Surat Terbuka Tentang Himbauan Penutupan Masjid - Fakhroyy

Setelah beredar fatwa Majelis Ulama Indonesia No 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19, bagi yang ingin melihat isi fatwa MUI bisa klik di sini. Menyikapi fatwa MUI banyak orang menyoalkan hal tersebut, salah satunya seperti “Kenapa mesti takut untuk shalat berjamaah di masjid? Jangan takut dengan corona. Takutlah hanya kepada Allah”

Hari ini, saya membaca surat terbuka dari dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Ibrahim Syuaib, Lc., MA sebelum memulai materi perkuliahan daring. Seperti biasa, sebelum kuliah daring dimulai beliau memberikan wejangan yang akhirnya menumbuhkan sikap optimis dan semangat dalam hidup mahasiswa. Pada isi surat terbuka terdapat 11 poin berkenaan dengan himbauan penutupan masjid.

  • Pendapat Pribadi
    Seorang ahli Hukum Tata Negara umpamanya berhak mengutarakan pendapatnya tentang Hukum Tata Negara. Tetapi sekalipun ia pakar di bidang tersebut, pendapatnya hanyalah sebatas pendapat pribadi, tidak menjadi bagian dari Hukum Tata Negara. Kewajiban kita sebagai pembaca tulisannya adalah meneliti kesesuaian pendapatnya dengan paragraf-paragraf Hukum Tata Negara. Demikian juga halnya dengan seorang ustadz dan ulama. Sekalipun ia pakar di bidang ilmu-ilmu keislaman, pendapatnya tentang masalah-masalah agama Islam hanyalah sebatas pendapat pribadinya, bukan bagian dari ajaran agama Islam.
  • Manusia Yang Paling Tawakkal
    “Hindarilah penderita penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” Demikianlah pesan Nabi kita seperti yang tertera di dalam kitab Shahih al-Bukhari. Seorang shahabat dari Suku Tsaqif penderita kusta ingin berbaiat kepada Nabi saw. Beliau menghindarinya dan berkata; “Saya telah menerima baiatmu, pulanglah!” Kusta dan covid-19 adalah wabah penyakit yang menular. Sekalipun Nabi saw adalah orang yang paling tinggi tingkat tawakkalnya, ia tetap melakukan tindakan-tindakan pencegahan peyebaran penyakit menular. Beliau menganjurkan kita menghindari wabah seperti menghindari singa. Saat ini, ketika kita kumpul-kumpul untuk kepentingan apapun, dimanapun dan kapanpun, pada hakikatnya kita sedang berhadapan dengan beberapa ekor “singa” yang tidak tampak dengan kasat mata dan siap menerkam kita. Nabi saw menganjurkan kita menghindari seekor singa yang dapat dilihat dengan kasat mata. Apalagi ketika berhadapan dengan beberapa ekor “singa” yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata.
  • Perintah Pelengkap
    Agama, jiwa, akal, harta dan garis keturunan adalah lima perkara utama yang wajib kita jaga, karena ia adalah tujuan utama syariah Islam. Lima perkara utama ini disebut “maqashid al-syari’ah”. Shalat jumat dan shalat berjamaah adalah “al-ahkam al-takmiliyah” (perintah pelengkap) untuk melaksanakan perintah utama yaitu agama, dalam ini “mendirikan shalat”. Salah satu bentuk kontradiksi hukum Islam ialah;
أن تكون الأولى في رتبةِ الضروري، والثانية في رتبة المكمِّل له، فترجح الأولى على الثانية
(الموافقات فى أصول الشريعة, ابي إسحاق إبراهيم بن موسى اللخمي الشاطبي)

“Dua hukum kontradiktif, yang pertama hukum pada tingkatan utama, sedang yang kedua pada tingkatan pelengkap, dalam kasus ini yang pertama mengalahkan yang kedua”
(Sumber: Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah – Karya Imam al-Syathiby)

Perintah pelengkap kalah ketika bertentangan dengan perintah utama. Anjuran melaksanakan shalat jumat dan shalat berjamaah kalah ketika keselamatan jiwa terancam. Dalam hal ini, ancaman penyebaran covid-19.

  • Ilmu Bukan Perasaan
    Kita sedih ketika tidak shalat berjamaah di masjid. Kita menangis melihat masjid ditutup. Tetapi agama, dalam banyak kasus tidak berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan ilmu.
  • Orang Yang Lebih Mulia dari Kita
    Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarrah, Mu’az ibn Jabal, Yazid ibn Abi Sufyan, al-Haris ibn Hisyam, Suhail ibn ‘Amru, ‘Utbah ibn Suhail dan ‘Amir ibn Ghailan al-Tsaqafi adalah orang-orang mulia, mereka adalah shahabat Nabi saw. Mereka wafat karena wabah penyakit menular. Kedudukan kita berada jauh di bawah mereka. Ketaatan dan keikhlasan kita beribadah di masjid tidak menjamin keselamatan kita terhindar dari covid-19.
  • Tempat Paling Mulia
    Masjid adalah bagian bumi paling mulia di sisi Allah swt. Tetapi Allah swt tidak menjaminnya suci dari penyebaran penyakit menular.
  • Taat Kepada Ulil Amri
    Pemerintah telah menganjurkan kita beribadah di rumah untuk mencegah penyebaran covid-19. Mereka adalah ulil amri kita. Agama memerintahkan kita taat kepada ulil amri selama mereka tidak menyuruh kita berbuat kemungkaran. Apalagi bila perintah itu demi kemaslahatan kita dan telah menerapkan PSBB di daerah kita.
  • Pahalanya Sama

    “Bila seorang hamba sakit dan musafir, maka ia tetap memperoleh pahala amalan yang dikerjakannya ketika ia menetap di kampungnya dan sehat.” Demikian pesan Nabi saw dalam kitab Shahih al-Bukhari.

    Seorang yang rajin melaksanakan shalat berjamaah di masjid ketika ia sehat dan tidak musafir, lalu ia tidak melaksanakannya karena khawatir penyebaran covid-19, maka ia tetap memperoleh pahala shalat berjamaah di masjid, sekalipun ia shalat di rumah. Kalau pahalanya sama, lalu mengapa harus memaksakan diri shalat berjamaah di masjid

  • Penutupan Sementara
    Kita menghimbau penutupan masjid di daerah kita untuk sementara waktu. Selama ada uzur. Selama pemerintah menetapkan PSBB di daerah kita, atau selama daerah kita masuk zona merah penyebaran covid-19.
  • Azan dan Serambi Masjid
    Sebaiknya masjid masih mengumandangkan azan. Bukan untuk memanggil jamaah shalat di masjid, tetapi untuk pemberitahuan masuknya waktu. Serambi masjid juga sebaiknya masih dibuka untuk memberi kesempatan shalat bagi musafir.
  • Masjid dan Tempat Lain
    Himbauan untuk tidak berkumpul berlaku untuk semua tujuan dan tempat, kecuali hal-hal yang mendesak seperti belanja ke pasar dan berobat ke rumah sakit. Hal ini penting agar tidak ada penolakan dalam penutupan masjid. Penolakan tersebut seperti; “Mengapa kumpul untuk shalat berjamaah di masjid dilarang, sementara kumpul-kumpul di saung, posko, lapangan dan tempat lain tidak dilarang?”

 

Wallahu a’lam


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *