Imam Malik adalah seorang ahli hadis serta seorang mufti dan ahli istinbath. Sebagai seorang ahli hadis, orang-orang besar dari guru-gurunya meriwayatkan hadis darinya, seperti Rabi’ah, Yahya bin Sa’id, Musa bin ‘Uqbah dan lain-lain. Teman-temannya meriwayatkan hadis darinya seperti Sufyan ats-Tsauri, Abi Laits bin Sa’id, al-Auza’i, Sufyan bin ‘Uyainah dan Abu Yusuf teman Abu Hanifah. Dan murid-muridnya yang meriwayatkan hadis darinya seperti Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, Muhammad bin Husain asy-Syaibani dan lain-lain. Dan dari segi bahwa ia seorang mufti dan ahli istinbath, ulama-ulama besar dari imam-imam madzhabnya mengambil masalah-masalah darinya.

Imam Malik menetap di Madinah sejak lahir sampai meninggal di Madinah pada tahun 179 H. Umat Islam dari berbagai negeri datang kepadanya untuk menerima hadis dan masalah-masalah darinya sampai ia wafat tahun 179 H. Sebagian besar orang yang datang kepadanya adalah orang-orang Mesir dan Maghribi dari Afrika dan Andalusia. Adapun orang-orang yang datang kepadanya dari Mesir yang merupakan tokoh-tokoh di antaranya adalah Abu Abdullah Abdurrahman bin Qasim bin Khalid bin Junadih al-Itqi (Ibnu Qasim). Setelah belajar pada Ibnu Wahab ia pergi ke tempat Imam Malik beberapa tahun lamanya, dan dia tidak mencampur ilmu yang diperolehnya dari Imam Malik dengan orang lain sehingga ia menjadi yang paling mantap padanya. Ibnu Wahab berkata kepada Abu Tsabit: “Jika saya menghendaki urusan fikih Malik maka tetaplah pada Ibnu Qasim karena tidak ada tokoh bandingannya dan kami sibuk dengan yang lainnya”. Ia meninggal pada tahun 191 H.

Adapun pengikut Imam Malik yang datang dari Afrika di antaranya adalah Abdussalam bin Sa’id at-Tanukhi yang dijuluki Sahnun. Ia asli berbangsa Syam dari Hamsyah. Ia belajar ilmu di Qairawan dari para gurunya, terutama Ali bin Ziyad, dimana ia pergi kepadanya di Tunisia. Kemudian dia pergi ke Mesir dan belajar kepada Ibnu Qasim, Ibnu Wahab dan lain-lain. Ia menjadi penghubung antara Malik dengan para pelajar dari negeri Maghribi. Kemudian ia pergi ke Madinah dan bertemu dengan ulama-ulamanya setelah Malik wafat. Dialah penyusun kitab al-Mudawanah al-Kubra yang menjadi pegangan penduduk Qairawan. Pada tahun 234 H ia menjabat sebagai hakim di Afrika sampai wafatnya pada tahun 240 H,

Kitab al-Mudawanah al- Kubra adalah kitab fikih dalam mazhab Maliki. Kitab ini berisi pendapat-pendapat Imam Malik bin Anas al-Ashbahi tentang fikih yang merupakan riwayat Imam Sahnun bin Sa’id at-Tanukhi yang bersumber dari Imam Abdurrahman bin Qasim (Ibnu Qasim). Maksudnya pendapat-pendapat Imam Malik dalam kitab ini adalah berdasarkan penjelasan dari Ibnu Qasim sebagaimana yang langsung ia terima dari Imam Malik. Kemudian Ibnu Qasim menyampaikan pendapat Imam Malik tersebut kepada Sahnun sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh Sahnun. Selanjutnya Sahnun menuliskannya sehingga menjadi kitab al-Mudawwanah alKubra ini.

Biografi Imam Malik

Imam Malik adalah imam kedua dari imam empat dalam islam dari segi umur beliau lahir 13 tahun sesudah Abu Hanifah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Malik Ibn Anas Ibn Malik Ibn Abi Amir Ibn Amir bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi al-Humairi. Beliau merupakan imam dar Al-Hijrah. Nenek moyang mereka berasal dari Bani Tamim bin Murrah dari suku Quraisy. Malik adalah saudara Utsman bin Ubaidillah AtTaimi, saudara Thalhah bin Ubaidillah.4 Beliau lahir di Madinah tahun 93 H, beliau berasal dari keturunan bangsa Himyar, jajahan Negeri Yaman. Ayah Imam Malik adalah Anas Ibn Malik Ibn Abi Amir Ibn Abi Al-Haris Ibn Sa’ad Ibn Auf Ibn Ady Ibn Malik Ibn Jazid. Ibunya bernama Siti Aliyah binti Syuraik Ibn Abdul Rahman Ibn Syuraik Al-Azdiyah. Ada riwayat yangmengatakan bahwa Imam Malik berada dalam kandungan ibunya selama 2 tahunada pula yang mengatakan sampai 3 tahun.

