Penerjemahan pada dasarnya merupakan proses mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Pengalihan pesan teks sumber harus sepadan, akurat, dan berterima ke dalam teks sasaran. Dalam penerapannya, tidaklah mudah. Terdapat beberapa kendala dalam penerjemahan yang disebabkan oleh masalah bahasa, budaya, dan agama. Setiap kata pada hakikatnya adalah wadah makna. Pengalih bahasa harus memahami kandungan makna dari kata tersebut dan memilih bahasa yang sepadan dengan bahasa sasaran. Persoalannya, apakah antara kata atau ungkapan dalam satu bahasa dapat ditemukan padanannya dalam bahasa lain? Abu Ḥayyān at-Tauḥīdiy, mengutip as-Ṣairāfiy, menjelaskan, “Harus Anda ketahui, setiap bahasa tidak mungkin dapat dipersamakan dengan bahasa lain dari segala aspeknya: sifat, susunan, bentuk metafor, kosakata, kata kerja dan lainnya” (Ibrahīm Anis, Dalālāt al-Alfāẓ: 80-81). Ketidaksamaan antara bahasabahasa manusia menjadi problem utama dalam proses penerjemahan. Al-Jāḥiẓ pernah mengatakan bahwa sebuah terjemahan tidak mungkin dapat menjangkau seluruh makna yang dimaksud oleh pengucap dari berbagai sudut: kekhasan makna, arah pembicaraan, dan pesan-pesan yang tersembunyi (al-Jāḥiẓ, al-Ḥayawān: 75-76).

Kendala tersebut akan semakin terasa apabila yang diterjemahkan adalah teks keagamaan, seperti Al-Qur’an yang dipengaruhi oleh konsep teologi dan alat retorika yang digunakan (seperti struktur sintaksis, pilihan kata, alih pronomina, dan alih kata). Kosa kata dan bahasa Al-Qur’an memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Al-Qur’an sangat kaya dengan makna, memiliki kualitas sastra tinggi, yang tidak ditemukan padanannya dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Selain itu bahasa Al-Qur’an juga banyak menggunakan bahasa majāz (metafora), idiom, musytarak (satu kata dengan dua makna atau lebih yang berbeda) dan kekhasan lain yang tidak ditemukan dalam bahasa lain. Disamping keunikan dan karakter bahasa Al-Qur’an, penerjemahan Al-Qur’an juga dipengaruhi oleh perkembangan bahasa sasaran, baik terkait pemilihan kata atau diksi maupun struktur dan kaidah bahasa.

Kendala dan permasalahan ini pulalah yang mewarnai proses penerjemahan AlQur’an kedalam bahasa Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI. Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama RI yang biasa disebut Al-Qur’an dan Terjemahannya sebagai karya kolektif yang dilakukan oleh beberapa ulama anggota Lembaga Penterjemah Kitab Suci Al-Qur`an dalam perkembangannya mengalami pernyempurnaan dan penyesuaian setelah diterbitkan pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1965. Penyempurnaan pertama, perbaikan redaksional yang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan bahasa pada saat itu, yaitu pada tahun 1989. Hasil penyempurnaan ini dicetak oleh Mujamma‘ al-Malik Fahd pada tahun 1990, dan masih terus dicetak dan beredar sampai saat ini. Penyempurnaan kedua, Penyempurnaan secara menyeluruh yang mencakup aspek bahasa, konsistensi pilihan kata, substansi, dan aspek transliterasi dalam rentang waktu yang cukup lama antara tahun 1998 hingga 2002. Edisi inilah yang sampai saat ini digunakan. Pada tahun 2016-2019 kembali dilakukan penyempurnaan yang ketiga secara menyeluruh mencakup berbagai aspek; redaksional, konsistensi dan substansional.

Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama, ahli dan akademisi yang memiliki kompetensi di bidangnya merupakan wujud keterbukaan Kementerian Agama terhadap saran dan kritik konstruktif bagi perbaikan dan penyempurnaan Al-Qur’an dan Terjemahannya. Upaya itu juga didasari pada kesadaran bahwa tidak ada karya manusia yang sempurna, apalagi ketika akal manusia yang terbatas ingin menjangkau pesan kalam Tuhan yang tidak terbatas.

