Ada kegaduhan kecil yang merepotkan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Piring pecah? Gelas berantakan? Rumah ataukah kapal pecah? Untung bukan problem rumah tangga. Kenapa insiden terlalu dini memberisiki seisi rumah? Masih pagi dengan lembutnya semilir udara melayap di tiap-tiap kembang Kamboja yang kian bermekaran. Pepohonan berjajar sekaligus meruncing ke langit. Ditemani seberkas mungil pancaran surya yang menyelinap dibalik rerindangan pohon mangga. Seakan-akan aroma harmonis meneduhi riung kupu-kupu berjelajah. Tapi akibat insiden tadi hampir semuanya berantakan. Ada apa?

“Bu! Adakah keajaiban sehelai daun? Tolong jawab apa ajaibnya?!”

teriakan si anak menggoyang-goyangkan daster ibu yang tengah sibuk beruap di kobaran kompor. Ibu yang tidak tahu menahu tentang persoalan dianggapnya masa bodo dan melengos dari jeratan hal sepele. Ibunya tak pernah mengenakan topi wisuda sama sekali. jangankan ditanya begitu saja kepala sudah ketar-ketir. Dalam kepala ibunya hanyalah sebatas bumbu dapur. Namun, anaknya tetap bersikukuh dan memaksa agar ibunya menjawab.

Diam lalu menghela napas.

“tanyakan saja pada bapakmu! Walau bapakmu belaga sarungan dan sebatas pengopi di teras rumah. Tapi lihatlah, dia seorang pakar biologi! Pengetahuannya begitu saintifik! Akar sampai pucuk daun dijelajahi semuanya! Sana tanyakan, mumpung bapakmu bukanlah tempat les-les an.”

Tepat saja, kepulan seduh kopi makin hangat diterpa semilir aroma rokok yang tengah dihisap. Bapaknya masih bersantai di kursi kayu sembari mengintai udara yang kebingungan. Dia bersarung dan berkaus oblong putih yang keruh warnanya. Tetap biasa sambil membolak-balikan koran harian. Tiba- tiba, si anak datang lalu bersimpuh.

“ pak! Apa keajaiban daun itu?”

sebegitu sopannya pertanyaan dilontarkan. Wajah polos anaknya tersurat jelas. Lantas, bapaknya menghentikan hisapan rokok dan membuang puntung entah kemana arahnya. Kopi diseruput lalu berkata pada anaknya.

“ayo nak! Makan dulu, kasihan ibumu sudah menyiapkan sedari subuh. Nanti bapak ajak ke suatu tempat.”

Makanan tersaji dengan sederhana dalam hamparan tikar. Nasi, sayur asem yang mengusik kelaparan dicampur sambal yang menggurihkan lidah. Lahap anaknya mengunyah nikmat lalu ditelan. Bapaknya ikut senang begitupula ibunya.

“itulah keajaiban daun dalam kudapan sayur, nikmat bukan? Bisa memanjakan perutmu saat lapar.”

“ selain itu?”

“tenang saja, habiskan dulu terus kita pergi.”

“siap!”

***

Lantas bapaknya mengambil sepeda ontel miliknya. Diikuti anaknya berada di boncengan belakang, saling melambai tangan pada ibunya.

Ontel melaju lambat dan membelah sepanjang jalanan beraspal. Sejuk sekali menghirup sepercik udara pagi yang mondar-mandir. Tangan mungilnya mencengkeram pinggang bapaknya erat-erat karena kayuhan semakin kencang. Menembus rindangnya trembesi yang berguguran tanpa sebab. Menjauh lalu lenyap.

Jalanan pun tampak sepi. Tak ada seseorang yang nongkrong di pos ronda, warung sayur, warkop, dan taman. Semuanya seperti sihir yang menyulap manusia tuk hilang, aneh.

Ontel tua masih terkayuh pelan…

Semakin menuju alun-alun, orang-orang bergerombol riuh tidak tertahan. Sejenak anaknya mengalihkan pandangan kearah jajaran pohon yang dipenuhi manusia. Lalu anaknya bertanya.

“pak! Apa yang dilakukan mereka? Mengambil buah? Apakah hari ini panen besar di kota?” anaknya terheran

“bukan nak! Lihatlah yang dibawa, bukanlah mangga atau sejenisnya. Tapi sekarung daun hijau nan segar sebagai oleh-oleh di rumah masing-masing.” Tertawa dan senyum simpul mewarnai kayuhan sepeda yang terseok-seok. Kala itu, anaknya dirundung keanehan yang lebih-lebih.

