Langit fajar nan elok, tak ada satupun pelukis yang mampu menggoyangkan kuas di atas kanvas lukisnya untuk menggambarkan keelokannya, tak ada pendongengpun yang mampu mengisahkan keindahannya, dan tak satu penyair jua yang kuasa meleburkan kesejukan fajar ini dalam bait-bait ciptanya.

Seperti itulah nampaknya yang selalu kita dapat rasakan saat bibir kita lembab dalam kemesraan dengan kalam kalam Tuhan yang penuh dengan hikmah dan iman, saat tegak tubuh alif kita mengakar ke bumi menyerahkan penghambaan yang sejati hanya kepada-Nya.

Islam ini akan bangga dan menakjubkan jika mereka yang bangun lebih fajar dari yang lainnya, membasahi anggota wudhunya dengan gemericik air-air surga, menapaki jalan yang gulita dengan terompah firdaus yang dijepitnya menuju rumah Allah swt yang agung dan mulia, adalah mereka yang masih belia, remaja yang darahnya deras mengalir, yang hati dan semangatnya selalu ingin dan ingat akan masjid Rabb­-nya.

Sayang seribu sayang, masjid kini tampak amat sangat begitu lengang, nasib shubuh semakin malang, hiburan malam dan berfantasi di smartphone yang kini disayang. Seakan kita semakin ingin mengelus dada, menarik nafas dan menutup mata, selalu saja bapak renta, abah sepuh, kiai alim yang dijumpa di waktu-waktu yang mulia ini, waktu yang siapapun dari hamba-Nya yang berdoa maka terpenuhilah apapun yang ia tengadahkan. Lantas, di mana sosok muda yang katanya selalu punya banyak ide-ide cemerlang, tenaga yang tak pernah habis, langkah yang luas dan cepat, dan semangat yang bergolak setiap harinya.

Ada remaja yang aktifkan alarm bangun tengah malam demi pertandingan Liga Champion, atau menghubungi kekasihnya yang diidamkannya, tetapi tidak pernah dilakukan untuk menghamba dan berduaan dengan Sang Pencipta-nya. Allah itu cemburu dengan hamba-Nya yang selalu melupakan-Nya, hingga saatnya Dia akan melupakan hamba-Nya yang melupakan-Nya, nasullaha fa ansaahum anfusahum.

Ketika harus masuk sekolah pagi hari jam 7 pagi, si remaja selalu rela bangun lebih pagi agar bisa sampai tepat waktu di sekolahnya. Apalagi bagi yang tempat tinggalnya jauh, mampukah ia bangun lebih pagi agar tidak terlambat?. Akankah ia selalu meminta izin kepada guru-gurunya setiap hari karena kondisinya tidak memungkinkan untuk datang pagi-pagi?

Mengapa si pemuda tak berani minta izin kepada guru-gurunya padahal dia manusia biasa. Sementara ia sangat begitu mudah “meminta izin” kepada Allah, yang telah menciptakannya, untuk terlambat mendirikan sholat Subuh, apalagi bangun malam qiyamullail menuju-Nya?

Tahukah kamu wahai pemuda, bahwa Muslim ikut meneruskan kata indah Nabimu ini, “Barangsiapa yang sholat Isya’ berjamaah maka seakan-akan dia telah sholat setengah malam. Dan barangsiapa sholat Subuh berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan sholat malam satu malam penuh.”

Begitu pula Bukhari, ahli hadis terkemuka pun menuturkan wejangan indah Panutanmu, “Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin (ashar dan shubuh) maka akan masuk surga.”

Dan ini salah satu pesan Rasulmu yang kini ku ingat, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat”.

Masa mudamu kini dihiasi robot-robot kotak yang hadir di sakumu, yang bisa menjerumuskanmu hatta melupakanmu dari masjid dan Tuhanmu, atau menyelamatkanmu dan menyukseskan masa depan dan asa serta seluruh harapanmu.

 

Rizqa Fathurahmah Farhah’s Author Of Article.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me