Oleh : Alma Ghalizha

Kamu tahu artinya masturbasi? Kira-kira, dari mana kamu tahu istilah itu? anak laki-laki perlu edukasi tentang seksual sejak dini gak sih?

Pengertian Tentang Masturbasi

Mendengar kata masturbasi atau onani adalah hal yang tabu namun, sudah bukan menjadi rahasia bagi kaum laki-laki. Masturbasi dalam KBII, berarti proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin atau dalam psikologi diartikan sebagai stimulasi organ seks oleh diri sendiri. Mengungkap sedikit sejarah dari masturbasi atau onani yang berasal dari kitab injil perjanjian lama yang dikisahkan bahwa Onan, anak dari Yudah yang terpaksa menikahi kakak iparnya yang sudah menjorangtua namun menolak untuk menyetubuhi kakak iparnya, jadilah Onan membuang spermanya diluar tubuh kakak iparnya.

Dari Mana Anak Tahu Istilah Seksual?

Menurut Piaget, anak berumur 10-12 tahun adalah umur dimana anak mulai merasakan ketertarikan seksual (suka terhadap lawan jenis) namun, masih dalam lingkup pengembangan potensi kapasitas intelektual di bangku sekolah formal. Pada masa ini pula disebut sebagai ”masa anak akhir” sebagai masa usia yang menyulitkan karena anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman. Usia ini juga disebut sebagai usia tidak rapih, usia bertengkar, usia kreatif, usia berkelompok, dan usia bermain (Nurhayati, 2008 : 8). Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Untuk itu, proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya (Marliani, 2016 : 182).

Dalam survei kepada 50 responden anak laki-laki berumur 16 tahun keatas, 60% mengalami pubertas pada umur 13-15 tahun. Dan 55% mengetahui istilah masturbasi pada rentan umur yang sama. Sedangkan hasil dari pertanyaan “dari mana sih kamu tahu istilah masturbasi?” adalah 80% responden menjawab “dengar dari teman”. Seluruh hasil survei menunjukan bahwa peran orangtua tentang sex education saat masa praremaja hingga masa remaja adalah sangat minim. Mengetahui hal ini perlu adanya sex education untuk anak agar anak tidak mengetahui istilah seksual dari mulut temannya yang juga minim akan pengetahuan seksualitas.

Sex Education Untuk Anak

Ini yang kadang luput dari perhatian orangtua yang merasa bahwa anak remaja sudah bisa mandiri dan tak perlu lagi dibimbing. Mengajak anak diskusi tentang seks atau bisa disebut sebagai sex education dapat menjadi solusi agar anak tak salah mengartikan istilah istilah seks. Sex education praremaja berikut yang dapat dilakukan orangtua dalam proses penanaman sex education di usia praremaja hingga usia remaja :

Pertama, Bangun suasana yang nyaman untuk berdiskusi misalnya, ketika suasana hati anak sedang baik. Agar tidak terlalu canggung, mulailah dengan pengantar seperti, “Di sekolah Kakak sudah diajari apa saja? Sudah belajar soal reproduksi belum?” Dari situ, biarkan pembicaraan mengalir dengan alami. Untuk memancing perhatian anak, coba katakan, “Dulu waktu Ayah/ Ibu seusiamu, kami penasaran apa itu mimpi basah dan masturbasi. Kalau kamu bagaimana?” Sebagai orangtua, pahamilah bahwa perkembangan diri, kesehatan, dan pertumbuhan anak jauh lebih penting dari rasa canggung yang muncul. Untuk membantu Orangtua memberikan pendidikan seks bagi praremaja.

Kedua, setelah membunuh rasa canggung, mulailah beri pengertian tentang apa itu pubertas dan perubahan fisik apa saja yang akan terjadi, misalnya perubahan suara, tinggi badan bertambah, muncul jerawat, tubuh jadi lebih mudah berkeringat, muncul bulu di berbagai area tubuh seperti ketiak, kaki, dan alat kelamin. Berikanlah panduan merawat diri pada masa pubertas seperti cara mencukur dan mencegah bau badan.  Barulah beri pengertian yang mudah untuk menjelaskan apa itu ereksi, ejakulasimimpi basah, masturbasi, hubungan seks dan aktivitas seksual lainnya seperti ciuman dan pelukan. Ajak pula anak bicara tentang bagaimana cara menjalin hubungan dengan lawan jenis, termasuk cara memperlakukan teman perempuan, apa itu pacaran, dan batasan-batasan yang harus dipatuhi anak. Membelikan buku tentang pubertas dan seksualitas khusus untuk anak seusianya juga dapat dijadikan media untuk mengedukasi anak. Letakkan buku-buku tersebut di kamar anak. Lalu katakan, “Ayah/ Ibu punya buku bagus yang penting untuk kamu baca. Tolong dibaca baik-baik, nanti kalau ada pertanyaan langsung tanya pada Ayah/ Ibu, ya.”

Ketiga, Jangan bicara berbelit-belit. Jika Orangtua bicara berputar-putar, anak akan kehilangan minat dan salah tangkap. Atau ia akan merasa bahwa membicarakan seks itu tabu dan tak pantas. Saat menjelaskan apa itu seks, Orangtua bisa bilang, “Seks terjadi ketika dua orang dewasa sudah siap (atau sudah menikah) dan saling mencintai. Penis laki-laki akan masuk ke dalam vagina wanita. Kemudian penis akan mengeluarkan cairan yaitu sperma. Sperma akan bertemu dengan sel telur wanita dalam rahim. Kalau ini terjadi, wanita akan hamil.”

Keempat, jangan berlebihan. Apabila suatu hari anak bertanya soal seks dan orangtua terkejut, jangan tunjukkan rasa kaget atau amarah Orangtua pada anak. Anak akan merasa terancam dan segan untuk bertanya pada Orangtua di kesempatan berikutnya. Tetap tenang dan tanyakan baik-baik dari mana anak mendengar hal tersebut, jangan gunakan nada yang menuduh atau menginterogasi. Kemudian, berikan penjelasan yang memadai. Setelah itu pastikan bahwa anak sudah memahami jawaban orangtua.

Kelima, memberikan pendidikan seks secara berkala dan bertahap. Tak perlu menjejali anak dengan berbagai hal dalam sekali diskusi. Usahakan untuk membicarakan satu topik tertentu dalam setiap kesempatan. Dengan begitu, anak jadi punya kesempatan untuk menyerap dan mengingat informasi yang didapat.

Kelima langkah memulai diskusi dengan anak laki-laki tersebut dapat mengurangi tingkat melakukan mastubasi dikemudian hari.

Kategori: Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WhatsApp Me