Roda ontel menggilas aspal, jalanan merambah macet di pusat kota. Hingga sampailah menepi di bangku panjang alun-alun. Tempat itu nyaman dari kerumunan. Tak terlalu senyap. Namun, dedaunan berserakan kotor tepat dibawah kakinya.

“kenapa tak ada petugas kebersihan?”

“nanti juga akan bersih sendiri, lihat saja kemudian..”

Bapaknya tersenyum kembali. Anaknya pun duduk termenung menyaksikan manusia merebutkan sebatang pohon. . Gugur sendiri tanpa alasan dari alam.

“pak! Apakah mereka para penyembah pohon?”

“bisa jadi, tapi bukan itu tujuannya.”

Sesekali memandangi pedagang menjajakan jajanan ala kota yang berkeliaran di sekitar alun-alun. Melihat dedaunan gugur, pedagang pun turut senang. Hufft… mereka akhirnya ikut memungut juga.

“kamu pengen eskrim? Barangkali kamu ingin manjain lidah nak.”

“pengen… itu kesukaanku!”

“coba saja ambil daun itu, jangan ambil yang kuning tapi hijau saja.”

Diambilnya daun hijau kemudian anaknya melesat menuju tukang eskrim. Dikasihnya eskrim jumbo coklat bertabur saus vanilla. Anaknya takjub dan berbalik.

“enak pak! Kenapa bisa bayar pakai daun sedangkan mereka dapat memungut sendiri?”

“apakah tidak boleh berbagi kebahagiaan kepada sesama? Menurutnya kerja bukanlah prioritas utama! Tapi ingat, bahagia itu penting.” Ujar bapaknya “bahagia kala kamu menikmati eskrimnya..” tertawa kecil ayahnya diikuti sumringah anaknya. Mereka tertawa bersamaan.

***

Siang makin memuncak dan panas menyengat tubuh. Mereka bergegas pulang dengan cepat. Lain sisi, dedaunan dijarah habis-habisan sampailah bersisa ranting. Terlihat gersang dan hanya atap langitlah sebagai teduhan. Pohon tak dapat berbuat apa-apa, gundul bukan semestinya. Tiada hijau, kuning pun jadi. Alun-alun seketika bersih dari sudut ke sudut. Dipungut sampai ke akar.

Untung, jalanan masih lenggang sedari pagi mengantar.

Sesampainya depan teras rumah, pepohonan milik bapaknya kini tinggal rantingnya saja, Yang rindang kini meradang. Daun hijau mulai diburu oleh tangan jahil manusia karena nilainya mulia. Apa karena bapaknya tidak bertengger di teras sehingga orang-orang mencuri sepuasnya?

Bapaknya geram lalu memaki sumpah serapah pada pencuri yang tak tahu diri. Terkadang doa buruk bapaknya terkabul dibalik sosok ilmuwannya. Anaknya begitu takut melihat kemarahan akbar bapaknya. Lantas, anak pun terbirit-birit masuk rumah.

“semuanya gersang kerontang! Tidak ada kupu-kupu yang langganan kemari. Bunga kamboja layu sekembang-kembangnya! Bukanlah taman lagi namanya melainkan teras Jahannam! Lihatlah matahari mengganas dan menyorongkan sinarnya lebih tajam. Apa mereka tidak takut?! Hah!” amukan bapak memberisiki tengah siang bolong. Amarah tanpa amnesti melebihi ricuh anaknya tadi pagi.

Amarah tetap berlanjut…

***

Pagi itu, entah berapa lusa kedepan….

Koran harian dibuka lebar dan dibaca perlahan. Hampir seluruh topik berisikan kericuhan banjir menenggelamkan kota. Harta benda mereka hanyut ditelan ganasnya banjir. Bapaknya sempat tertawa sendiri.

“kebahagiaan pasti ada batasannya! Asal petik daun seenaknya tanpa menghiraukan alam. Memangnya alam bahagia juga?! Lihatlah alam menangis sampai banjir segala! Gara-gara ekonomi daun, tamanku jadi korbannya! Sedikit lagi pasti banjir mendekat!” monolog pun berakhir tragis. Kala itu, tangisan alam belum kelar.

Muhammad Ammar Fauzi’s (Amrojayy) author of article.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

WhatsApp WhatsApp Me