Aku bukan siapa-siapa di alam semesta yang luas ini. Aku bukanlah seorang hamba yang ahli Syari’at, bukanlah seorang hamba yang ahli Hakikat, Dan juga bukanlah seorang hamba yang  ahli Ma’rifat. Melainkan, seorang pendosa yang berharap bisa terus bersamamu.

Ketika pertama kali aku mengenalmu, tak ada yang berbeda dari rasa ini. Tapi, semakin dalam aku mengenalmu rasa ini mulai tumbuh berbeda dari biasanya. Rasa yang awalnya hanya sebagai formalitas kini berubah menjadi cinta yang membuatku mabuk kepayang.

Hanya Suaramulah yang dapat ku dengar.
Hanya Dirimulah yang dapat ku lihat.
Hanya Namamulah yang dapat ku sebut.

Wahai, Pelipur laraku…

Suaramu mengalir didalam tubuhku.

Dirimu bersatu didalam jiwaku.

Namamu melayang-layang didalam pikiranku.

Wahai, Penghibur jiwaku…

Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku.

Hatiku telah enggan mencintai makhluk selain dirimu.

Kerena cintaku padamu sepenuh qalbu.

Engkau adalah sosok yang sangat kuat, ketika engkau berperang tiada gentar didalam hatimu. Tebasan demi tebasan pedang telah kau layangkan kepada semua musuh yang menolak akan kebenaran dirimu. Perang Uhud dan Badar telah menjadi saksi keperkasaan dirimu , sementara aku ? perang untuk melawan diri sendiri saja, aku masih tak mampu.

Apakah kau ingat, ketika ada seseorang yang selalu menghinamu, mencacimu , bahkan hingga melemparimu dengan kotoran ?

Apakah kau ingat, ketika ada seseorang yang berusaha untuk membunuhmu ?

Apakah kau ingat, ketika engkau sedang diburu ?

Mendengarnya sajapun aku merasa kesal, takut, dan putus asa untuk menjalani hidup. Sementara, engkau dengan tenangnya tetap berjalan ditengah air yang sedang bergemuruh, engkau tetap tersenyum, dan engkau tetap bersabar dengan itu semua.

Semesta Cinta telah mengalir didalam tubuhku.

Andai kumasukan makhluk ke dalam tubuhku.

Niscaya aku akan lenyap, bersama lenyapnya dirimu dari dalam jiwaku.

Aku merasa Bangga bercampur dengan malu, ketika kudengar rangkaian demi rangkaian puzzle telah berhasil kau selesaikan dan kau susun yang awalnya hanya berupa sebuah fatamorgana menjadi sebuah Oase yang indah dan menjadi sumber kehidupan.

Aku teringat, ketika perjumpaanmu bersama Ukasyah kala itu. Salah satu sahabatmu yang sudah terjamin kualitasnya dan akan masuk syurga. Betapa sabarnya dirimu menjawab semua pertanyaan yang diutarakan oleh Ukasyah. Padahal Ukasyah dulunya adalah salah satu Preman ternama. Tapi, atas keramahan dirimu ia dapat menerimamu sepenuhnya, bahkan menjadi salah satu sahabatmu yang dijamin masuk Syurga.

Mutiara cintamu telah membangunkanku dari tidur.

Rasa sayangmu telah menerangi jiwaku.

Ketulusanmu telah menyadarkanku dari kebodohan.

Hari ini kurasakan cahaya cintamu.

Cahaya yang merasuk kedalam kalbu.

Qalbu yang semakin lama semakin merindu.

Merindukan kehadiran dirimu, kasihku.

Kurasakan cinta ini semakin dalam merasuk kedalam seluruh tubuhku.

Kini, aku telah tenggelam didalam samudera cintamu.

Andai ku tau dimana dirimu berada.

Maka akan ku labuhkan seluruh perasaan ini.

Agar kita bisa bertemu.

Pertemuan antara Sang Pendosa dengan kekasihnya.

Bersama didalam balutan rasa kasih dan sayang.

Hingga napasku telah terhenti

Malam ini aku akan menyaksikan segala kenikmatan.

Kenikmatan yang tak bisa ku hindari.

Karena inilah bukti cintamu kepadaku.

Aku adalah seorang pendosa.

Tapi dirimu selalu memberi harapan kepadaku.

Harapan yang mungkin bisa menjadikanku seorang manusia.

Engkau selalu mendekat, padahal aku selalu menjauh.

Menjauh dari kebisingan alam semesta ini.

Kini, Sang Pendosa memberanikan diri untuk mendekat kepadamu wahai kekasih.

Meskipun, aku tau bahwa ini bukanlah hal yang mudah.

Karena inilah cara untuk membuktikan seberapa besar cintaku kepadamu.

Selama ini, aku telah membakar habis mutiara-mutiara cinta Sang Ilahi hanya untuk memuja tuhan-tuhan yang sebenarnya menjauhkanku denganmu.

Entah harus dengan cara apalagi yang harus aku gunakan, karena aku telah tersesat kedalam lubang kefanaan yang sangat jauh.

Apakah masih ada kesempatan bagi pendosa sepertiku untuk bisa mengenalmu ?

Apakah masih ada ruang bagi pendosa sepertiku untuk terus bersamamu ?

Apakah masih ada harapan bagiku untuk keluar dari lubang kefanaan ini ?

Jika ada, maka…

Izinkanlah aku untuk lebih jauh mengenalmu

Karena seluruh jiwa dan ragaku hanya milikmu.

Izinkanlah aku untuk terus dibahumu.

Berdua didalam keheningan  semesta bersamamu.

Dan, izinkanlah aku bertajalli denganmu .

Karena hasrat tertinggiku adalah bisa terus bersamamu dihadapan Tuhan Semesta alam sebagai saksi betapa besar dan kuatnya Cinta  antara sang pendosa dengan sang kekasih.

Karena sesungguhnya , cinta itu dapat dikatakan sempurna ketika dua materi telah bertemu dan melebur menjadi satu.

Laksana api dan air, ketika mereka bersatu akan menghasilkan asap sebagai buah rindu.

Laksana siang dan malam, Mereka dipertemukan dengan hadirnya senja sebagai hasil buah rindu.

Laksana Yin dan Yang, ketika mereka bertemu maka akan menghasilkan ketenangan sebagai hasil buah rindu.

Laksana sperma dan ovum, ketika mereka bertemu maka akan menghasilkan individu baru yang akan mendobrak dunia sebagai hasil buah rindu.

Dan satu harapan terakhirku, ketika aku hendak tidur akan kuatarakan satu kalimat kepadamu “ Anna Uhibbuka Min ‘Amaki Qolbi” .

Dan berharap keesokan harinya dirimu hadir di hadapanku dan menjawab “ Wa Anna Kadzaalik”.

Disitulah akan terlahir sebuah ketenangan yang akan membawa ku lebih dekat kepada Sang Pencipta.

 

 

Zaki Muhammad Fadhil’s author of article

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me