“Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia” potongan dari sebuah lagu yang dipersembahkan untuk kemuliaan dan perjuangan ibu kartini demi emansipasi wanita.

Siapa yang tak kenal dengan Raden Ajeng Kartini? Sosok wanita tangguh yang sudah meninggal 105 tahun lalu (1904 – 2019) masih memberikan pengalaman hidup yang membekas pada sejarah. Sosok wanita yang mengalami batasan dalam dunia pendidikan, lantaran adat istiadatnya yang jika sudah berusia 12 tahun maka ia harus dipingit. Apakah anda tahu apa itu pingit?

Pingit atau ditambah imbuhan ber- dalam Kamus Besar Berbahasa Indonesia memiliki arti berkurung di dalam rumah. Sehingga kebiasaan orang terdahulu mengurung anak perempuan yang sudah berusia 12 tahun hingga ada lelaki yang melamar anak perempuan tersebut atau dijodohkan oleh orang tuanya.

Masa pingitan Kartini selama di rumah tetap melakukan korespondensi atau surat-menyurat kepada temannya yang berada di Belanda, karena Ayahnya menyekolahkan Kartini di ELS (Europese Lagere School) menjadikan Kartini bisa berbahasa Belanda. Mulai dari sinilah ketertarikan Kartini dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku. Sehingga ada keinginan di dalam diri Kartini untuk memajukan perempuan pribumi, pikir Kartini perempuan pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu.

Hingga Kartini berusia 24 tahun, orang tua menjodohkannya dengan seorang Bupati Rembang yang bernama Raden Adipati Joyodiningrat dan konon dalam sejarah Kartini menjadi istri keempat dan akhirnya menikah pada tanggal 12 November 1903.

Usaha emansipasi wanita oleh Kartini tertulis dalam buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duistermis tox Licht­). Buku ini menjadi pendorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidak hanya sebatas tulisan di atas kertas, tetapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis khusus wanita yang bernama Kartini School.

Terlepas dari sejarah dan biografi singkat Kartini, di era milenial ini mari kita tinjau kembali usaha yang sudah ia lakukan kepada perempuan Indonesia. Apakah usaha yang dahulu masih berbekas? Atau sudah kembali kepada masa mula sebelum adanya emansipasi wanita?

Sepengetahuan penulis dari kuriositas tentang emansipasi wanita, bahwa ada gerakan yang mendukung usaha Kartini hingga melanjutkan emansipasi wanita di era milenial, tetapi ada juga yang menolak usaha Kartini hingga membuat gerakan antifeminisme di Indonesia.

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA berkata dalam kajiannya bahwa agama Islam mengangkat derajat perempuan hingga menghilangkan pelecehan yang didapati oleh perempuan.

Sangat bisa dirasakan oleh perempuan di Indonesia dari hasil Kartini memperjuangkan emansipasi, mulai dari perempuan di Indonesia bisa sekolah tinggi hingga strata 3 (S3), bisa bekerja di perkantoran dan yang lain sebagainya.

Allah berfirman :

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab : 35)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki pandangan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, agama Islam mendukung emansipasi agar terwujudnya feminisme.

Menurut Dra. Susilaningsih Kuntowijoyo, MA, bahwa gerakan feminisme erat kaitanya dengan women liberation movement (gerakan pembebasan wanita). Gerakan ini dikenal dengan sebutan Women’s Lib (WL) yang merupakan suatu gerakan sosial yang peduli terhadap perlunya perubahan peran dan status wanita.

Berbeda dengan gerakan antifeminisme di Indonesia, gerakan yang di awali dengan akun Instagram yang bernama Indonesia Tanpa Feminis. Akun Instagram ini mengkampanyekan gerakan anti feminisme lantaran tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Tidak sampai disitu, beredar pula tagar #UninstallFeminism, tujuan gerakan ini terbentuk karena mereka berpendapat bahwa Indonesia tidak butuh feminisme. Padahal, jika kita perhatikan tagar yang beredar tersebut terlihat bahwa mereka meyakini feminisme telah ada di Indonesia. Bukankah begitu?

Feminisme yang ingin memanusiakan manusia tidak sependapat dengan gerakan tersebut, mereka berpendapat feminisme menuhankan manusia. Bagaimana pendapat anda tentang ini?

Lebih geram lagi, gerakan ini beranggotakan perempuan yang bisa disebut syar’i dalam penampilan, dalam foto yang diunggah di akun Instagram Indonesia Tanpa Feminis ada postingan sekumpulan perempuan berhijab. Kalaulah gerakan itu menyadari apa yang sudah mereka pelajari tentang Islam, bahkan kajian yang lebih dalam tentang keperempuanan mereka akan mendapati titik emansipasi yang sudah diusahakan oleh Kartini. Lantas mereka ingin menghilangkan feminisme di Indonesia? Menahan dagu sambil tepok jidat mungkin mereka dalam keadaan hipokrit.

Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak kepada para pembaca agar bersama-sama menghargai jasa ibu kita Kartini, menjaga apa yang sudah ia usahakan untuk perempuan di Indonesia. Berbeda pendapat itu wajar, tetapi semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

Selamat Hari Kartini 2019


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp WhatsApp Me