Ada beberapa prinsip penerjemahan yang dijadikan acuan dalam penyusunan Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan ini:

  • Ejaan dalam penulisan teks terjemahan didasarkan pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagaimana ditetapkan melalui Permendikbud No. 50 Tahun 2015. PUEBI mengatur empat hal, yaitu pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan.
  • Struktur kalimat dalam teks terjemahan sedapat mungkin disusun dalam struktur kalimat bahasa Indonesia yang baku. Jika ada bagian kalimat yang dipentingkan, struktur kalimat dapat disesuaikan sejauh tidak menyebabkan kesalahpahaman dalam membaca. Contoh: wa lahū man fis samāwāti wa al-arḍi ‘milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi’ adalah struktur kalimat yang sebenarnya kurang lazim. Seharusnya kalimat terjemahannya menjadi ‘apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya’. Akan tetapi, karena ada penekanan pada pelaku atau pemilik, kalimat tersebut diterjemahkan sesuai struktur kalimat dalam teks sumbernya.
  • Kata penghubung ‘dan’ di permulaan terjemahan ayat dihilangkan, kecuali jika masih terhubung secara langsung dengan ayat sebelumnya. Selain tidak sejalan dengan kaidah bahasa Indonesia, penerjemahan huruf ‘waw’ selalu bermakna ‘dan’ tidak sesuai dengan keragaman makna ‘waw’ dalam bahasa Arab (‘ma‘āni
    al-ḥurūf ).
  • Sedapat mungkin konsisten dalam menerjemahkan huruf, kata dan kalimat dengan tetap memperhatikan konteks penyebutannya. Bentuk verba aktif dan pasif sedapat mungkin dipertahankan sejauh tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam membaca. Jika kalimat dalam teks sumber terlalu panjang, VII teks terjemahan dapat dipecah ke dalam beberapa kalimat sejauh hal tersebut tidak mengurangi maknanya.
  • Penyebutan nama-nama nabi tidak didahului kata ‘nabi’ dan setelahnya ‘as.’, kecuali untuk Nabi Muhammad, (tanpa ‘saw.’).
  • Penerjemahan idiom atau metafora yang sangat asing atau tidak lazim dalam bahasa Indonesia apabila diterjemahkan secara langsung kurang dipahami, maka akan diterjemahkan sesuai dengan bahasa yang mudah dipahami dalam bahasa Indonesia. Seperti penerjemahan kata dalam surah az-Zukhruf ayat 17; ẓalla wajhuhū muswaddan (jadilah wajahnya merah padam). Kata muswaddan, sesuai makna aslinya berarti hitam pekat. Istilah hitam pekat dalam bahasa Indonesia kurang dipahami sehingga diganti dengan kata merah padam.
  • Penerjemahan ayat-ayat mutasyabihat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah, baik sifat zat (ṣifāt żātiyyah) maupun sifat perbuatan (ṣifāt fi’liyyah) menggunakan pendekatan tafwīḍ dan ta’wīl.
  • Ketika kalimat mutasyabihat secara terang menunjukkan sifat Allah, makna tafwīḍ dikedepankan. Contoh: fa ṡamma wajhullāh (wajah Allah).
  • Ketika kalimat mutasyabihat tidak secara terang menunjukkan sifat Allah, makna takwil dikedepankan. Contoh: yurīdūna wajhallāh (keridaan Allah).
  • Apabila kalimat mutasyabihat tidak bisa diterjemahkan dengan satu pendekatan, maka kedua pendekatan tersebut diakomodasi. Yakni menerjemahkan makna secara tafwīḍ dan menyisipkan makna takwil, (penjelasan dalam kurung dan atau di dalam catatan kaki).

Al-Qur’an dan terjemahannya pada dasarnya adalah upaya pengalihan bahasa Al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia yang tidak mungkin sepenuhnya menjelaskan maksud kandungan Al-Qur’an. Terjemahan Al-Qur’an hanyalah sebuah hasil pemahaman penerjemah dengan segala keterbatasannya dan kesan yang ditangkapnya dari Firman Allah. Bagaimanapun bagusnya, terjemahan Al-Qur’an tetap bukanlah Al-Qur’an. Berbeda dengan teks Al-Qur’an yang tidak pernah berubah, terjemahan Al-Qur’an terbuka untuk disempurnakan seiring perkembangan bahasa Indonesia dan dinamika kehidupan masyarakat. Tentu tidak ada karya yang sempurna. Oleh karenanya saran dan kritik konstruktif dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan Terjemahan Al-Qur’an edisi penyempurnaan ini.


Download file PDF Terjemahan Al-Quran Kemenag Edisi Penyempurnaan 2019