeri kenegei lain[7]

    Kisah selanjutnya bagaimana ia mengembara dari satu tempat ketempat lain dalam upaya menemukan jalan hidup yang halal. Akhirnya ia hidup bekerja sebagai tukang kebun di Syria. Namun akhirnya, orang tahu juga siapadia sebenarnya. Maka pergilah dan hiduplah ia di gurun. Disana, kata Arberry, ia berkawan dengan zahi-zahid Kristen. Dai merekalah ia mendapat pengetahuan sejati tentang Tuhan.[8] Ini berarti bahwa Ibrahim bin Adham sangat berhutang budi terhadap zahid –zahid keristen. Dan secara eksplisit dia mengatakan bahwa tasawuf Islam itu terpengaruholeh ajaran Kristen.

    Ibrahim bin Adham adalah salah seorang zahid  di khurasan yang sangat menonjol  di zamannya. Kendatipun  dia putera seorang raja  dan pangeran kerajaan Balkh, menurut  Nicholson , dia tidak terpesona oleh kekuasaan dan kerajaan yang  dibawahinya. dDia lebih suka memakai baju dari bulu domba yang kasar dan mengarahkan pandangannya ke Syam (Syiria), dimana ia hidup sebagai penjaga kebunda kerja kasar lainnya.

    Kemudian, diantara ucapan-ucapannya, dia pernah mengatakan: “Ketahuilah, kamu tidak akan bisa mencapai peringkat orang-orang saleh, kecuali setelah kamu melewati enam pos penjagaan.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kenikmatan dan membuka pintu gerbang kesulitan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang  kemusyrikan dan mmembuka pintu gerbang kehinaan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang santai dan membuka pintu gerbang kerja keras, hendaklah kamu menutup pintu gerbang tidur dan membuka pintu Gerang jaga tengah malam, hendaklah kamu mentup pintu gerbangkekayaan dan membuka pintu gerbang kemiskinan, dan hendaklah kamu menutup pintu gerbang cita-cita dan membuka pintu gerbangkesiapan menghadapi mati.[9]

    Demikianlah  ungkapan-ungkapan yang  mengandung nilai-niali kezuhudan beliau. Dan kalau dilihat tampak jelas betapa  dia diliputi rasa takut, seperti semua zahid semasanya, berusaha sungguh-sungguh demi akhirat, sikap zuhud terhadap dunia  dan tindakan yang tidak kenal kompromi dalam ketaatan yang dilakukanya dalam beribadah kepada Allah SWT.

  3. Sufyan al-Sauri  (97 H/715 M-161 H/778 M)
    Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al-Sauri al-Kufi. Dia dilahirkan di Kufah pada tahun 97 H/715 M. dan mninggal di Basrah pada tahun 161 H /778 M. Dia adalah seorang tabi’in pilihan dan seorang zahid yang jarang ada bandingannya, bahkan seorang ulam hadits yang terkenal, sehingga dalam merawikanhadits, dia dijuluki amir al-Mu’minin  dalam hadits. Dan dia adalah seorang dari ulama mujtahidin yang mepunyai mazhab sendiri. Menurut riwayat, abu al-Qasim al-Junaid mengikuti  mazhab beliau. Dan mazhabnya bisa bertahan selama dua abad.[10]

    Mula-mula ia belajar dari ayahnya sendiri, kemudian dari banyak orang-orang pandai di masa itu sehingga akhirnya ia menjadi seorang ahli dalam bidang hadits dan teologi. Pada tahun 158 H/715 M. ia menantang pejabat-pejabat pemerintahan sehingga ia terpaksa menyembunyikan diri di kota Mekkah. Dan ia menjalani hidup pertapaan yang keras sehingga para sufi menyebutnya sebagai seorang manusia suci.

    Sufyan bin Uyainah pernah berkata:”Saya tidak pernah melihat seorang ulama yang lebih mengetahui tentang halal dan haram dari Sufyan al-Sauri.” Para ulama berkat :”Umar bin al-Khattab adalah kepala dari semua manusia, sesudahnya Abdullah bin abbas, sesudahnya al-Sya’bl dan sesudahnya Sufyan al-Sauri.” Sementar Yahya bin Sa’id berkata: “ saya lebih cenderung kepada pendapat  Sufyan darpada pendapat Malik[11]

    Sufyan al-Sauri  sempat berguru kepada Hasan al-Basri, sehingga fatwa-atwa gurunya tersebut banyak mempengaruhi jalan hidupnya. Karean itu hidup kerohaniannya menjurus kepada hidup bersahaja penuh kesederhanaan, dak terpukau dengan hidup kemegahan dan kemewahan dunia. Dia menyampaikan ajaran kepada murid-muridnya . Pernah menasihatkan  kepppadaaa murid-muridnya agar jangan terpengaruh oleh kemewahan dan kemegahan duniawi, jangan suka mejilat kepada raja-raja dan penguasa, muru’ah harus di jagadan dipelihara sebaik-baiknyadan jangan asampai mengemis-ngemis kepada penguasa.[12]

    Ia pernah ditanya oleh seorang ; “Jika sufi berkhalwat (menyepi) untuk beribadah kepada Allah SWT., apakah yang akan dimakannya ? “Beliau menjawab, “Orang yang takut kepada Allah  SWT., tidak akan khawatir apa pun yang menimpanya. Seorang sufi harus berusaha sendiri untuk biaya hidupnya, sekedar memperkuat fisiknya beribadah kepada Tuhannya. “[13]

    Ia melakukan zuhud dengan cara mengurangi makan, serta menjauhkan dirinya dari pakaian yang bagus. Oleh karena itu ia mengatakan:

إذا كنت  لا أشرب  إلا باردا  ولا أكل  إلا طيبا  ولا ألبس  إلا  لينا فما  أبقيت  لأ خرتي   ؟

Artinya:

“Apabila saya tidak minum keculi air dingin, tidak makan kecuali yang enak, dan tidak berpakaian kecuali yang bagus, maka apa yang kutinggalkan untuk akhiratku ? “

  1. Rabiah al-Adawiyah
    Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qissyah. Dia lahir di Basah pada tahun 96 H/713 M, lalu hidup sebagai hamba sahayakeluarga atik. Dia berasal dari keluarga miskin dan dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota ini  namanya sangat harum sebagai seorang yang suci dan sangat di hormatioleh orang-orang saleh semasanya. Menurut sebuah riwayat dia meninggal pada tahun 185 H/801 M. Orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan di dekat kota Jerussalem.

    Ia terkenal sebagai ulama sufi wanita yang mempunyai banyak murid dari kalangan wanita pula. Kalau Hasan al-Basri menganut ajaran zuhud dengan menonjolkan falsafah tawakkal, khauf dan raja’, maka Rabi’ah menganut ajaran zuhud dengan menonjolkan falsafah hub (cinta) dan syauq (rindu)  kepada Allah.

  2. Salah satu pernyataannya yang melukiskan falsafah hub dan syauq yang mewarnai kehidupannya adalah:

 ما عبدته خوفا  من ناره  ولا طعما فى جنته  فأكون كالأجير السوءعبدته  حبا له  وشوقا  إليه

Artinya:

“Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada nerak-Nya, dan tidak pula tamak untuk mendapatkan syurga ; karena hal itu akan menjadikan saya seperti pencuri  imbalan yang berakhlak  buruk. Ketahuilah, bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rinndu kepada-Nya.”

  1. Syaqiq Al-Balkhiy
    Ia adalah murid dari Ibrahim bin Adham,, kemudianmenjadi gurunya Hatim Al-Ashmi. Ia mulai memasuki kehidupan sufi, dengan cara mengurangi makan setiap hari saat, dan selalu berzikir dan bertaakkal kepada Allah. Iapun senang bertemu dengan Ulama-ulama Sufi lainnya untuk berdiskusi, sehingga tidak kurang  300 ulama yang  pernah dikunjunginya dan menjadi sahabatnya yang akrab, baik ulama yang bermukim di Khurasan  (negerinya sendiri) maupun diluarnya, termasuk Al-Laits bin Sa’ad da Al-Hasan bin Khalil yang pernah ditemuinya. Ia wafat  tahun 194 H.

    Pada abad pertama Hijriyah, Ulama-ulama tasawuf hanya berada di beberapa kota  yang tidak jauh dari kota Madinah, seperti kota mekka, Kufah, Basrah dan kota-kota kecil lainnya. Tetapi di abad ke dua Hijriyah, Ulama-ulama tersebut sudah menyebar ke berbagai negeri di wilayah kekuasaan Islam. Dan Kalau di abad pertama, istilah sufi masih kurang dikenl oleh masyarakat  Islam, kecuali  yang dikenalnya adalah istilah ahli zuhud (Az-Zuhad) ; maka dia abad ke dua, istilah tersebut sudah mulai dikenalnya  dengan memberikan nama kepada  ahli zuhud dengan istilah Sufi atau Sufiah.

    Ciri-ciri lain yang terdapat pada perkembangan Tasawuf di abad pertama dank e dua Hijriyah, adalah kemurniannya disbanding dengan kemurnian Tasawuf di abad-abad sesudahnya. Karena pada abad itu, ajaran Tasawuf sudah mulai terintervensi oleh ajaran Filsafat beserta  taradisi agama  dan kepercayaan yang dianut oleh manusia sebelum Islam. Maka pada abad sesudahnya, sudah mulai terlihat adanya perbedaan ajaran Tasawuf dengan corak Teologi dan filsafat, yang lama kelamaan perbedaan ajarannya semakin jauh, sehingga  kecurigaan antara suatu penganut Tasawuf dengan yang lainnya semakin menonjol, yang pada akhirnya permusuhan antara mereka tidak dapat dielakan. Ditambah lagi dengan mulai timbulnya kecurigaan Ahli fiqih terhadap Ahli Tasawuf; baik yang penganut corak Tasawuf Teologi, lebih-lebih terhadap penganut Tasawuf Falsafi.[17]

    Dalam kehidupannya sebagai seorang sufi, ia sangat menghargai waktu untuk diisinya  dengan ibadah kepada Allah. Beliau sering mengatakan:

    الرعا ة  فى  كل  عصر  العلماء  والصو فية

    Artinya:

    Orang yang sangat menghargai  ( setiap waktu ) dalam setiap zaman adalah Ulama dan orang-orang Sufi,”

[1] Abu al-Wafa’ al-Ganimi al-Taftazani, Madkhal ila Al-Tasawwuf al-Islami, Dar al-Saqafah Li al-Tiba’ah wa Al-Nasyr, Cairo,1979, hlm.90

[2] Ibid., hlm. 91

[3] Abu Bakar Atjeh …. Hlm 245-6

[4] Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1984, hlm.76

[5] Al-Taftazani, op. cit., hlm.75

[6] Asmaran, hlm261

[7] Asamaran ibid hlm.263-64

[8] A.J Berry menguti pernyataan Ibrahim bin Adham sendiri, yang menerangkan bahwa Ibrahim bin Adham menerima pelajaran dari zahid Kristen. Dia mengatakan: Kupelajari ma’rifah, kisahnya kepada seorang murid, dari seorang rahib, bapak simoen, telah berapa lama anda tinggal di dalam biara ini ? “Tujuh puluh tahun” jawabnya. “apa anda makan” tanyaku lagi. “ Wahai Hanifah” tukasnya “Mengapa anda tanyakan ini. “? “Aku ingin tahu”  jawabku . Kemudian dia berujar: “Satu buncis setiap malam.”  Lihat Asmaran hlm. 264

[9] Al-Taftazani, op.cit., hlm.82

[10] Asmaran, A.S, op. cit,. hlm.266

[11] Hasbi Ashiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Jakarta, 1977, hlm.312

[12] Ibid.

[13] Rosihan , hlm 174

[14] Kamil Mustafa,    276

[15] Kamil Mustafa As-Syaiby, Ash-Shilah Bainal Tashawwuf Wat-Tasyayyu, Darul Maarif, Mesir, tt., hal. 300

[16] Ibid, hal. 328

[17] Mahyuddin, hal. 69


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat WhatsApp Me