Secara garis besar penafsiran Alqur’an dilakukan dalam empat metode yaitu: metode ijmali (global), metode tahlili (analitis), metode muqarin (perbandingan), dan metode maudhu‟i (tematik). Al-Farmawi menjelaskan tafsir ijmali adalah suatu metode penafsiran Alqur’an yang menafsirkan ayat-ayat Alqur’an dengan cara mengemukakan makna global. Dalam sistematika uraiannya, mufassir membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunannya yang ada dalam mushaf, kemudian mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat.5 Penjelasan alFarmawi ini menjadi dasar kuat untuk menarik kesimpulan bahwa tafsir al-Kitab al-Mubin ini menggunakan metode ijmali.

Dibanding Nurul Bajan yang masih menggunakan ejaan lama, al-Kitabul al-Mubin sudah menggunakan pola penulisan ejaan yang disempurnakan (EYD). Karya tafsir ringkas ini disusun dalam dua jilid lengkap 30 Juz dengan 160 buah catatan kaki sebagai tafsir yang menjelaskan kata atau kalimat dalam ayat. Penyajian runtut atau memakai metode tartib mushafi.

Meski ditulis oleh orang yang sama, al-Kitabul al-Mubin sama sekali tidak memperlihatkan kesamaannya dengan Nurul Bajan dalam terjemah bahasa Sundanya. Karya ini mencantumkan “ruku” untuk setiap tema ayat dalam setiap surat. Pola ini kemudian diadopsi dalam Kitab Suci al-Qur‟an Tarjamah Sunda terbitan Jemaat Ahmadiyah. Pada 1977, al-Kitabul al-Mubin kemudian memiliki tanda tashih dari Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Departemen Agama RI tertanggal 10 September 1977 dengan nomor tashih j-III/223/B-II/77.

Download Tafsir Kitabul Mubin Jilid I



Download Tafsir Kitabul Mubin Jilid II