Imam Malik Ibn Anas dilahirkan saat menjelang periode sahabat Nabi SAW di Madinah.8 Tidak berbeda dengan Abu Hanifah, beliau juga termasuk ulama zaman, ia lahir pada masa Bani Umayyah tepat pada pemerintahan Alwalid Abdul Malik ( setelah Umar ibn Abdul Aziz) dan meninggal pada zaman Bani Abbas, tepatnya pada zaman pemerintahan Al-Rasyud (179 H). Imam Malik menikah dengan seorang hamba yang melahirkan 3 anak laki-laki (Muhammad, Hammad dan Yahya) dan seorang anak perempuan (Fatimah yang mendapat julukan Umm al-Mu’minin). Menurut Abu Umar, Fatimah temasuk di antara anak-anaknya yang dengan tekun mempelajari dan hafal dengan baik Kitab al-Muwatta.

Studi Kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra

Deskripsi Kitab :

Judul Kitab : al-Mudawwanah al-Kubra
Penulis : al-Imam Malik bin Anas al-Ashbahiy
Penerbit : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, Beirut: Libanon.
Cetakan : cet. Pertama, tahun 1994 M/ 1415 H.
Jumlah Jilid : 4 jilid.
Jilid pertama : 640 hal
Jilid kedua : 623 hal.
Jilid ketiga : 696 hal.
Jilid keempat : 718 hal

Objek Pembahasan

Untuk objek pembahasan dalam kitab ini adalah masalah-masalah fiqih, sehingga kitab ini dikategorikan sebagai kitab fiqih, bukan kitab hadis. Pembahasan dalam kitab al-Mudawwanah al-Kubra:

Jilid pertama : Dalam jilid pertama ini membahas tentang fiqih ibadah seperti wudhu, shalat, jenazah, i’tikaf, zakat, haji, jihad, binatang buruan, binatang sembelihan, binatang sembelihan ketika haji, aqiqah dan nadzar.

Jilid kedua : Dalam jilid kedua ini membahas tentang fiqih munakahah seperti, thalaq, nikah, Radha’ah, Dzihar, Ilaa dan lain-lain.

Jilid ketiga : Dalam jilid ketiga ini membahas tentang fiqih mu’amalah seperti jual beli Salam, pinjaman, gadai, Gharar, dan lain-lain.

Jilid keempat : Dalam jilid keempat ini membahas tentang fiqih jinayah seperti Qadha, Syahadat, Syafaat, Shadaqah, jinayah, Diyat, dan lain-lain.

Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisan kitab, seperti susunan bab dan isi bab. Karena ini merupakan kitab fiqih, maka hampir sama dan umum dengan kitab-kitab fiqih yang lain. Kitab al-Mudawwanah al-Kubra termasuk kitab fiqih utama yang menjadi rujukan utama dalam madzhab maliki. Yang menarik bahwa kitab ini ditulis langsung oleh pendiri madzhab Maliki, yaitu al-mam Malik bin Anas Rahimahullah.

Kitab ini adalah sebuah kitab fiqih yang sangat lengkap dan padat; Kitab yang terdiri dari 4 jilid ini, menggunakan bahasa yang simpel dan mudah dimengerti, serat mencakup seluruh masalah fiqih, dimulai dengan bab wudhu dan diakhiri dengan bab Diyat, sehingga satu kitab ini saja sudah cukup menjadi pegangan bagi setiap yang bermadzhab Maliki. Hampir setiap bab dalam kitab ini dimulai dengan pertanyaan tentang suatu perkara yang kemudian diikuti dengan jawaban.

Metode Istinbath Dan Penerapan Hadis Dalam Kitab

Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa dalam kitab ini banyak digunakan pendapat-pendapat dari Imam Malik, begitupun dengan dengan pernggunaan hadis dalam kitab ini menggunakan hadis-hadis riwayat Imam Malik, antara kitab ini dengan karya Imam Malik yang lain yaitu alMuwattha’ memiliki keterkaitan yang sangat erat, seperti contoh: Ulama telah sepakat bahwa mengusap kepala merupakan fardhu wudhu’. Namun mereka berbeda pendapat tentang kadar bagian kepala yang diusap. Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa yang wajib disapu adalah sebagian dari kepala. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa yang wajib disapu adalah seluruh kepala.

Perbedaan pendapat ini menurut Ibnu Rusyd bertitik tolak dari perbedaan pemahaman arti ganda (isytirak) huruf “ba” dalam bahasa Arab. Kadang kadang ‘ba’ itu hanya berfungsi sebagai huruf zaidah (tambahan/pelengkap) dan kadang-kadang mengandung arti tab’idh (sebagian). Menurut pakar nahwu Kufah, ulama yang berpendapat bahwa ba’ berfungsi sebagai zaidah (pelengkap) mewajibkan mengusap seluruh kepala. Maksud “zaidah” di sini adalah berfunsi sebagai “penguat”. Sedangkan ulama yang menganggap ba’ itu berarti sebagian, maka mewajibkan menyapu sebagian rambut kepala.

Menurut Imam Malik bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal menyapu kepala, Artinya mereka harus menyapu seluruh kepala. Dalam hal ini tampaknya Imam Malik memahami bahwa huruf ‘ba’ dalam ayat wudhu’ itu sebagai ‘ba’ zaidah, sehingga ia mewajibkan menyapu seluruh kepala. Mengenai hukum mengusap surban dan khimar, ulama berselisih pendapat. Ahmad bin Hambal, Abu Tsaur, Qasim bin Salam, serta beberapa ulama yang lain memperbolehkannya. Sedangkan ulama lain seperti Malik, Syafi’i dan Abu Hanifah melarangnya.

Sebab perselisihan mereka itu adalah perbedaan pendapat di antara mereka mengenai pelaksanaan hadis riwayat Mughirah13 dan yang lain bahwa Rasulullah Saw. mengusap pilingan dan surbannya, dan berdasarkan qiyas dengan mengusap muzah (sepatu) yang disyaratkan dalam keadaan terpakai dan suci. Hadis ini ditolak oleh sebagian ulama; karena dianggap tidak sahih atau dianggap bertentangan dengan al-Quran, yaitu perintah untuk mengusap kepala (bukan surban). Dan mungkin karena amalan itu belum populer bagi ulama yang mensyaratkan kemasyhuran amalan jika jika berdasarkan hadis ahad.

Hadis ini menurut Abu Umar bin Abdul Barr mengandung cacat (ma’lul). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi mengusap surban dan tidak ada sebutan pilingan (an-nashiyah). Oleh karena itu, sebagian ulama tidak mensyaratkan mengusap pilingan jika surban sudah diusap. Sebab, asal (pilingan) dan penggantinya (surban) tidak dapat dikumpulkan dalam satu perbuatan. Dalam kitab al-Mudawanah al Kubra Imam Malik menyatakan apabila seorang wanita menyanggul atau menjalin rambutnya maka wajib ia menyapu sanggul atau jalinan rambutnya itu, dan tidak sah bila ia hanya menyapu kerudung (khimarnya) saja. Diantara alasan Imam Malik dalam hal ini menurut analisi penulis adalah karena hadis tentang mengusap surban ini tidak masyhur dikalangan ahlul madinah. Disamping itu dalam kitab al-Muwatha’ Imam Malik mengemukakan beberapa atsar sahabat yang menjelaskan tentang tidak sahnya wudhu’ dengan sekedar mengusap surban atau khimar.

Komentar Para Ulama Terhadap Imam Malik

Para ulama ber-ijma’ atas keimanan, kehebatan dalam hadis, kritik perawi, dan penggalian hukum, baik dari al-Quran atau as-Sunnah yang dimiliki Imam Malik. Hal tersebut juga disaksikan oleh teman-temannya dan ulama-ulama yang hidup semasa dengannya. Inilah sebab Habib alWaaq yang mengatakan, “Aku menemui Malik untuk menanyakan tentang tira perawi yang tidak diambil.” Ia berfikir sebentar kemudian mengangat kepalanya seraya mengatakan, “Masyaa Allah laa Quwwata illa billah” kalimat yang sering diulang-ulang.selanjutnya mengatakan, “Aku mengenal masjid ini,di mana didalamnya ada tujul puluh guru yang pernah bertemu dengan saahabat-sahabat Nabi saw. dan meriwayatkan dari para tabi’in, tapi kami tidak mengambilriwayat kecuali dari ahlinya.” Malik juga pernah mengatakan, “Mungkin saja, sang guru duduk dengan kami, kemudian di siang harinyameriwayatkan hadis, tapi kami tidak mengambil satu hadis oun darinya, bukan karena kamu menuduhnya, tapi karena ia bukan ahli hadis.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *